Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Gemoy


__ADS_3

Selama satu Minggu ini, Daru harus ekstra membagi waktu nya. Sesuai keinginan sang calon mertua dan demi masa depan percintaan nya. Daru rela membatalkan janji temu dengan beberapa klien, yang sudah di schedule sedemikian rupa demi bisa mendapat kan restu Keenan. kini kesepakatan tersebut sudah berakhir, bukan hanya Daru yang lega. Keenan pun demikian. Pasal nya, pria itu paling tidak suka makan makanan yang bukan di buat oleh istri nya. Dan selama satu minggu ini, Keenan sangat tersiksa.


"Apa kah aku sudah boleh menemui Imah nanti malam?" tanya Daru to the poin. Sejak tadi kedua pria itu terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.


Keenan mendelik mendengar pertanyaan Daru, di beri sedikit kesempatan pria itu langsung ingin memanfaatkan nya segera.


"Tidak! tidak malam ini dan tidak untuk beberapa bulan ke depan. Imah akan mengikuti ujian semester. Dia butuh konsentrasi, kehadiran mu hanya akan mengganggu fokus belajar nya saja." Ketus Keenan tak enak di dengar, Daru hanya bisa menghela nafas berat.


"Baiklah..." sahut Daru lesu. Tadi nya dia akan reservasi tempat di sebuah restoran untuk mengajak Imah makan malam romantis, sekaligus ingin melamar gadis itu secara langsung. Kini harapan nya pupus seketika, oleh kalimat bon cabe sang calon mertua.


"Jangan cemen begitu, hanya dua bulan lagi. Lagi pula kau masih bisa melihat nya dari jauh seperti biasa nya. Kau kan hobi menguntit.." celoteh Keenan enteng. Daru melotot mendengar kalimat yang seperti busur panah, menusuk tepat di saraf nya. Benar-benar melumpuh kan harga diri seorang Daru.


"Ck! aku tidak begitu." Sanggah Daru protes, "aku hanya ingin memastikan Imah baik-baik saja..." lanjut Daru mengelak. Namun gelagat nya terlihat salah tingkah.


Keenan mencibir mendengar kalimat sanggahan dari mulut Daru, dia bahkan mengetahui siapa saja yang Daru bayar untuk mengintili putri sulung nya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Ini mau di bawa semua dek?" tanya Imah yang tengah membantu sang adik merapikan nawaan nya. Eiden akan mengikuti persami (perkemahan Sabtu minggu) dari sekolah yang di adakan di puncak.


Eiden terlihat berpikir sejenak, kemudian menghitung ulang barang bawaan nya. Barangkali saja ada yang masih kurang.

__ADS_1


"Udah deh kak. Gini aja, cemilan nya tidak usah banyak-banyak. Sweater sama kaos kaki aku udah kakak tarok belum?" tanya Eiden menilik isi ransel nya.


"Udah, semua udah kakak tarok di dalam. Kalo udah semua kita turun yuk, mang Ujang udah nunggu dari tadi di bawah." Ajak Imah menggandeng lengan sang adik. Kedua nya turun ke lantai bawah langsung di sambut oleh wajah merengut Elsye.


"Lama banget sih, kaya anak perempuan saja." Ketus Elsye jengkel. Diri nya bahkan sudah bersiap sejak setengah jam yang lalu.


"Ya bawel... mi, kak, aku berangkat dulu ya." Pamit Eiden mencium pipi kedua wanita kesayangan nya itu bergantian. "Cake nya udah dalam sini, kan?" Eiden mengangkat kotak bekal yang berisi cake buatan sang ibu, Arumi hanya mengangguk membenarkan. Setelah kedua anak nya berangkat bersama Ujang untuk di antar ke sekolah. Karena dari sekolah mereka akan berangkat menggunakan bus pariwisata bersama murid yang lain juga para guru.


"Abi ada telpon teteh?" ujar Arumi memecahkan keheningan, Imah masih melihat ke arah gerbang. Sontak membuat gadis itu menoleh.


Gelengan kecil imah membuat Arumi menghela nafas panjang, suami nya benar-benar tak habis nya mengerjai Daru.


"Tumben? sudah berapa hari ini abi tidak makan siang di rumah. Sibuk banget ya di kantor?" Arumi tersenyum simpul mendengar keheranan sang anak. Ingin sekali Arumi mengatakan jika suami nya tengah sibuk mengerjai seseorang, hingga membuat pria itu tidak sempat makan siang di rumah. Namun dia urung, mengingat mood suami nya yang mudah berubah. Bisa-bisa Daru akan di kerjai nya lagi dengan banyak alasan lain untuk menjauhkan pria malang itu dari putri nya.


"Ya, abi sibuk banget. Di kantor lagi banyak-banyak nya kerjaan." Jelas Arumi singkat. Imah hanya mengangguk paham tanpa bertanya lagi. Kedua nya mulai sibuk berkutat di dapur bersama para art.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang gadis tengah bersitegang mempertahankan tempat duduk nya. Karena memang dia lah yang lebih dulu sampai, dan mengambil posisi duduk di kursi tersebut.


"Ini kursi ku, enak saja! makanya kalau mau dapat kursi yang nyaman datang nya lebih awal, jadi bisa milih mau duduk di mana. Jangan asal serobot aja kaya gini." Ucap Sonia lantang, kemudian menggeser tas ransel milik Luna hingga terjun bebas ke lantai bus.

__ADS_1


"Rin, duduk di sebelah sini. Ayo, jangan sungkan-sungkan, bus ini milik umum. Jadi siapa cepat dia yang dapat." Ujar Sonia tersenyum miring, Luna jika Sonia tengah menyindir nya.


"Awas aja, akan aku balas kau nanti!" hardik Luna kesal juga malu, selama ini tak ada yang berani menentang nya. Semua keinginan nya selalu terpenuhi, itu lah yang membuat nya semakin manja dan terkadang suka memerintah seenak nya.


"Uuuu...aku tak takut tuuh!" ledek Sonia melambai kan jari lentik nya ke arah Luna dengan gaya menjengkelkan. Luna bergegas pergi sebelum emosi nya semakin tidak terkendali.


Sementara Eiden hanya melihat saja dari kursi nya, ada rasa kagum terhadap Sonia. Keberanian gadis itu dalam mempertahankan milik nya, patut di acungi jempol. Sudut bibir nya terangkat tanpa dia sadari. Anak baru yang sudah berani menginjak kaki nya berkali-kali, rupa nya mulai menarik perhatian Eiden.


Sonia si gemoy nampak sangat menggemaskan di mata Eiden.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang wanita tengah menatap hasil laporan keuangan rumah sakit milik keluarga nya. Tatapan mata tajam nya membuat siapa saja sesak nafas. Suasana hening di ruang rapat tersebut layak nya area pemakaman. Sunyi, bahkan suara deru nafas pun hampir tak terdengar. Semua orang seolah sedang berhati-hati dalam menghirup udara kehidupan agar tak mengganggu konsentrasi sang ibu direktur.


"Pak Bayu?"


"Ya bu direktur.." ucap Bayu sambil menyeka keringat dingin yang kini mengalir deras di kening nya. Wajah nya terlihat pucat seperti orang terserang anemia parah.


"Tolong jelas kan, untuk apa saja dana ini di pergunakan, untuk kebutuhan medis apa saja hingga mampu menggelontorkan dana dalam jumlah yang tidak sedikit ini. Karena aku tidak melihat ada nya tambahan pembangunan gedung baru, juga tambahan alat-alat medis di rumah sakit ini." Wajah Bayu langsung pucat pasi, sapu tangan nya pun nyaris seperti kain pel. Basah oleh karena keringat nya yang semakin mengucur deras.


"Be_begini bu direktur... laporan yang sudah saya rekapitulasi, adalah benar ada nya. Anda bisa bertanya pada Indah dari divisi keuangan, dia lah yang memberikan saya hasil laporan tersebut dan saya hanya menindaklanjuti

__ADS_1


__ADS_2