Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Menyelidiki


__ADS_3

"Ya bun, ada apa?"


"......................."


"Baik bun, aku makan siang di rumah.Aku pulang sekarang. Dah bunda." Keenan mengakhiri panggilan dari sang ibu.


Keenan menekan tombol intercom di atas meja nya. "Nin, ke ruangan aku sekarang." Selalu Sesingkat itu, tanpa basa basi


klek


"Ada apa pak?" Tanya Nina sopan.


"Aku gak balik setelah makan siang, apa ada yang harus aku tanda tangani. Berikan padaku sekarang." Suara datar itu selalu membuat Nina merinding. Mereka saling mengenal sejak kecil, namum tak membuatnya terbiasa dengan sikap dingin bos nya tersebut.


"Tidak ada lagi pak, semua sudah di tanda tangani tadi pagi,. Oya, jam 3 sore ini anda ada pertemuan dengan klien di restoran kumala. Apa perlu saya reschedule ulang." Nina bertanya dengan hati-hati, sebulan lebih bekerja di bawah kepemimpinan keenan, membuat nya sedikit banyak mengerti cara kerja pria itu.


Tidak suka basa-basi, harus cepat dan tepat. Tidak ada toleransi untuk kesalahan sekecil apapun. Urat tengkuk Nina pun, tidak pernah santai sejak pria itu mengambil alih kepemimpinan perusahaan. Dia jadi sering mengeluh pada sang kekasih juga kedua orang tuanya. Bekerja dengan keenan benar-benar merubah seluruh hidup Nina. Dari wanita mandiri, menjadi seorang gadis yang suka mengadu dan merengek ingin pindah ke bagian lain. Keenan terlalu horor untuk dia hadapi.


"Dengan?" Keenan balik bertanya.


"PT. Kencana loka. Bersama Nona Arzita, perwakilan dari perusahaan tersebut." Jawab Nina semakin tegang, pasalnya, wanita itu juga yang pernah Keenan bentak dua minggu lalu di sebuah pesta salah satu kolega perusahaan mereka. Hanya karena wanita itu trus memaksa Keenan untuk berdansa dengannya.


"Suruh Candra yang mewakili ku. Katakan aku sedang ada keperluan lain di luar kota. Ya sudah, itu saja. Kau boleh keluar."


"Baik pak, saya permisi." Jika saja dia punya ilmu teleportasi, maka akan dia gunakan sekarang untuk menghilangkan diri dari hadapan Keenan.

__ADS_1


Langkah lebar Nina yang terburu-buru, membuat nya tak sengaja menabrak daun pintu yang tiba-tiba di dorong keras dari luar. Wanita itu hanya meringis pelan tanpa berani protes apa lagi marah. Saat tau, siapa yang membuat kening dan hidung mini nya mencium pintu keras itu.


"Kau kenapa bisa nabrak pintu segede ini, kurang besar apa gimana?" Sungguh ingin sekali Nina menonjok mulut pria itu, dengan tanpa rasa bersalah sudah membuat keningnya benjol seperti bisul mau pecah.


"Gak liat pak, saya kira pintu nya masih jauh hehee." Nina nyengir kuda. Cukup balas dengan senyuman, mengalah lebih baik, begitu lah pikirnya.


"Ya sudah, kau bisa keluar sekarang. Itu keningmu di kompres, gak enak banget dilihatnya." Ujar pria itu dengan suara datar, tanpa ada sedikit pun rasa empati.


'Tidak enak di lihat katanya. Mhuh, yang buat aku benjol juga siapa, dasar gak punya hati nur'aini. Dasar kenebo kaku' Nina trus menggerutu dalam hati nya, sambil melewati Candra yang sedang berdiri di ambang pintu.


"Kau kalau mau ngumpatin ku jangan dalam hati, bisa keselek liurmu ntar." Ucapan Candra sungguh seperti kutukan ajaib. Nina benar benar tersedak saliva nya sendiri.


Kuhukk kuhhukk


"Bapak asisten apa-apaan, mana saya gitu. Gak baik nuduh sembarangan, bisa jomblo seumur hidup tar." Ujar Nina kesal lalu berlalu dari hadapan Candra membawa hati kesal sempurna.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bunda kira kamu gak pulang tadi" Ujar Sarah sambil mengisi piring Keenan, pria itu terlambat sampai. Keluarga nya sudah lebih dulu duduk makan dan akan mulai menyantap makanan nya masing-masing.


"Aku abis ngasih arahan sama Candra soal pertemuan nanti sore. Keenan gak balik ke kantor, ada sedikit urusan di luar yang gak bisa di tunda." Balas Keenan menjelaskan alasan keterlambatan nya pulang.


"Urusan apa sampe gak bisa ikut pertemuan dengan klien?" Suara bariton sang ayah membuat suapan keenan terhenti.


"Hanya urusan pribadi yah, bukan masalah besar." Keenan menjawab tanpa berani melihat pada Ayah nya. Dian tidak pandai berbohong, akan sangat tela, jika sampai sang ayah melihat perubahan di wajahnya.

__ADS_1


"Lain kali jangan limpahkan pekerjaan mu pada orang lain, walau pun dia asisten mu sendiri. Loyalitas para klien tergantung bagaimana cara kita menghargai kerja sama mereka." Mendengar nasihat sang ayah membuat hati Keenan merasa bersalah.


"Baik yah, maaf. Lain kali tidak lagi." Hanya untuk kali ini saja pikir nya.


"Ya sudah, makan yang banyak. Para kesayangan bunda harus selalu sehat. Kira tambah sayang, itu lauknya udah tinggal dikit." Sarah menyela obrolan singkat kedua pria kesayangan nya itu. dia ingin menikmati makan yang tenang tanpa ketegangan kedua pria dingin dan datar itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Kau yakin ini rumah nya?" Tanya keenan dengan suara datar.


"Benar tuan. Sudah seminggu ini saya mengintai rumah ini serta semua penghuni nya. Wanita itu sama persis seperti yang di foto, dan ada dua anak yang seperti nya kembar. Laki laki dan perempuan, sekitar 3 setengah tahunan." Jelas pria itu yakin


"Tapi tuan.." Pria itu tampak ragu untuk menyampaikan informasi lain yang pasti akan menyulut emosi bos nya itu.


"Apa? Katakan dengan jelas. Aku tidak suka basa-basi." Suara datar itu membuat nya semakin takut, Sayang nya dia tidak punya pilihan lain sekarang.


"Di rumah itu juga ada seorang pria, meski tidak tinggal di sana. Namun hampir setiap hari selama satu minggu ini, pria itu datang ke sana. Pagi menjemput anak-anak, siang mengantar pulang sekolah. Selalu seperti itu, ada beberapa kali pria itu datang di malam hari membawa bunga dan makanan." Ganar menelan ludah nya susah payah, setelah selesai mengucapkan kalimat penuh aura mistis tersebut.


Keenan mengepal kan kedua tangannya, rahangnya mengeras. Dia tidak rela jika kedua anaknya lebih memilih pria itu sebagai ayah mereka. Walau dia tau, bahwa dirinya egois. Biarlah, asal Arumi serta anak-anak nya bisa dia bawa kembali ke kehidupan nya.


"Baik. Kau boleh pergi. Aku akan masuk, pastikan pria itu tidak kembali lagi ke sini. Dengan cara apapun." Keenan berucap dengan tanpa perasaan.


"Baik bos. Kalau begitu, kami permisi dulu." Kedua orang suruhan Keenan tersebut pergi untuk berjaga di ujung jalan.


Ditatapnya rumah sederhana milik Arumi, hatinya miris. Dirinya bisa hidup dengan baik, dirumah mewah dan makan makanan yang enak-enak.

__ADS_1


TokTokk tokkk...


Klek...


__ADS_2