Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Miris


__ADS_3

"Sita? kau pasti sedang tanggung tadi, lanjutkan saja. Ayo, Daru sayang. Lakukan lah, aku akan sabar menunggu mu selesai. kue ini banyak, aku rasa cukup jika kalian melakukan nya satu sampai dua jam lagi. Oya, sebentar" Alisya bergegas menuju kulkas mini di kamar tersebut, lalu mengambil beberapa minuman dingin, dan tentunya mengandung alkohol.


"Al? jangan lakukan itu," suara Daru bergetar hebat, pria itu menangis melihat bagaimana reaksi sang kekasih. Dengan perlahan Daru berjalan menuju ke arah Alisya yang tengah menuang kan minuman ke dalam gelas nya.


Meski hanya menggunakan handuk kecil yang tidak nyaman, Daru berusaha mencapai arah Alisya. Sesampai nya didepan Alisya, Daru membanting gelas yang sudah terisi penuh itu ke lantai. Lalu meraih tubuh Alisya, wanita itu sama sekali tak menolak. Bukan karena hatinya lemah, namun biarlah itu menjadi pelukan terakhir mereka. Alisya Akan mencoba berdamai dengan hatinya setelah ini.


"Maaf... maafkan kebodohan ku, sayang.." Daru terisak dibahu Alisya, Sita menatap miris kekasih gelap nya. Hatinya sakit melihat kerapuhan Daru yang menyesal atas perselingkuhan mereka.


"Ampun aku... pukul aku, maki aku.. tapi jangan bersikap seolah kau tidak tersakiti seperti ini, hatiku sakit melihat nya..." Dengan sesegukan Daru melerai pelukannya, yang pertama dia lihat adalah tatapan datar tanpa emosi apapun diwajah Alisya.


"Kenapa kau menjatuhkan gelas minuman ku, Daru? jangan pelit padaku, aku janji, ini yang terakhir kalinya aku meminta apapun milikmu." Ujar Alisya memberengut kecewa, dada Daru semakin sesak.


"Ah ya, itu aku bawakan hadiah ulang tahun mu. Pakai baju mu dulu, aku akan menunggu mu di sana." Alisha berbalik tanpa menunggu jawaban dari Daru yang masih mematung.


Daru baru saja selesai memakai pakaian nya, sementara Sita terjebak di atas kasur tanpa bisa berbuat apa-apa. Pakaian nya berada diluar kamar, dan Daru seolah tidak melihat kesengsaraan nya saat ini.


"Duduk sini" Alisya menepuk sisi sofa disampingnya, Daru mendekat dan duduk persis di samping kekasih nya dengan perasaan tak menentu.


"Maaf, aku makan kue mu. Ini aku buatkan yang baru. Mau aku suapi tidak?" Mata Daru Kembali mengembun, kepalanya mengangguk pelan. Alisya segera menyuapi kekasihnya.


"Enak tidak? aku memesan nya di tempat biasa. Spesial untuk yang tersayang." Alisya terkekeh geli mendengar kalimat yang dia ucapkan.


"Ini kadomu, aku harap kau menyukai nya. Simpan baik-baik, jika kau sudah bosan. Jangan di buang, jual kembali, berikan uangnya pada orang yang membutuhkan. Asal kau tidak memberikan nya pada selingkuhanmu, aku tidak akan marah." Ekor mata Alisya melirik Sita yang terlihat geram mendengar kalimat nya.


"Astagaa! aku lupa ada janji lain. Makanlah kue nya jika kau suka, jika tidak, berikan pada pak Silo di bawah." Alisya mengambil tasnya lalu mengeluarkan sesuatu dari sana. Sebuah kotak kecil berwarna hitam.

__ADS_1


"Ini, aku titip lagi padamu." Alisya tersenyum manis, bahkan sangat manis yang pernah Daru lihat. "Berikan pada wanita yang cocok untuk mu. Aku mundur" Alisya meletakkan kotak tersebut di telapak tangan besar Daru dan bergegas keluar dari sana. Dia ingin berteriak dan menangis sekeras-kerasnya.


Daru terkesiap dan sadar jika Alisya sudah tidak ada di hadapannya, dengan hati yang di liputi kekalutan. Daru meraih kunci mobilnya meninggalkan Sita yang terus berteriak memanggil namanya.


"Damn it!" Daru terus mengumpat sepanjang jalan, tadi dia pikir sempat menemukan sang kekasih di parkiran. Nyatanya Alisya pergi dengan menggunakan taksi. Mobilnya masih terparkir rapi di basement apartemen nya. Ponsel wanita itu pun tidak bisa di hubungi sama sekali.


drrrttt drrrttt drrrttt


Ponsel Daru bergetar, namun sayang, bukan panggilan dari sang kekasih, melainkan dadi Sita.


"Berhentilah menghubungi ku, Sita! Hubungan kita hanya sebatas ranjang, dan kau tau itu!" Daru memutuskan sambungan telpon nya tanpa peduli umpatan Sita padanya.


Sementara di tempat lain, seorang wanita tengah berteriak untuk melampiaskan rasa marah, benci juga jijik. Pada pria yang sudah memporak porandakan keutuhan hatinya, kesetiaan nya juga ketulusan nya selama ini.


"Aku membencimu hingga melihat bayangan mu pun aku tak sudi!" Alisya kelelahan akibat terlalu banyak berteriak, sopir taksi hanya menyaksikan apa yang dilakukan oleh penumpang nya. Dia di bayar untuk berkendara tanpa arah dengan jumlah yang cukup fantastis. Sekarang dia paham, jika wanita itu sedang patah hati. Ditatapnya segepok uang di dasbor mobilnya, dia berniat mengembalikan dan mengambil secukupnya saja.


"Pak?" suara Alisya membuyar lamunan sang sopir.


"Ya, mbak.? mau pulang sekarang apa keliling dulu? nyari angin di daerah sana lebih segar" seloroh sang sopir dengan wajah serius. Alisya terkekeh lucu melihat ekspresi sang sopir.


"Tidak pak, aku mau pulang saja. Tapi tolong antar aku ke hotel terdekat, jiwa ragaku butuh istirahat total malam ini." Balas Alisya sambil merapikan duduknya agar lebih nyaman untuk bersandar. Sang sopir hanya mengangguk mantap, tanpa bertanya apapun lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Krektek

__ADS_1


Alisya menelisik ke arah pepohonan, di mana suara ranting patah itu terdengar.


"Jika kau setan, maka pulang lah dulu. Tidur siang baik untuk mu, agar nanti malam kau bisa bergentayangan tanpa harus menahan kantuk. Dan jika kau manusia, ku sarankan keluarlah dari sana. Tepat di tempat mu itu, baru saja di pasangi ranjau darat. Sayang sekali, sudah pergi sejauh ini untuk berlibur, pulang-pulang hanya berupa potongan tubuh yang tidak utuh." Alisya beranjak dari duduknya, lalu kembali berjalan.


Suara langkah kaki mulai mendekati nya, langkah yang terdengar ketakutan. Alisya mengatup mulutnya menahan tawa.


"Bisakah kau tidak melontarkan kalimat-kalimat mengerikan seperti tadi." Sungut Mike kesal. Tidak taukah wanita itu, jika dirinya harus bertaruh dengan sisa keberanian nya, untuk menyusul ke sana susah payah.


Alisya terkekeh pelan, deru nafasnya mulai tak teratur. Perjalanan mereka sedikit mendaki.


"Aku tau itu kau, kenapa menyusul ku? Kau bahkan tidak pakai mandi, dasar pria mengerikan. Pantas saja kau jomblo akut, wanita akan langsung kejang-kejang saat kau dekati dengan tubuh berkeringat." Mike mencebik kesal, dia sewangi itu setelah mengorbankan hampir setengah botol parfum mahalnya.


"Aku jomblo karena pilihan ku sendiri, tidak ada hubungan nya dengan bau badan. Sembarangan saja! lalu bagaimana dengan mu?" Alisya berhenti sejenak kemudian menatap ke arsh Mike, membuat pria itu salah tingkah. Seperti nya dia salah memberikan pertanyaan.


"Sudah, lupakan saja. Ayo ajak aku berkeliling, aku akan memasak selama kita berlibur di sini. mencuci bajumu, juga memandikan mu jika kau menginginkan nya." Seloroh Mike mengerling kan matanya jahil.


"Ck! kau itu modus." Alisya berjalan di depan Mike dengsn wajah memerah. Dia tidak ingin Mike melihat nya.


"Aku bercanda, tapi jika kau mau, aku juga tidak keberatan." Ucap Mike masih menjahili Alisya.


"Diamlah, Mike!" seru Alisya kesal, sementara Mike semakin gencar menggoda nya. "Apa kau belum pernah berkenalan langsung dengan singa? aku bisa mengenal kan mu secara suka rela, jika kau terus menggoda ku." Ujar Alisya kesal.


"Baiklah, baiklah! maafkan aku, ayo! ajak aku berkeliling, arah ini menuju pantai, bukan?" tanya Mike mulai serius.


"Benar, sekali pendakian lagi. Kita akan sampai, jangan menyusahkan ku nanti." Mike mendelik mendengar ucapan menyebalkan Alisya. Mike mensejahterakan langkah mereka, agar bisa berjalan berdampingan dengan Alisya.

__ADS_1


Mike merasa perlu mengucapkan banyak terimakasih, pada suami istri yang sudah merancang liburan nya hingga sedemikian rupa. Sesekali dia melirik wanita di sebelah nya dengan hati yang semakin berbunga-bunga.


__ADS_2