
"Padahal aku masih sangat merindukan mu.." ujar Daru sedikit merajuk. Dan terlihat begitu lucu di mata Imah.
"Masih ada lain waktu.." ucap Imah menghibur.
"Kau benar, besok pagi aku akan menjemputmu di depan kampus. Aku akan menunggu mu di sana lebih dulu agar tidak memakan banyak waktu." Daru mulai beride. Nampak nya pria itu sangat bersemangat.
"Ya sudah, atur saja. Aku turun dulu, sampai jumpa besok." Saat akan membuka handle mobil Daru menarik lengan Imah pelan.
"Pamit yang benar, salim dulu.." titah Daru mengarahkan punggung tangan nya. Imah sejenak tertegun, namun segera meraih nya lalu mencium takzim.
"Berasa kaya suami istri ya...aku jadi tidak sabar menunggu mu selesai ujian semester. Aku ingin melamar mu, kalau bisa langsung menikah saja." Celoteh Daru penuh harap, tangan nya mengelus pucuk kepala kekasih nya dengan sayang. Pipi Imah merona mendengar kalimat yang di lontarkan Daru tanpa jeda.
"Abi tidak akan mengijinkan.." sahut Imah cepat. Daru langsung menekuk wajah nya kesal. Kesal pada calon mertua laknat nya.
"Aku turun ya, dari tadi pamit tidak kelar-kelar perasaan." Kekeh Imah lucu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Daru melajukan mobil nya dengan hati riang dan gembira, tujuan nya adalah rumah Mike. Dia ingin berbagi kisah kebahagiaan yang baru saja mulai dia rajut bersama Imah.
Tok tok tok
Daru mulai tak sabar, saat buku jari nya sudah terlihat memerah karena terus mengetuk pintu tanpa jeda.
"Ck! kemana sih ni orang..." kesal Daru menendang pelan pintu bagian bawah dengan ujung sepatu nya.
klek
Terlihat Alisya berdiri di muka pintu sambil memegang spatula.
"Bisa tidak kalau mengetuk pintu kaki nya tidak usah ikut andil?" Daru tersenyum laknat pada mantan kekasih nya itu. Lalu melewati tubuh Alisya begitu saja, membuat wanita itu kesal bukan main.
"Apa kau tidak punya pekerjaan..."
"Punya." Balas Daru cepat. "Aku baru saja pulang mengantar kekasih ku, kami baru habis berkencan." Lanjut Daru pongah.
__ADS_1
Alisya menghentikan aktivitas mengaduk tumis kangkung nya kemudian mematikan kompor. Wanita hamil muda itu mengambil kursi persis di di seberang meja dimana Daru duduk. Membuat Daru terheran-heran, wajah Alisya nampak seperti wartawan koran gosip yang tengah memburu berita penting. Tatapan menyelidik dan penuh rasa ingin tau yang terlihat jelas.
"Siapa?" tanya wanita itu kepo maksimal.
"Siapa apa nya?" balas Daru mengerut kan dahinya semakin heran.
"Hiisshhh...siapa wanita malang yang kini menjadi kekasih mu itu..." ingin sekali Daru menyumpal mulut lemes mantan kekasih nya itu menggunakan cabai satu kilo.
"Enak saja! Tentu saja kekasih ku sangat beruntung memiliki kekasih tampan seperti ku." Dengus Daru tak terima.
"Apa kau mengancam nya atau bagaimana? aku jadi kasihan padanya, kau pasti mengancam nya bukan?" tuduhan bertubi Alisya kembali membuat ubun-ubun Daru berasap tebal.
"Suami mu mana? apa dia masih di rumah sakit?" Daru segera mengalihkan topik pembicaraan mereka. Bisa-bisa dia terserang tekanan darah tinggi jika terus membahas soal hubungan baru nya.
"Ck! jangan mengalihkan pembahasan. Ayo, katakan padaku, siapa wanita bodoh itu? Mau-mau saja jadi kekasih mu, aku saja menyesal. Entah apa yang menarik dari mu dulu, sampai aku mau saja menjadi wanita bodoh pertama itu." Astaga! mulut wanita itu semakin membuat Daru sesak nafas.
"Daru? kapan datang..?" Daru menghela nafas lega. Juru selamat nya sudah tiba.
"Baru saja, dan aku aku langsung di berondong pertanyaan tak berakhlak dari istri tercinta mu ini." Adu Daru melirik sekilas pada wanita yang kini terlihat tengah sibuk menata meja makan. Seolah tak mendengar apa yang sedang Daru adukan kepada sang suami.
"Memang nya apa yang istri ku tanyakan sampai wajah mu terlihat seperti benang kusut?" tanya Mike penasaran. Pria itu terlihat baru saja habis mandi.
"Entahlah, tidak jelas. Sudah, jangan di bahas lagi." Elak Daru tak ingin memperburuk mood nya.
"Kau tau sayang, Daru baru saja mengancam seorang wanita untuk menjadi kekasih nya. Malang sekali nasib wanita itu..." Adu Alisya terlihat bersimpati pada gadis yang menjadi kekasih Daru.
Sontak saja membuat Mike tertawa lepas. Sementara Daru mendelik kesal pada mantan terindah nya, yang kini terlihat sangat menyebalkan setelah menjadi milik orang.
"Kau beri makan apa dia, sehingga mulut nya jadi sangat rajin mengoceh sekarang..." tanya Daru kesal.
Mike menghentikan tawa nya lalu menatap iba pada pria malang itu. Istri nya semenjak hamil menjadi sangat cerewet dan juga berisik. Namun perubahan tersebut justru membuat Mike senang. Alisya yang datar dan tenang, kini berubah menjadi Alisya yang rame dan kepo.
"Memang nya siapa yang kau pacari?" tanya Mike ikut penasaran.
"Imah"
__ADS_1
Klontang!
Suara sendok jatuh membuat Mike dan Daru terkejut bukan main. Alisya mematung di tempatnya menatap Daru dengan tatapan tak terbaca.
"Coba kau ulangi lagi, siapa tadi nama kekasih mu?" desak Alisya tak sabar.
"Imah. Memang nya kenapa? jangan bilang kau cemburu pada Imah. Hei, sadarlah kau itu sudah menikah." Alisya melirik mangkuk kaca kecil berisi sambel matah kesukaan nya. Jika saja dia tidak malas untuk membuat nya lagi, maka akan dengan suka rela dia tumpah kan ke atas kepala Daru.
Daru dan Mike mengikuti arah tatapan Alisya, Daru meneguk ludah nya susah payah. Sedangkan Mike tersenyum laknat melihat ketakutan di wajah Daru.
"Sayang, jangan sia-sia kan sambal kesukaan mu untuk di siram kan pada pria ini." Sela Mike menengahi situasi.
"Jadi katakan, Imah mana yang kau maksud?" uang Alisya semakin kesal.
"Imah keponakan mu, puas!" ketus Daru melengos ke sembarang arah. Kini giliran Alisya yang tertawa keras. Tubuh nya sampai berguncang hebat akibat mentertawai mantan kekasih nya itu.
"Astaga! perut ku sampe sakit," wanita laknat itu mengusap sudut mata nya, mata nya sampai berair akibat terlalu mendalami peran nya.
Daru mendengus mendengar perkataan Alisya.
"Memang nya apa yang lucu? dasar suami istri tidak jelas." Kesal Daru karena merasa tak ada yang lucu sehingga harus di tertawaan sedemikian rupa.
"Lucu! lucu banget. Imah pasti di sangka sedang berjalan bersama ayah nya jika kalian pergi berkencan. Ya ampun, kasihan sekali keponakan ku yang malang. Cantik-cantik dapat kekasih seusia bapak nya. Karma mu Keenan." Ujar Alisya tampak meratapi nasib sang keponakan dengan iba.
"Tapi tampang ku tidak seboros Keenan, ya..!" Balas Daru tak terima, secara tak langsung Alisya mengatai nya tua.
"Keenan wajar wajah nya boros, lah dia masih remaja anak nya udah dua. Lah, kalau kau? terlalu banyak tebar pesona, lihat kerutan di sudut mata mu ini. Jika kau kau hendak mencium keponakan ku, pastikan mata nya dalam keadaan tertutup. Aku khawatir Imah akan langsung terbirit-birit karena merasa akan di cium oleh om-om mesum." Tawa Alisya kembali pecah. Seperti nya membully Daru adalah hal baru yang paling menyenangkan bagi nya sekarang.
"Apa kau tidak berniat untuk menegur istri mu?" tukas Daru menatap sengit ke arah Alisya. Mike hanya terkekeh pelan, tanpa menggubris apa yang di katakan oleh Daru dan tak berniat sedikit pun untuk menegur sang istri.
"Apa masakan sudah siap sayang?" alih Mike meredam suasana. Wajah Daru sudah berlipat seperti kertas dan sungguh tak sedap di pandang.
"Sudah sayang. Apa dia akan ikut makan malam di rumah kita?" tanya Alisya mengisyaratkan menggunakan dagu nya.
"Kau bisa langsung bertanya padaku, kenapa seolah aku tak mendengar perkataan mu.." cebik Daru dongkol.
__ADS_1
"Baik lah, ayo kita makan aku sudah sangat lapar.." ajak Mike tak ingin memperpanjang perdebatan.