Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Sedikit Pelajaran


__ADS_3

Waktu berjalan begitu cepat, Lina tahun sudah setelah kelahiran anak pertama dadu dan Imah. Mereka akhirnya menetap di rumah besar milik sang kakek. Tinggal bersama Keenan dan Arumi, serta dua adik ipar Daru yang kini sudah berkuliah. Sesekali mereka menginap di rumah mereka sendiri, hanya jika butuh quality time saja untuk berdua tanpa gangguan para bocil.


Imah sendiri baru menjalani masa Koas nya di rumah sakit milik keluarga nya. Wanita itu di karuniai 4 orang anak kurun waktu lima tahun terakhir. Rupa nya Daru benar-benar mengejar target, mengingat usia nya kini sudah hampir kepala empat. Ada perasaan was-was di hati nya, mengingat sang istri yang masih sangat muda dan semakin cantik.


"Mamaaa..!" Imah menggeleng kan kepalanya, putri nya yang berusia genap lima tahun bulan lalu. Adalah anak paling ceriwis di antara saudara nya.


"Ma..liat bandana hello Kitty aku tidak? yang warna biru muda, trus ada bintik bintik putih nya gitu di pita nya." Mulut lanteh sang anak sungguh luar biasa. Lulu, panggilan gadis kecil tersebut memiliki lidah yang sangat lincah. Usia nya yang ke empat tahun, Lulu sudah fasih mengatakan huruf R.


"Udah nanya papa?" Imah balik bertanya.


"Sudah. Kata nya nanya mama.." Mulut si anak mulai mengerucut, arti nya Imah harus turun tangan sendiri. Terlihat Daru tengah mengintip dari balik tangga. Pria itu mengusap dada merasa lega, sebelum akhirnya tersentak kaget saat merasakan tepukan panas di pundak nya.


"Ngapain ngumpet segala? Kabur dari Lulu?" cecar Keenan menatap tajam menantu laknat nya. Daru hanya cengengesan tak jelas kemudian kabur menuju lantai atas.


"Dasar menantu kurang garem. Awas aja kalo bikin cucuku menangis lagi, alamat talak tilu melayang." Gerutu Keenan kesal. Daru selalu kabur jika sudah tak mampu lagi menghadapi situasi sang anak.


"Kenapa bi, kok ngedumel tidak jelas..." tanya Arumi heran. Tangan nya sibuk menata meja makan, sesekali menoleh pada sang suami yang baru saja menjatuhkan bokong nya di kursi.


"Tuh! menanti umi...kaya nya ada buat Lulu kesal, ngumpet tadi di bawah tangga. Kan abi kesal jadi nya, Imah jadi double repot gara-gara si tua itu." Ucap Keenan tak sadar. Usia mereka hampir sama, hanya terpaut bulan saja.


"Biarin lah bi, seni nya keluarga cemara ya gitu. Ada senang, ada lucu ada kesel nya..." sahut Arumi bijak. Bibir nya mengulum senyum geli melihat sang suami yang selalu menjadi pawang sang cucu tercinta.


"Sup nya udah mi, tadi aku belum sempat naruh di mangkuk..." Imah yang baru turun mengurus si princess keluarga Keenan.


"Gimana tidak repot, punya suami cuma bisa nambahin kerjaan istri." Cibir Keenan melirik sekilas ke arah kursi Daru. Daru yang sudah kebal hanya melengos pura-pura tak mendengar. Sementara kedua wanita waras itu berusaha tetap tenang menghadapi situasi seperti ini setiap hari.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Seorang gadis tengah bersitegang dengan seorang wanita di sudut kantin.


"Ini tuh meja gue! lo aja yang nyelonong gak jelas! Dasar badak!" Sonia mengepalkan tangannya menahan geram.


"Kok aku tidak melihat ada tertulis nama mbak nya di sini? bukan nya kantin ini terbuka untuk umum ya..? apa jangan-jangan..mbak nya yang punya kantin ini terus nyuruh mas ganteng yang di sana itu buat gantiin sementara mbak nya masuk kuliah. Maka nya kursi sama meja ini bisa jadi milik mbak, kan secara mbak nya yang penjual di kantin ini." Sonia berbicara dengan nada meledek.


Wajah lawan adu argumen nya terlihat pias menahan malu.


"Heh!, kalo ngomong jangan asal mangap lo! gue ini anak dekan di kampus ini, jadi otomatis gue punya hak lebih di kampus ini. Termasuk mengklaim apa saja yang ada di lingkungan kampus. Dan lo? mahasiswi baru, jadi jangan belagu dan nyari masalah sama gue. Ngerti lo?!"


"Kalo aku tetap duduk di sini, kau mau apa? menyingkirkan kan ku, begitu? coba saja, atau kedua tangan mu akan ku jadi kan empat bagian." Balas Sonia santai, gadis itu sama sekali tak terpengaruh oleh ancaman recehan tersebut.


"Wah! punya nyali juga nih anak..kaya nya dia belum tau siapa kita..." ujar seorang wanita menimpali, mereka menyeringai ke arah Sonia yang masih asyik melahap mie kuah nya tanpa peduli akan ancaman siapapun.


Hawa dingin menyeruak di atas kepala Sonia. Rupanya ketiga wanita tadi kompak menumpah kan minuman dingin ke atas kepala Sonia. Sontak membuat seisi kantin mentertawakan nya. Sonia meraih kotak tisu yang terbuat dari bahan plastik. Mengambil isi nya untuk mengelap wajah nya yang juga basah kuyup.


"Apa aku sudah memberikan kalian peringatan tadi? aku harap sudah, karena aku tidak ingin ini menjadi salah ku nanti." Sonia tersenyum miring ke arah ketiga wanita di hadapan. Senyum yang terlihat mengerikan di mata ketiga wanita itu.


Grep


tangan si ketua geng tersebut sudah berada dalam genggaman tangan Sonia. Lalu tak lama terdengar suara kretak di sana, wanita itu menjerit keras. Begitu pun kedua teman nya yang terlihat histeris saat melihat lengan teman mereka di patah kan dengan begitu mudah. Seperti memetik tangkai bunga, semudah itu hingga tak ada yang akan menyangka nya.


"Aarrgghhhh!! tolong.. tolongin gue..." ucap nya lemah, mengiba pada dua teman nya juga siapa saja yang berada di sana. Namun semua orang yang tadi mentertawakan Sonia bergeming di tempat masing-masing.

__ADS_1


"Apa ini sakit? ku harap ini terasa sakit, karena jika tidak. Kau tidak akan pernah jera untuk melakukan hal buruk dengan tangan mu ini." Pungkas Sonia kemudian berlalu dari sana, tak lupa membayar makanan nya juga memberikan tips pada penjaga kantin tersebut.


"Astaga, Laura! tolong siapa saja..tolong angkat Laura ke mobil..." teriak teman wanita jahat tersebut, karena sang teman yang sudah terkapar tak sadar kan diri di lantai kotor kantin tersebut.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sesampainya di rumah, Sonia menatap heran pada sang ibu. Yang hari ini begitu berbeda, kenapa wanita cerewet itu duduk di teras tengah hari bolong begini.


"Bagus! setelah membuat kekacauan kau baru ingat pulang sekarang. Seharusnya kau sudah pulang sejak satu jam yang lalu. Masuk!" Titah sang baginda ratu tak terbantahkan. Hawa-hawa tak enak mulai merayap dalam hati Sonia. Namun tetap menuruti tanpa membantah sama sekali.


"Coba jelas kan sama mami, kenapa kau mematah kan lengan teman mu? apa kau mendaftar kuliah di sana untuk menjadi tukang pukul, hah?!" Sonia memutar bola mata malas. Nada suara sang ibu suri sudah naik dua oktaf.


"Pertama, wanita itu bukan teman ku. Kedua, wanita itu beserta kedua antek nya menyiram kepala ku menggunkan air es hingga aku basah kuyup. Ketiga, aku mematah kan lengan nya agar dia tau, jika dia sudah memfungsikan tangan nya untuk kegiatan yang tidak baik. Kelima, aku hanya berusaha untuk memberikan sedikit pelajaran berharga, agar pembullyan semacam ini, tidak terjadi lagi. Masih untung aku hanya mematah kan tangan nya. Coba kalau langsung aku kirim ke akhirat." Gerutu Sonia setelah mengurai pembelaan diri nya.


Mata Sofia membulat mendengar kalimat nyeleneh sang anak, bantal sofa tak berdosa pun tak luput dari amarah nya.


Bugh!


Bantal sofa tersebut mendarat sempurna di wajah Sonia. Gadis itu hanya diam sembari mengisi rongga dada nya dengan banyak oksigen.


"Sabar, jangan jadi maling pisang.." gumam nya menenangkan diri sendiri, namun terdengar jelas oleh sang ibu.


"Maling Kundang!" seru Sofia semakin kesal "kau berniat menyindir mami ya.." tuduh nya kemudian. Sonia menatap wanita ceriwis itu dengan tatapan mata memelas.


"Mi, matahin tangan orang juga butuh energi yang kuat dan banyak. Jadi Sonia sedikit lemes sekarang. Mami masak apa siang ini, pasti kesukaan aku kan? secara masakan mami tiada dua nya, Sonia laper nih." Sonia memperlihatkan wajah polosnya yang penuh binar. Sofia pun langsung luluh melihat wajah imut tersebut.

__ADS_1


"Ah, tentu saja..ayo, mami temenin makan. Mami hari ini masak banyak, ada ayam kari, sayur lodeh, ayam goreng Kalasan, tumis buncis tahu tempe..." dan bla bla... Sonia bergidik ngeri membayangkan jumlah makanan yang di absen oleh sang ibu. Alamat berat badan nya akan kembali seperti gajah Afrika. Gadis itu meringis melihat porsi kuli di piring nya, tatapan penuh semangat terlihat jelas di wajah sang ibu. Hati Sonia mendadak tak tega, perlahan namun pasti. Isi piring nya mulai berkurang sedikit demi sedikit, dan butuh perjuangan untuk menghabiskan nya. Apa lagi sang ibu tak berhenti menambah lauk di atas piring tersebut.


"Lambung, sabar ya..kita sama-sama menderita kok, bukan kau saja." Sonia membatin prihatin.


__ADS_2