Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Tamu spesial


__ADS_3

"Eh? pak Keenan? mari silahkan masuk, maaf ini karung-karung pada numpuk di sini. Lagi musim panen" kekeh pak kades tak enak sekaligus malu, dengan keadaan ruang tamu nya yang terlihat sangat berantakan.


"Santai aja pak, kaya sama siapa aja. Ini baru bisa mampir, tadi habis mancing sama anak saya." Balas Keenan seraya membantu pak kades memindahkan karung tersebut ke dalam tanpa sungkan.


"Makasih loh pak Keenan, aduh, ini saya jadi ngerepotin tamu. Dari kota pula" pak kades mengusap tengkuknya tak enak hati.


"Biasa aja pak, oya, Den, salim pak kades dulu nak." Titah Keenan yang segera di laksanakan oleh sang anak.


"Waduh tangan saya tadi abis megang kotor loh, ini." Ujarnya semakin tak enak hati. Pasalnya sifaf merakyat keluarga Sudibyo itu memang selalu bikin warga sungkan.


"Tidak apa-apa pak, tangan saya juga kotor. Tadi abis mancing yang tidak dapat-dapat" kekeh Eiden mencairkan suasana.


"Loh? bukannya air sungai lagi surut ya?" tanya pak kades heran,minimal dapat 1-2 ekor ikan sungai. Kalau tidak dapat sama sekali, berarti ada yang salah batinnya.


"Salah beli umpan kayanya pak. Saya asal tunjuk aja tanpa bertanya juga pada penjual nya." Ujar Keenan tertawa renyah lalu di ikuti oleh pak kades.


"Khemmm..." Keenan berusaha merangkai kata, agar terdengar lebih enak untuk di cerna.


"Jadi pak, kedatangan kami kemari sebenarnya tidak terencana. Tadi sewaktu pulang memancing, di perjalanan, tanpa sengaja kami berpapasan dengan seorang anak gadis, yang sedang susah payah menyeret sepeda onthel nya." Keenan menghentikan sejenak kalimat nya sambil melirik sang anak yang terlihat tegang.

__ADS_1


"Jadi kami bermaksud untuk membantu membawakan karung gadis tersebut. Namun seperti nya, anaknya sedikit takut mungkin karena tidak kenal barangkali." Keenan terkekeh yang di ikuti oleh pak kades meski belum tau siapa yang di maksud oleh tamunya itu.


"Akhirnya kami memutuskan untuk mengikuti nya saja melalui jalan lain. Ternyata rumahnya hanya beberapa meter dari jalan masuk desa." lalu cerita pun mengalir selancar air sungai, pak kades hanya manggut-manggut juga sesekali menggelang kepala.


"Jadi begitu lah pak, kisahnya. Maaf jika kami terkesan lancang, tapi ini menyangkut seorang gadis yang harus nya mendapat kan kasih sayang juga perlindungan. Tapi malah di sakiti dengan tanpa perasaan." Lanjut Keenan menjelaskan maksud baik mereka agar tidak terjadi kesalahpahaman.


Pak kades terlihat menghela nafas panjang "jadi begini pak Keenan, nama gadis itu Imah. Ayahnya meninggal tahun lalu, otomatis kebutuhan keluarga bergantung pada pendapatan Imah, sebagai buruh sawah juga buruh di perkebunan teh. Ayah nya menikah dengan janda satu anak, yang sekarang menjadi ibu tiri Imah. Namun memang wataknya sudah sejak awal tidak baik, namun mendiang pak Mudin selalu membela nya. Dengan alasan jika istri nya sudah mau menerima Imah yang buta huruf, itu sudah lebih baik." Tarikan nafas berat Kembali terdengar.


"Setahun ini yang paling parah, Imah di paksakan bekerja bagai kerbau pembajak sawah. Tidak kenal lelah gadis malang itu bekerja untuk memenuhi kebutuhan ibu dan adik tiri nya. Sementara dirinya sendiri tidak pernah menikmati hasil kerjanya sendiri. Imah masih sering makan singkong bakar atau rebus untuk mengisi perut nya. Hasil gabah yang dia bawa tidak boleh ikut di nikmati, karena takut tidak cukup. Selalu seperti itu alasan yang diberikan oleh ibu tiri nya itu. Imah bisa makan nasi jika ada tetangga yang memberinya, atau jika dia di minta untuk membantu rewang di acara-acara hajatan. Hidup nya itu kasihan sekali, namun kami tidak bisa berbuat apa-apa."


"Pernah dulu, dulu sekali sewaktu mendiang ayahnya masih hidup. Imah pernah tidak di kasih makan sampai dua hari hanya karena tanpa sengaja menggosongkan baju adik tirinya. Ayahnya pun ikut andil memukul anaknya. Hingga ada warga di desa sini berinisiatif untuk merawat Imah menjadikan nya anak angkat. Namun suami istri itu mengancam akan berbuat lebih jika sewaktu-waktu bertemu Imah. Kita masih satu kampung, jadi sulit sekali membuat pilihan. Akhirnya Imah dibiarkan hingga sekarang bersama ibu tiri nya." Pak kades menyelesaikan kalimatnya dengan suara berat, terlihat jika dirinya pun menyimpan empati pada gadis malang itu.


Keenan terlihat berpikir, lalu menoleh pada sang anak yang juga tengah menatap nya dengan tatapan penuh harap.


"Jadi maksud saya, jika di kampung sini hidup nya masih di teror oleh ibu tiri nya. Bagaimana jika saya yang membawa nya, tentu saja dengan bantuan pak kades dan warga desa setempat. Saya hanya butuh dukungan dari bapak selaku orang yang di segani sekaligus pemimpin desa ini." Keenan menjeda ucapannya.


"Bukan bermaksud apa-apa. Jika keamanan dan ketentraman hidup Imah sudah tidak bisa mendapatkan perlindungan di kampung sini, paling tidak bersama saya dan keluarga. Imah bisa bekerja nantinya juga melanjutkan pendidikan nya. Saya miris melihat anak seusianya itu malah diperlakukan semena-mena oleh orang yang seharusnya bisa menjaga juga menyayangi nya." Pak kades terlihat mengangguk pelan pertanda pria paruh baya itu paham arah pembicaraan Keenan.


"Kalau saya pribadi sangat setuju pak Keenan, terlebih Imah sudah tidak punya keluarga kandung di desa sini. Begini saja, bagaimana jika kita langsung ke rumah nya saja? mungkin kita bisa sedikit bernegosiasi dengan ibu Nurma. Kita lihat bagaimana reaksi beliau, jika masih menentang, maka kita bisa memberikan sedikit ancaman. Walau terdengar kejam tapi apa boleh buat, jika memang sudah tidak bisa di ajak berkompromi lagi." Keenan pun setuju, bersama mereka menuju rumah gadis malang itu.

__ADS_1


Jangan di tanya lagi bagaimana perasaan Eiden remaja tanggung itu nampak begitu sumringah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Tidak bisa! Imah tidak akan saya berikan pada siapapun. Dia harus membalas budi pada saya karena sudah memberikan nya makan dan tempat tinggal gratis!" Tolak Nurma tegas. Wanita itu bahkan mengusir pak kades dari rumah nya tanpa peduli apapun lagi.


"Jika anda masih menolak, maka saya akan mengadu kan kekerasan anda pada Imah tadi. Kebetulan anak saya merekamnya hingga tuntas." Ancam Keenan beralih ke rencana B. Wajah Nurma pucat pasi. Begitu pun anak perempuan nya, karena dirinya tadi yang memberikan ijuk pada ibunya.


Setelah perdebatan alot, akhirnya Nurma melepaskan Imah. Dengan syarat, Keenan harus membayar sebesar 20 juta maka Imah akan dia bebaskan dengan suka rela. Keenan pun menyanggupi, dengan menjanjikan besok dirinya sendiri akan membawa uang tersebut. Tapi Imah harus tetap ikut bersama nya malam itu juga. Keenan men DP uang yang kebetulan ada di dompet nya sebesar 1,2juta rupiah. Wajah Nurma langsung cerah. Bahkan mendorong Imah ke arah Keenan dengan kasar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Memangnya siapa sih tamu spesial kita, sampe abi minta tambah menu segala?" gerutu Elsye kesal, dia sudah duduk cantik harus kembali berkutat di dapur membantu sang ibu menggoreng ayam.


"Umi juga kurang tau, tadi abi ngomong nya cepat banget. Kaya buru-buru gitu, udah tunggu aja." Aeumi melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam. Sedikit terlambat untuk makan malam, belum lagi suami dan anaknya pasti akan mandi dulu Ketika sampai.


"Abi suka gini, sebel" Elsye mengerucut bibir kesal. Pasalnya, tadi sang ayah berpesan pada Arumi, agar meminjamkan satu set pakaian putrinya untuk tamu tersebut. Dan tidak mungkin Arumi memberikan pakaian biasa, karena dia pun tak tau, se spesial apa tamu tersebut.


"Udah, wajahnya jangan di tekuk. Nanti pulang umi ganti, teteh bisa pilih yang teteh suka. Bentar lagi kan ultah" bujuk Arumi, gadisnya itu kurang sebulan lagi akan genap berusia 15 tahun.

__ADS_1


"Janji ya mi, aku mau dress nya dua. Trus yang lain-lain juga," tuntut Elsye mulai ngelunjak, Keenan selalu mengajarkan anak-anak nya untuk menghargai setiap lembar rupiah. Agar mereka mengerti arti kerja keras tidak semudah menggesek kartu kredit.


"Ya janji" ujar Arumi agar putri nya tidak terus-menerus uring-uringan. Tidak enak jika tamu mereka datang, disambut wajah tak bersahabat putri sulung nya.


__ADS_2