Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Boleh?


__ADS_3

"Umi? umiii.." Arumi merasakan Suara yang begitu mengganggu tidur lelap nya, akhirnya terbangun. Dengan mata berat, Arumi mencoba menelisik siapa yang sudah membuat nya terbangun.


"Ken? kurang kerjaan banget sih!" gerutu arumi sebal, lalu menarik selimut berniat melanjutkan tidurnya kembali.


"Eh? kok malah merem lagi sih.." omel Keenan tak terima, kemudian menarik turun selimut arumi dan memeluk wanita itu dengan gemas.


"Sesak Keen, minggir dikit ah!"


"Umi gitu," rajuk Keenan "aku kangen banget, pelukan saja begini, cerita-cerita sebentar." Rayu Keenan memelas.


"Tapi jangan mepet-mepet gini, aku nya sesak, nafasnya susah." Arumi mendorong pelan bahu Keenan ke samping.


"Susah apanya sih, tinggal diem aja kenapa. Aku kangen banget, beberapa hari ini kita jarang ngobrol, ketemu juga jarang. Aku pulang kerja kau sudah tidur, ingin membangun kan tapi tidak tega. Akhirnya aku tidur dalam kondisi hati merindu, rasanya tidak enak." keluh Keenan merajuk.


Arumi mematung mendengar curahan hati Keenan.


"Maaf" cicit Arumi merasa bersalah, "ya sudah, peluk dan ayo tidur, aku mengantuk." Pungkas Arumi akhirnya.


"Umi?"


"Hmm?"


"Pulang dari sini kita langsung menikah yaa?"


"Heh?, mana bisa secepat itu, kau ini." Arumi menatap Keenan dengan mata melotot sempurna.


"Aku sudah menyiapkan segalanya, tadi nya ingin membuat kejutan untuk mu. Tapi aku sudah tidak sabar untuk segera memberitahukan nya padamu. Aku takut kau berubah pikiran," Keenan terlihat begitu emosional, bayangan akan di tinggal oleh Arumi seperti mimpi buruk yang selalu menghantuinya. Untuk itu setiap dia pulang kerja terlambat, maka dia akan segera mengecek Arumi di kamar nya. Keenan selalu ketakutan, jika wanita itu tiba-tiba pergi.


"Aku tidak akan meninggalkan mu, tidak setelah semua ini. Dan apa yang kau lakukan untuk ku dan anak-anak. Aku sudah memaafkan mu, jangan berpikir macam-macam lagi. Aku tidak akan kemana-mana," jelas Arumi menenangkan hati Keenan. Pria itu terlihat sangat tertekan akan kesalahannya dimasa lalu.

__ADS_1


"Sungguh?" tanya Keenan meyakinkan. Arumi hanya membalas nya dengan anggukan kecil dan senyuman yang tulus.


"Makasih sayang, makasih banyak. Aku tidak akan pernah melakukan kesalahan apapun lagi. Aku akan menjadi ayah dan suami yang baik untuk mu dan anak-anak kita." Ujar Keenan sungguh-sungguh. Lalu kembali memeluk Arumi dengan erat.


"Jangan terlalu kencang aku sulit bernafas" keluh Arumi membuat Keenan mendongak menatap nya.


"Kalau begini tidak apa-apa" beluk sempat Arumi menjawab, Keenan sudah membungkam bibir wanita itu.


Ciuman itu berlangsung selama beberapa menit, dari ciuman lembut hingga saling menuntut. Tangan kekar Keenan entah kapan tiba-tiba sudah berada di dalam baju piyama Arumi. Wanita itu pun tak sadar.


Keenan melepaskan ciumannya setelah nafas kedua hampir habis, dengan Pandangan sayu, Keenan menatap Arumi penuh permohonan.


"Boleh?" tanya Keenan dengan suara serak.


"Tidak bisakah setelah kita menikah saja?" Arumi mencoba bernegosiasi, walau dirinya sudah kepalang basah.


"Tidak, aku merindukan mu, aku merindukan milikku" ungkap Keenan jujur, dia tidak ingin menjadi pria munafik.


Merasa Arumi merespon nya, Keenan semakin berani. Pria itu menyusupkan tangannya kebawah. Setelah menemukan apa yang dia cari, tangan Keenan berhenti di sana. Dengan gerakan lembut, Keenan memainkan rawa lembab milik Arumi.


Ciuman pria itu turun ke leher jejang Arumi, tanpa sadar, Arumi mengeluarkan suara-suara syahdu nya. Dan itu terdengar sangat seksi di telinga Keenan.


Setelah berhasil menari naik penutup dada Arumi, Keenan mulai melahap benda bulat itu dengan rakusnya. Arumi meremas rambut pria yang kini seperti bayi kelaparan itu dengan kuat.


Sementara yg tangan Keenan semakin aktif di bawah sana. Membawa jari-jari nya keluar masuk dengan begitu lincah. Arumi merasa kan ada yang akan keluar dari sana, rasa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah di rasakan.


"Keeen.. aku..." tubuh Arumi menegang, dapat Keenan rasakan denyutan hebat menjepit dua jarinya. Pria itu tersenyum puas, lalu nanarik tangannya dari sana. Dengan gerakan cepat Keenan menbuka seluruh pakaiannya, setelah itu dia melepaskan pakaian Arumi. Wanita itu terlihat masih menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja dia rasakan.


Arumi terlihat pasrah akan perlakuan Keenan. Keenan mengangkat kedua kaki Arumi ke atas bahu nya, lalau menunduk di celah kaki wanita itu.

__ADS_1


Arumi tersentak dengan apa yang Keenan lakukan, namun sedetik kemudian dia terlihat menikmati nya. Keenan bekerja dengan lincah di bawah sana, hingga beberapa menit, setelah puas Keenan mulai memposisikan dirinya.


"Aku masuk sayang" suara nya semakin parau, Arumi hanya mengangguk samar dengan mata setengah terpejam.


Terjadilah permainan penuh peluh kedua insan itu, Keenan mereguh nikmat berkali-kali begitu juga Arumi. Arumi bahkan terlihat pasrah bagaimana Keenan memperlakukan tubuhnya, dia sangat kelelahan, namun tenaga Keenan seolah tak ada habisnya.


"Makasih sayang, aku harap benih aku tadi langsung jadi. Aku ingin mendampingi mu selama kehamilan, aku ingin merasakan bagaimana melayani masa-masa ngidammu nanti. Meminta lah banyak hal padaku walau kau tak ingin, kerjailah aku sesukamu." Ujar Keenan terlihat serius sambil mengelap sisa keringat di hitung mungil Arumi.


"Akan aku lakukan, bersiap saja. Dulu waktu hamil Elsye dan Eiden, aku selalu menahan apapun yang aku mau." Balas Arumi dengan wajah sendu. Hati Keenan sesak mendengarnya.


"Maafkan kebodohan ku dulu sayang, mulai sekarang hanya kau dan anak-anak kita saja. Aku mencintaimu, aku akan memperlakukan mu bak ratu di hidup ku. Terimakasih sudah memberikan aku kesempatan untuk memiliki mu kembali." Keenan mencium dalam kening Arumi kemudian memeluk nya erat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Abiii.. umiiiii..!!" teriakan Elsye menggema di kamar nya, saat melihat kedua orangtuanya tidur saling berpelukan.


Gadis kecil itu duduk diatas pinggang sang ayah dengan kasar, Keenan tersentak kaget dari tidur lelepnya. Pria itu mengerjabkan kedua matanya lalu tersenyum lembut pada sang anak.


"Kenapa berteriak sepagi ini, sayang? umi masih bobo, ayo ikut abi." Keenan melepas pelukan tangan Arumi diperutnya perlahan. Lalu membawa si kecil pindah ke ranjang, diliriknya kasur kosong itu mencari keberadaan putranya.


"Mana adikmu, sayang?" Keenan membawa tubuh mungil anaknya duduk di sini ranjang sambil memangkunya seperti anak koala.


"Mandi, bi." Elsye menelusup kan kepalanya di ketiak sang ayah. Keenan gemes melihat tingkah lucu sang anak.


"Kenapa tidak mandi juga, hmm?" tanya Keenan lembut sambil mencium kepala sang anak.


"Aku dingin, ini terlalu pagi" jawab gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada ayahnya dengan tangan kecilnya.


"Ayo abi mandikan, di dalam ada air panasnya." Ajak Keenan menggendong putri nya ke kamar mandi.

__ADS_1


Aeumi mengintip dari balik selimut nya, wanita itu sudah bangun sejak sang anak menaiki perut Keenan tadi. Namun dia sengaja ingin melihat bagaimana Keenan mengatasi putrinya, yang sangat susah di ajak mandi tersebut. Dan dengan mudahnya Keenan membawa Putri ke kamar mandi tanpa mendapatkan protes dari gadis kecil itu. Arumi mendengus tak percaya, padanya saja Elsye sangat susah di atur.


???


__ADS_2