
Tiga hari pasca kecelakaan, Keenan mulai sadar. Kondisi nya membaik dengan cepat. Arumi yang kebetulan tanpa sengaja mengetahui informasi tentang kecelakaan Keenan, menjenguk pria itu diam-diam. Namun hati nya sedikit kecewa, saat melihat seorang perempuan tengah duduk sambil menggenggam erat tangan Keenan.
Bisa dia lihat bagaimana wanita itu begitu mencintai Keenan, mungkin kah itu kekasih nya. Lalu kenapa Keenan ingin kembali padanya, juga meraih hati kedua anaknya hingga rela menjadi seorang guru TK.
Namun walau hatinya sakit melihat pemandangan itu, dia tetap bersyukur, ayah dari kedua anaknya itu, baik-baik saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keenan mengerjabkan kedua mata nya, ruangan yang dia lihat nampak asing. Di dominasi warna putih cream. Saat dia akan mengangkat tangan nya, terasa berat. Membuat mata Keenan memicing, siapa gadis yang tertidur sambil memeluk tangan.
"Aku haus" uajr Keenan agar wanita itu terbangun.
Dia mengerjab matanya kaget, saat melihat Keenan sudah sadar. Dia memang meminta pada keluarga pria itu, lebih tepatnya memaksa dengan menggunakan bayi nya sebagai alasan.
"Ken? Kamu udah sadar, syukur lah. Aku sampai khawatir liat kondisi kamu kemarin." Ujar Diana dengan wajah berbinar.
Keenan mengernyit dahinya bingung, bagaimana bisa malah wanita itu yang menunggu nya di sana. dimana keluarga nya. Mereka bahkan tidak seakrab itu hingga wanita itu sampai harus menjaganya.
Diana yang peka segera menjelaskan, " bunda sama ayah balik kerumah tadi, pergi mandi dan ganti baju." Keenan semakin terkejut mendengar apa yang wanita itu ucapkan.
Apa katanya? Ayah, bunda? Apa yang sudah dia lewat kan. Kepala nya mulai berdenyut, melihat wanita yang paling tidak dia sukai. Kini tersenyum seolah dia adalah kekasihnya.
"Kamu mending keluar, aku butuh istirahat." Keenan berbalik memunggungi Diana yang nampak kesal, harapannya untuk menjadi nyonya muda keluarga Sudibyo sudah di depan mata. Pria itu malah bertingkah seenaknya.
"Baiklah, aku panggil kan dokter dulu." Akhirnya Diana mengalah. Bersabarlah, sedikit lagi batinnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang dokter terlihat menghampiri brankar Keenan, dengan seorang perawat wanita di samping nya tengah membawa map status pasien.
"Selamat siang menjelang sore, tuan Keenan." Sapa dokter itu ramah. Membuat Keenan mau tak mau harus berbalik.
"Siang dok." Balasnya datar. "Kenapa kalian membiarkan wanita asing masuk dan menjagaku di dalam sini. Jangan ulangi lagi, atau kalian akan aku pecat." Ujar Keenan terdengar sangat marah.
Dokter dan perawat itu saling pandang, mereka heran. Bukankah wanita itu adalah calon istri Keenan sendiri, itu yang mereka dengar dari Reegan selaku pemilik rumah sakit tersebut. Mereka ingat kemarin malam, Reegan meminta ijin agar Diana boleh menjaga Keenan di dalam. Dikarena kan hormon kehamilan nya, membuat wanita itu tak bisa berjauhan dari Keenan.
"Maaf, sebelum nya tuan. Kami mengijinkan nya atas perintah tuan Reegan dan ibu Sarah sendiri. Karena beliau berdualah yang memintanya kemarin malam. Bahwa nona Diana sedang dalam pengaruh hormon kehamilan, sehingga tidak bisa berjauhan dengan ayah janinnya." Jelas sang dokter panjang lebar. Dan di benarkan oleh perawat tersebut.
Keenan mengetatkan rahangnya, apa yang sudah wanita itu lakukan terhadap keluarga nya. Pantas saja dia begitu pede nya menjaga Keenan. Ternyata wanita itu ingin bermain main dengan nya rupanya. Lihat saja apa yang akan dia lakukan pada wanita tak tau malu itu.
__ADS_1
"Wanita itu bukan calon istri ku, bukan kekasihku juga aku tidak pernah menyentuh nya. Jika dia ingin masuk kembali, katakan aku tidak bisa di besuk. Apapun alasannya, pikiran sendiri. Aku tidak ingin di ganggu, kecuali keluarga kandungku sendiri. Paham?!" Keenan berkata dengan lugas dan tak ingin di bantah.
Setelah selesai di periksa, Keenan beranjak perlahan. Dia sangat ingin ke kamar mandi sejak tadi. Untung saja dia tidak di rawat di ICU, akan susah jika harus di pindahkan. Wanita itu pasti akan mengintili nya lagi seperti parasit.
Sebelum langkahnya menuju kamar mandi, dia memutar langkahnya menuju pintu. Setelah di kunci dari dalam, Keenan melanjutkan kembali langkah nya ke toilet.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Reegan dan Sarah nampak heran melihat Diana tengah duduk bersandar di luar ruangan Keenan. Pasalnya tadi wanita itu sudah mengabari mereka, jika Keenan sudah sadar.
"Kenapa malah duduk di sini, hmm?" suara lembut Sarah membuat Diana mendongak kah wajahnya, yang sudah di penuhi oleh air mata durjana.
Sarah yang melihat itu seketika panik, akan putranya... Oh tidak, dia tidak sanggup mendengar nya.
"Kenapa? Katakan pada bunda." Cecar Sarah sedikit tak sabar.
Diana menyeka air mata Bombay nya. "Tidak apa-apa bun, Keenan ternyata masih marah padaku. Dia mengusir ku keluar, dan meminta ku tak boleh mendatangi nya lagi." Tangisnya Kembali pecah, dan sesegukan di bahu Sarah. Membuat wanita itu iba.
"Ya sudah, kamu ikut ayah sama bunda aja ya. Keenan tidak akan berani macam-macam sama kamu, percaya sama bunda." Ujar wanita itu menenangkan.
Diana hanya mengangguk, hatinya bersorak senang. Keenan tidak akan berkutik di hadapan orang tuanya.
"Loh? kok gak bisa di buka? Astaga Keenan, kenapa sampai di kunci segala sih. Yah?" wanita itu kesal dan mencari pertolongan sang suami.
"Sini biar ayah coba" Reegan mengetuk berkali kali, dan memanggil nama putranya. akhirnya setelah menunggu beberapa waktu, Keenan pun membuka pintu ruangan nya.
Matanya menajam, saat menangkap sosok yang paling di bencinya itu.
"Dia gak boleh masuk!" Ujar Reegan dingin.
"Gak boleh gitu nak, kasian Diana. Sejak tadi dia duduk dengan tak nyaman di luar, kasian bayi kalian pasti ikut lelah." Jelas sang ibu lembut.
Keenan terkekeh sinis, di tatapnya wanita yang terlihat rapuh dan teraniaya itu dengan garang.
"Aku tidak peduli. Lagipula itu bukan anakku, dia hanya rekan kerjaku yang dengan tidak tau malu, memaksa menumpang di mobilku meski sudah ku tolak berkali-kali." Balas Keenan acuh.
"Ken?" peringat sang ayah.
"Kembali ke ranjang mu, kau ini baru bangun masih belum pulih malah kelihatan gigih sekali berdebat." Ucapan sang ayah membuat Keenan terpaksa kembali ke ranjangnya, dan melepas daun pintu yang sejak tadi dia tahan.
__ADS_1
Diana tersenyum penuh kemenangan, ternyata pria itu takut terhadap sang ayah rupanya. Akan dia manfaat kan situasi itu sebaik mungkin. Agar Keenan bisa terikat dengan nya.
"Duduk lah nak, duduk berjongkok tadi pasti membuat perutmu tidak nyaman." Sarah menggiring Diana menuju sofa.
"Bagaimana keadaan mu, nak?" Reegan lebih dulu membuka suara, menanyakan keadaan sang anak.
Meski dia bisa melihat, putranya itu baik-baik saja, hanya balutan perban pasca pemasangan pen di tangan kanannya. Namun tidak dengan kilatan amarah di wajahnya.
"Tadinya baik-baik saja, kehadiran wanita tak tau malu itu membuat kondisi ku serasa sedang sekarat sekarang." Sarkas Keenan menatap tajam pada Diana. Wanita itu kembali menunduk dan menangis.
"Ken, jangan seperti itu. Diana tidak salah jika dia sempat berpikir akan menggugurkan kandungan nya. Dia hanya takut kamu tidak ingin bertanggung jawab padanya dan juga anak kalian." Nasihat sang ibu, malah membuat Keenan seakan terkena serangan jantung dadakan.
"Bunda jangan mendengar apa yang wanita itu katakan. Aku memang bukan anak yang baik, dan membanggakan, karena belum bisa membahagiakan ayah dam bunda. Tapi bukan berarti aku akan sembarangan memilih wanita untuk menjadi ibu anak-anak ku. Dan wanita itu tidak ada dalam kriteria ku memilih pasangan." Beber Keenan sadis.
Isak Diana semakin kencang, membuat kepala Keenan semakin berdenyut.
"Kalau kau ingin mengis jangan di sini, tidak ada orang mati yang bisa kau tangisi seperti itu. Keluar lah sebelum aku bertindak kasar padamu." Peringat Keenan semakin kesal.
"Keenan!" Seru sang ibu tak suka.
"Diana sedang mengandung anakmu, berhenti lah bersikap seperti seorang pengecut." Tatapan matanya beralih pada sang suami, membuat pria itu bungkam seribu bahasa. Hatinya tersentil oleh ucapan sang istri, dirinya pernah berada di posisi putra nya sekarang. walau dia belum tau jelas duduk persoalannya.
"Bunda gak mau tau, cucu bunda harus mendapatkan status yang jelas. Kalian akan menikah sekeluarnya kamu dari rumah sakit ini." Kata-kata mutlak sang ibu, membuat Keenan ingin sekali menghabisi wanita yang kini tengah berada di pelukan ibunya. Dengan wajah penuh penderitaan.
"Aku tidak akan bertanggungjawab apapun padanya, jika pun aku harus bertanggung jawab, bukan dia orangnya. Tapi wanita yang sangat aku cintai juga kedua anak ku." Ujar Keenan tanpa sadar.
Membuat ketiga orang yang berada di dalam ruangan tersebut melongo tak percaya, dengan apa yang baru saja mereka dengar. Sementara Keenan yang menyadari kesalahannya, hanya bisa diam lalu membuang pandangannya ke sudut kamar.
Di luar ruangan, seorang merasakan hatinya menghangat ketika mendengar apa yang baru saja Keenan katakan.
∆Informasi, Keenan hanya mengalami patah pada salah satu tulang tangan nya. Jadi untuk bergerak bebas, tidak ada masalah. Nanti pada mikir, abis kecelakaan trus operasi, kok bisa langsung jalan-jalan manjah🤭
∆Aku gak nyelipin cerita soal tangannya, karena lebih berfokus pada konflik nya saja. Mohon di maklumi ya, guys😘😘
∆Dukung terus author nya, yang sedikit lelet dalam update. bukan sengaja, hanya saja sibuk dengan anak-anak yang dua-duanya sedang mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir kelulusan sekolah. Ditambah satu bayi lagi, jadi agak riwuh si othornya.
∆Hampir semua pekerjaan rumah othor kerja kan sendiri, punya paksu yang kerja 12 jam full+perjalanan PP 3±. Bisa dibayangkan bagaimana repot othor kalian ini🥲💪
∆Mohon pemakluman, bila update nya kapan-kapan 🤭😆🤣
__ADS_1