Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Cemburu gelap


__ADS_3

Hari berlalu, minggu, bulan dan tahun pun berganti. Banyak hal terjadi, seperti kehilangan juga kehadiran anggota keluarga baru. Banyak kisah yang telah mereka lalui, Keenan dengan kisah kebucinan nya, Keyra dengan segala sikap tegas dan kewaspadaan nya, dan Mike, dengan segala cerita yang tak pernah usai, yaitu penyesalan nya.


Hubungan nya dengan Arumi dan Keenan perlahan membaik, tak jarang dia membawa Elsye dan Eiden hanya sekedar menghabiskan akhir pekan di mall atau jalan-jalan ke puncak. Kedua remaja 14 tahun itu begitu dekat dengan Mike. Dan itu menjadi kecemburuan sosial seorang Keenan.


Arumi kini tengah riwuh dengan kedua anaknya, Saat Egy berumur kurang lebih 8 tahun Arumi memutuskan untuk kembali mengandung. Meski awalnya sempat beradu argumentasi dengan sang suami.


Namun kekukuhan Arumi akhirnya membuat Keenan menyerah, dengan syarat, jika melahirkan, wanita itu harus mau mengambil tindakan operasi. Karena jika tidak, Keenan mengancam tidak akan menyayangi kedua anak kembar nya, kalau sampai arumi harus kesakitan.


Begitu lah Keenan, bucin akut yang lebih mementingkan keselamatan sang istri di atas segala-galanya. Reegan yang sama bucin pun sampai geleng-geleng kepala, saat mendengar putranya dengan tegas menolak kehamilan Arumi.


"Umi hari ini ke toko?" memangnya harus banget ya, tidak mau ikut abi aja ke kantor?" tawar Keenan untuk ke sekian kalinya. Bukannya apa, Keenan masih saja selalu cemburu gelap pada mantan rivalnya, Mike. Pria itu sering ke toko membeli beberapa jenis roti dan cake. Namun bagi Keenan, itu hanya lah modus si dokter untuk mendekati sang istri.


"Harus bi, hari ini di toko pasti sibuk sekali, anak-anak menerima banyak orderan. Umi masih belum nemu patissier yang cocok dengan karakter selera pelanggan." Arumi menyelesaikan kegiatan memasang dasi sang suami tercinta, meski terkadang bisa sangat menyebalkan. Kemudian beralih memasang kaos kaki, Keenan semakin manja padanya, melebihi kelima anak mereka.


Keenan mendengus mendengar jawaban tak menyenangkan dari sang istri. "Anak-anak hari ini ikut lagi? tidak di titip sama teteh Puput saja?" Keenan selalu keberatan jika kedua anaknya di bawa ke toko, menurut nya tempat yang paling nyaman dan aman adalah rumah.


"Ya, sama teteh Puput. Nanti teteh nya ke sini sama cucunya, jadi ada yang bantuin jaga.Ed sama Eli." Terang Arumi selesai memasang kaos kaki suaminya. "Udah kelar, ayo kita sarapan. Anak-anak pasti udah pada ngomel di bawah" ajak Arumi menggandeng mesra lengan kekar suaminya.


"Umi kalau tiba-tiba mesra kaya gini pasti ada apa-apa nya?" ujar Keenan menatap curiga ke arah Arumi dengan penuh selidik. Yang di tatap pura-pura tidak tau, Arumi menarik pelan lengan suaminya agar berhenti menatap nya penuh kecurigaan.

__ADS_1


Sudah Arumi tebak, anak gadisnya pasti akan menampilkan wajah masam.


"Wajah teteh kenapa dek?" tanya Keenan seolah tak tau apa-apa. Yang di tanya hanya mengendikkan bahunya acuh, mulutnya penuh dengan nasi goreng spesial komplit buatan bi Surti.


"Ed sama Eli di ajak ke toko, Rumi?" tanya Reegan di sela makannya.


"Tidak yah, di rumah sama teteh Puput. Nanti ada Amira sama Lila juga ikut kemari, jadi ada yang bantuin teteh." Jelas Arumi pada ayah mertuanya. Arumi menatap miris wajah tirus Reegan, hatinya ikut merasakan sakit yang sama. Dirinya pun sangat merindukan ibu mertua nya juga mendiang adik ipar nya.


"Ayah mau nambah tidak, Rumi tambah ya,?" Arumi mengambil peran yang di tinggal kan oleh Sarah selama tiga tahun ini. Meski Reegan selalu menolak halus bantuan nya, namun Arumi tetap kekeh melakukan nya. Seperti mengambilkan sarapan Reegan, juga mengecek keadaan Reegan di malam hari kala Keenan tidak di rumah. Reegan sering bermimpi buruk, itulah kenapa Arumi tidak bisa untuk tidak mengecek keadaan mertua nya. Pernah suatu ketika, saat itu Arumi sibuk mengurus Edeline yang demam.


Dia baru bisa mengecek keadaan mertua nya pukul 2 malam setelah putrinya tertidur lelap. Arumi heran melihat Reegan yang tak bereaksi saat lampu di nyalakan. Biasanya Reegan akan segera bangun, karena memang mertua nya tidak suka tidur dengan membiarkan lampu menyala. Namun saat itu, Reegan sama sekali tidak menunjukkan respon apapun, bahkan saat Arumi memanggil pelan mertuanya. Rupanya Reegan pingsan dari dalam tidur nya efek bermimpi buruk.


"Tidak Rumi, ayah ada janji ketemuan sama didi Revan di cafe biasa, jam 10 nanti. Takut nya malah ayah kekenyangan sebelum pesan apa-apa, didi mu pasti akan mengomel tak karuan." Terang Reegan agar menantu nya tidak tersinggung akan penolakan nya.


"Ah, ya. Aku lupa. Nanti di antar sama sopir aja ya, yah?" tawar Arumi, dia selalu khawatir jika mertuanya berkendara sendiri.


"Boleh, sama kang Ujang nanti." Ujar Reegan menurut, dia tidak ingin menambah daftar kecemasan menantu baik hati nya itu. Arumi telah melakukan banyak hal bagi keluarga mereka. Dia pun menyayangi wanita itu seperti putri kandungnya sendiri.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


"Sayang? ingat ya, kalau si dokter gatel itu mampir, tidak perlu di temui. Pokoknya pura-pura aja sibuk" titah keenan untuk ke sekian kalinya. Pria itu selalu cemas jika segala hal menyangkut Mike, padahal Mike sama sekali tidak ada niatan untuk mengganggu ketentraman keluarga nya. Keenan hanya terlalu menjaga istri nya seperti berlian, dia ketakutan setiap saat. Kalau-kalau istri dan anak-anaknya pergi meninggalkan nya. Konyol memang, tapi itulah yang ada di pikiran seorang Keenan.


Arumi hanya bisa menghela nafas panjang, sudah biasa mendengar kan nasihat yang berupa perintah, dan peringatan mutlak dari sang suami.


"Ya, nanti aku bakal di dalam aja sampe jam pulang toko." Balas Arumi agar suami cemburuan nya tenang. Sejatinya memang Arumi hari ini sangatlah sibuk, karena masih kekurangan tenaga baker dan patissier di tokonya. Namun menjelaskan pada suaminya juga percuma. Keenan hanya paham urusan cemburu gelap tanpa peduli matahari bersinar terang.


"Aku berangkat dulu ya, nanti siang aku mampir ke toko. Mau di bawakan makan siang apa, aku persennya di warung biasa." Tanya Keenan sebelum benar-benar pamit pergi ke kantor. Jika ada yang bertanya kenapa warung? ya karena Keenan lebih suka makanan ala rumahan. Pria pecinta karbo itu lebih suka jenis makanan yang benar-benar bikin kenyang, bukannya untuk sekedar memenuhi gengsi.


"Ayam lalapan aja kayanya, banyakin tempe sama tambahi terong nya ya." Ujar Arumi menelan ludahnya.


Keenan terkekeh melihat istri nya menelan ludah ngiler berkali-kali, dia bersyukur Arumi nya punya selera yang sama dengan nya. Wanita yang tidak pernah gengsi-gengsian untuk urusan apapun.


"Oke, seperti biasa. Nasinya 3 posri, kan?" balas Keenan menimpali sambil terkekeh kecil. "Di toko masih ada jeruk tidak? mau minum jus jeruk nanti, bikin sendiri lebih enak." Keenan selalu menyetok buah tersebut di toko, agar Arumi tidak perlu mampir ke sana kemari untuk membelinya. Sesekali kalau pas habis, mereka akan menggantinya dengan es teh manis saja. Sungguh selera yang sangat merakyat. Namun nikmatnya berkali-kali lipat lebih banyak daripada makanan restoran bintang 5.


"Abis kayanya, tapi ada mangga di beliin si Boy, mau? jus mangga aja?"


"Boleh deh, ya udah aku berangkat dulu. Nanti hati-hati di jalan, jangan mampir-mampir. Love you umi sayang." Setelah cium kening sang istri, akhirnya Keenan berangkat juga.


Selalu seperti itu, setiap akan berangkat Keenan selalu berpesan banyak hal yang intinya sama saja. Dan Arumi sudah terbiasa akan hal itu. Dan dia bersyukur, cinta Keenan padanya semakin bertumbuh subur. Pria itu bahkan lebih sering mementingkan dirinya terlebih dahulu ketimbang anak-anak. Meski kasih sayang nya sama saja, namun jika menyangkut dirinya Keenan akan lebih protektif.

__ADS_1


__ADS_2