
Wanita itu mengangkat nya dengan hati bersorak gembira, akhirnya mereka berdua akan ada yang menolong, begitu lah pikirnya.
"Halo, Umi.."
"Ya halo, dengar kan aku, kau harus menolong kami segera, kami ada di apartemen XC, aku seperti nya keguguran, perutku sangat sakit dan wanita yang kau panggil Umi sedang dalam kondisi yang juga tak lebih baik dariku. Cepatlah!" tutt ponsel Arumi mati total.
Maura frustasi, dia harap pria itu peka dengan perkataan beruntun nya. Kenapa juga ponsel Arumi harus kehabisan baterai di saat seperti ini, sementara dia kesana tidak membawa ponsel, karena dijemput oleh Mike, yang tiba-tiba membawanyan ke unitnya. Perut nya semakin sakit, sebagian darahnya sudah mengering namun dia masih bisa merasakan, dari inti nya masih mengalir walau tidak sederas tadi.
Maura merangkak menuju ke arah Arumi, yang masih bersandar di kaki sofa. "Seorang pria menelpon dan memanggilmu, umi, tapi tidak ada namanya. Apa kau mengenal nya?" tanya Maura tak sabar sambil menatap Arumi dengan tatapan sayu.
Arumi mengangguk pelan, jelas dia tau, itu pasti Keenan. Hatinya merasa sangat lega sekaligus takut, bisa dipastikan Mike akan mendapatkan tambahan luka di tubuhnya. Namun sekarang dia cukup mencemaskan diri nya, juga Maura saja.
Kondisi Arumi sedikit membaik setelah mengistirahatkan tubuh nya, namun Maura justru semakin melemah. Akibat pendarahan yang dia alami cukup banyak, Arumi kian was-was. Tubuh Maura terasa dingin, kulit nya pucat seperti tidak ada aliran darah yang mengalir di sana.
Arumi yang memangku kepala Maura mencoba mengecek pergelangan tangan wanita itu, untuk memastikan apakah masih ada denyut nadinya atau tidak. Setelah memeriksa keadaan Maura, dia memindahkan wanita itu ke lantai lalu bersiap menyeret Maura menuju pintu.
Disaat dirinya sedang berusaha menyeret tubuh Maura ke arah pintu, Mike tiba-tiba saja bergerak dan terbangun.
Pria itu mengerjab beberapa kali, untuk memulihkan pandangan nya yang masih buram. Pandangan nya tertuju pada Arumi, yang sedang berusaha membawa tubuh pucat Maura.
Mike seketika tersadar, lalu beranjak dan membuat Arumi ketakutan setengah mati.
__ADS_1
"Jangan lakukan hal gila lagi, Mike. Maura sedang sekarat sekarang, aku mohon, bantu dia," Arumi terisak antara menekan rasa takut akan kebrutalan Mike, juga takut jika Maura Benar-benar tiada. Nadi wanita itu sudah sangat lemah, berlama-lama menghadapi Mike. Bisa di pastikan nasib Maura akan berujung kemana.
Mike terkesiap dengan banyaknya ceceran darah di lantai apartemen nya, dan melihat ke kaki Maura. Matanya membulat sempurna, dia baru sadar akan perbuatannya. Segera Mike meraih tubuh Maura dan memberikannya napas buatan, juga kompresi dada. Namun wanita itu masih bergeming, Mike semakin panik hingga beberapa kali memukul dada Maura.
"Maura bangun! maafkan aku, aku khilaf. Bangunlah sayang, aku mohon" isak Mike terus menekan dada Maura juga sesekali memberikan nafas buatan. Arumi tercengang, ternyata pria ini begitu mencintai kekasihnya, lalu apa tujuannya selama ini menahan dia dan anak-anaknya agar terikat padanya.
Brraakkk
Suara dobrakan pintu mengalihkan perhatian keduanya, betapa kagetnya Mike melihat kehadiran Keenan dan beberapa orang polisi. Kemudian beralih menatap Arumi meminta penjelasan.
Arumi masih mematung ditempatnya, kondisi nya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Begitu juga Mike dan Maura.
Keenan bergegas menghampiri Arumi dan memeluknya erat, "maafkan aku datang terlambat, lagi-lagi aku membiarkan mu terluka, maafkan aku, sayang." Ujar Keenan penuh kecemasan dan rasa bersalah.
Keenan melepas jaket kulitnya dan mengenakan nya pada Arumi, "kita harus kerumah sakit, kau harus di periksa." ucap Keenan lembut hanya di balas anggukan oleh Arumi. Kepalanya terasa sangat sakit, seperti ada ribuan semut yang berjalan di sana sambil menggigit kulit kepalanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seorang petugas memanggil Keenan untuk berbicara di luar, akhirnya Keenan mengalah dan meninggalkan Arumi didalam ruangan rawat nya sendiri.
"Ada apa, kalian sudah tau penyebab kekacauan itu?" tanya Keenan to the point.
__ADS_1
"Sudah pak, pelaku mengakui sendiri perbuatan nya. Yang disinyalir oleh perasaan cemburu dan sakit hati, karena ibu Arumi memutuskan hubungan mereka secara sepihak. Sehingga terjadilah keributan tersebut, dan wanita yang sedang berada di ruang ICU itu adalah kekasih dari dokter Mike. Namanya Maura, wanita itu baru saja keguguran akibat benturan hebat. Dan Dokter Mike pun mengakuinya juga, jika itu akibat ulahnya. Dia merasa marah, karena Maura hendak menolong ibu Arumi, saat dia menyeret nya dengan cara menarik rambut ibu Arumi. Dokter Mike reflek mendorong nya hingga perutnya mengenai sisi meja bufet." Papar polisi itu panjang lebar.
Keenan memgeram kesal, rahangnya mengeras menahan amarah. "Dimana pria brengsek itu berada?" tanya Keenan dingin membuat polisi itu meringis ngeri melihat reaksi Keenan. Dia tampak sedikit menyesal, sudah memaparkan sedetail itu pada pria dihadapannya ini. Situasi masih memanas ini, bisa saja membuat Keenan khilaf dan berujung membunuh Mike, sebelum proses hukum pria itu terlaksana.
"Beliau ada dikantor polisi, pak. Dokter Mike datang sendiri ke sana, untuk menyerahkan dirinya setelah beliau dari rumah sakit tadi." Jelas polisi itu lagi ketar ketir.
"Aku akan ke sana," ucapan Keenan membuat perasaan polisi tersebut dilanda kecemasan luar biasa.
"Apa tidak sebaiknya bapak disini saja, maksud saya, ibu Arumi juga masih syok atas kejadian tadi. Bagaimana jika beliau bangun anda tidak ada di sampingnya," ujarnya berusaha mengulur waktu, agar pria itu sedikit sibuk di sana dan membiarkan proses hukum, berjalan sebagaimana mestinya.
Keenan menatap tajam polisi itu, "aku akan tetap kesana, kau di bayar berapa untuk memberinya perlindungan, hah!" ujar Keenan salah paham.
"Tidak pak, maksud sa..."
"Kau berjaga saja di sini, atau karirmu akan ku buat tamat sekarang juga." Perintah Keenan tak ingin dibantah, lalu meninggalkan polisi yang masih mematung ditempatnya.
"Mengerikan sekali," ujar pria itu menatap punggung lebar Keenan yang mulai menjauh.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampai nya di kantor polisi, Keenan bergegas masuk bersama pengacara nya.
__ADS_1
"Dimana pria bajingan itu?" tanya Keenan tanpa basa-basi.
"Akan saya panggilkan pak, silahkan menuju ruang yang ada disebelah sana." Balas petugas itu ramah, dia tau siapa pria dihadapannya itu. Sebisa mungkin dia bekerja secepat roket, tanpa diperintah dua kali.