Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Wawancara yang tak biasa


__ADS_3

Hampir 20 menit Mike duduk dengan gelisah, di seberang meja direktur rumah sakit tempat nya melamar pekerjaan. Namun belum satu patah katapun, keluar dari mulut sang direktur perihal CV lamaran nya.


Dengan sedikit keberanian yang tersisa, Mike memberanikan dirinya untuk bertanya. "Hmm... bagaimana dengan lamaran ku? maksud ku.. itu.." Kalimat gugu Mike terpotong oleh intrupsi Keyra.


Wanita itu mengangkat tangan kanannya, tanpa menoleh sedikit pun. Matanya masih terfokus pada berkas lamaran Mike.


Mike langsung bungkam, tidak tau harus berkata apa lagi. Keberanian yang tersisa tadi kini terpangkas habis oleh intrupsi tangan sang direktur. Susah payah Mike mengatur helaan nafasnya yang mulai terasa sesak. Berkali-kali Mike mengatur letak dasinya yang bahkan baik-baik saja di tempat nya.


Keyra menatap lekat netra Mike, membuat pria itu semakin dilanda kegugupan luar biasa. Keringat dingin menggelincir dikening lebar Mike, namun Mike bahkan tidak punya keberanian meski sekedar untuk mengelap nya.


"Dari sekian banyak rumah sakit di kota ini, kenapa kau malah memilih menjatuhkan pilihan mu pada rumah sakit milik keluarga ku?" akhirnya Keyra membuka suara, dia tau jika Mike sedang gugup dan salah tingkah padanya. Apa dia terlihat se_diktator itu di hadapan Mike.


Setelah menghela nafas cukup dalam, akhirnya Mike menjawab pertanyaan Keyra. Mungkin terdengar sepele namun tidak bagi Mike. Jawaban nya yang akan menentukan nasib karir kedokteran nya nanti.


"Aku merasa cocok dengan profil rumah sakit ini, juga visi dan misinya. Aku selalu mengaguminya, bagaimana rumah sakit ini memberikan pelayanan tanpa membedakan status sosial seorang pasien. Dan aku merasa sangat yakin dengan pilihan ku, CV ku masuk ke rumah sakit yang tepat dan sesuai dengan kriteria dan tujuan ku menjadi seorang dokter. Yaitu bekerja dengan sepenuh hati." Jelas Mike dengan keyakinan penuh dan rasa percaya diri setinggi angkasa, yang kembali berkobar dalam setiap kalimat nya. Tanpa sedikitpun terlihat keraguan dan kepura-puraan disetiap kata-katanya.


Keyra mengangguk-anggukkan kepala pelan, matanya kini beralih menatap satu map yang sejak tadi masih tertutup rapat. Mike mengikuti arah pandangan Keyra, kening nya mengernyit. Apakah ada pelamar lain selain dirinya? mendadak Mike dilanda kecemasan. Nasibnya masih abu-abu, kini malah di hadapkan dengan pesaing lain. Yang pasti lebih potensial darinya, tanpa embel-embel status mantan narapidana sepertinya. Pikiran Mike kalut sekalut kalutnya.


Kedua tangannya kini kembali berkeringat, setelah tadi sempat mengering.


"Kau tau apa isi map ini, dokter Mike?" tanya Keyra tiba-tiba, Mike tersentak mendengar pertanyaan yang membuat degub jantung nya semakin tidak sehat.

__ADS_1


Mike hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, dia sudah pasrah jika memang lamaran nya ditolak.


"Seorang dokter spesialis Kulit dan Kelamin (SpKK) seperti dirimu, juga mengajukan CV yang tak kalah menarik dari CV lamaran kerja yang kau ajukan. Dengan dasar spesifikasi dan kualifikasi yang cukup mendalam, sebagai bahan pembanding yang layak dipertimbangan, tanpa penolakan." Keyra menyandarkan punggungnya dikursi kebesaran nya sambil menatap lurus pada Mike. Pria itu terlihat sangat cemas, raut wajahnya pias dan pucat.


"Jadi kakatakan padaku, dokter Mike. Apa yang bisa kau sampaikan agar CV mu layak mendapatkan pertimbangan ku." Lanjut Keyra setenang mungkin.


Mike menelan ludahnya susah payah, bukan pertanyaan nya yang membuat kerongkongan Mike tiba-tiba mengering. Namun tatapan penuh intimidasi yang di lontarkan Keyralah, yang membuat nyalinya seketika menciut.


"Saya tertarik bekerja di rumah sakit ini, karena linier dan kualifikasi saya dalam bidang spesialisasi dokter SpKK, dengan pengalaman penuh saya selama 7 tahun, saya yakin bisa menjadi bagian dari teamwork rumah sakit ini dengan kualitas terbaik di bidangnya. Saya juga mampu bekerja secara individu dengan profesional dan terpercaya. Saya selalu berkomitmen untuk mengerjakan pekerjaan saya tepat waktu dan kapan saja saya dibutuhkan. Saya juga punya komunikasi yang baik dalam sebuah tim, dan mampu mengambil perspektif yang berbeda, serta tanggap akan keluhan para pasien yang beraneka ragam. Serta menjaga kerahasiaan pasien saya, hingga akhir." Mike meruntut penjelasannya panjang lebar, agar CV nya lebih dari sekedar layak dipertimbangkan, namun juga di terima tanpa kendala apapun lagi.


Penjelasan Mike mengalir selancar air mengalir sampai jauh. Tenang, tanpa riak sedikit pun. Menyiratkan keseriusan dan ketegasan dalam setiap Ucapan nya.


Keyra menarik sudut bibirnya diam-diam, Mike bahkan tidak menyadari, jika sang direktur yang sudah membawa jalan-jalan di tepi jurang, sedang tersenyum ke arahnya.


Tok tok tok


Atensi Mike dan Keyra teralih ke arah pintu yang perlahan terbuka dari luar. Terlihat seorang perawat datang dengan satu berkas pasien di tangannya.


"Maaf dok, saya mau mengambil salinan berkas pasien atas nama Bapak Wahyudi Pranaya, pasien bedah saraf di ruang VVIP 027." Jelas sang perawat nampak tak enak hati, karena telah menyela sesi wawancara sang direktur sekaligus Dokter spesialis bedah saraf tersebut.


"Oh, tidak apa-apa. Kami sudah selesai sejak tadi," jawab Keyra tersenyum ramah, "ini berkasnya, aku akan visit sebentar lagi." Sambung Keyra santai, sambil menyerahkan map yang tadi membuat Mike hampir kehilangan detak jantung nya.

__ADS_1


Pria itu melotot tak percaya, jadi yang ada di dalam map merah tersebut adalah berkas pasien. Lalu kenapa bisa di taruh dalam map yang tidak seharusnya? Kepala Mike mendadak berdenyut nyeri, membayang kan bekerja di bawah kepemimpinan Keyra. Dia benar-benar yakin, tak lama lagi dirinya akan benar-benar menderita penyakit asma dan gangguan jantung setiap hari nya.


"Terimakasih dok, saya permisi duluan" setelah si perawat keluar dari ruangan Keyra, senyum sejuta pesona yang tadi sempat membuat jiwa kelakian Mike tergoda. Redup tak bersisa. Direktur muda ini sungguh luar biasa, mampu mengendalikan situasi dengan sedemikian rupa. Pantas saja di usianya yang semuda itu, sudah mampu memegang kendali penuh serta mengampu tanggung jawab yang sangat besar, batin Mike bermonolog.


"Jadi, dokter Mike. Ruang kerja mu ada di lantai 2, kau bisa menanyakan nanti setelah dari sini. Jadi besok kau tinggal datang untuk bekerja saja, usahakan jangan sampai terlambat. Aku tidak mentolerir keterlambatan, dengan alasan terlambat bangun tidur dan terjebak macet diperjalanan karena keteledoran." Tegas Keyra seraya bangkit dari duduknya.


Sementara Mike hanya melongo, bagaimana direktur ini bisa setenang itu, setelah membuat nya tergelincir ke dasar jurang paling dahsyat, tanpa perasaan. "Kau masih betah di ruangan ku, dokter Mike?" Pertanyaan Keyra membuat lamunan Mike buyar, andai dia boleh marah. Dia ingin berteriak pada Dokter di depannya ini, yang sudah membuat jantung nya hampir berhenti berfungsi.


Namun mengingat kini dirinya sudah di terima, meskipun harus melewati sesi wawancara yang tak biasa. Mike mengurung kan niatnya, ke depan nya dia akan berhati-hati pada atasan nya ini. Tatapan nya saja mampu membuat seseorang tak berkutik, dan jangan lupa, kalimat-kalimat lugasnya, sungguh beracun dan mematikan untuk didengar.


"Ah, ya. Maafkan aku, kalau begitu aku ingin mengucapkan banyak terimakasih. Karena sudah diterima bekerja di rumah sakit ini, aku berjanji tidak akan mengecewakan anda, bu direktur." Ujar Mike sedikit membungkukkan tubuhnya sebagai ungkapan rasa terima kasih dan rasa hormat nya.


"Aku tidak suka mendengar janji, dokter Mike. Lakukan saja tugas dan fungsi pokok mu dengan tepat dan benar. Aku menilai kinerjamu, bukan janjimu." Tegas Keyra lagi-lagi membuat Mike mati kutu. Mike hanya mengangguk tanda dirinya paham akan maksud sang direktur.


Lagipula dirinya ingin segera pergi dari sana, suasana didalam ruangan Keyra membuat nya gerah hati dan pikiran. Dia tidak ingin kehilangan fungsi otak nya, jika berlama-lama didalam sana dengan oksigen yang sangat minim. Aura tegas seorang pemimpin terlihat jelas disetiap kata yang terucap, dan gesture sang direktur. Mike yang bahkan tua beberapa tahun dari Keyra pun, tak mampu menyamai rekor wanita cantik itu.


Jangankan menyamai, sekedar mengejar ketertinggalannya saja, mike tidak akan sanggup. Wanita itu memang sangat cantik, namun sayang, mulut nya sangat lah berbisa.


Setelah berada cukup jauh dari ruangan Keyra, Mike mendudukkan dirinya di kursi besi di ujung lorong yang cukup sepi. Berkali-kali Mike menarik nafas nya dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan.


"Astagaa, baru kali ini aku bertemu dengan wanita yang rupanya seperti seorang dewi, namun sifatnya sedingin salju. Lihatlah, wanita itu mampu mengendalikan situasi serta ekspresi dengan begitu sempurna. Setelah membanting harga diri ku, hingga remuk redam.Wanita itu bisa bersikap seolah tak terjadi apa-apa." Gumam Mike kagum sekaligus was-was. Mulai besok bisa dipastikan, dia harus mulai menjaga kesehatan jantung nya dengan baik. Menghadapi pemimpin setegas dan seajaib Keyra, tentu Mike butuh jiwa raga yang sehat dan kuat. Serta tahan banting.

__ADS_1


__ADS_2