
"Wuaah.. Lihat kak, anakmu mirip sekali dengan ku" ujar Kira girang. Gadis 10 tahun itu menoel-noel pipi keponakan nya yang sedang dipangku oleh sang ibu.
"Enak saja!" sergah Keenan tak terima. "Dia anakku, ya pasti mirip aku" walau sebenarnya Keenan tak benar benar marah.
"Ck! dia itu mirip dengan ku, karena aku yang sering membelikan apa yang dia sukai waktu masih didalam perut umi nya. Ya kan kak?" Kira meminta dukungan kakak iparnya.
"ya, Egy mirip dengan teta nya. Kan teta nya sayang sama keponakan nya" Arumi membenarkan, Kira selalu membelikan apa saja yang dia ingin kan. Dengan semangat empat lima, Kira mengayuh sepeda nya menuju mini market depan komplek mereka.
"Trus aku mirip apa nya ini?" protes Keenan
"Hidungnya, ya hidung Egy mirip dengan kakak. Matanya ambil ayah sama oma" Kira memberikan penilaian pada keponakan nya, yang memang lebih banyak gen bule dari sang kakek.
"Ishh, kenapa tidak mirip aku semua. Kan aku abi nya" lagi-lagi Keenan protes.
"Pada ribut ih kalian, Rumi mau istrahat jadi keganggu" omel Sarah menegur kedua anaknya.
"Tau ih kakak nih, ribet amat. Ya Egy ya, utuh utuuh, tampan na teta, dagoan na teta anteng amat cih amu. Teta jadi umush nih" semua tersenyum geli mendengar cara bicara Kira yang di gayakan seperti anak kecil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tok tok tok
Seorang wanita bertubuh tambun berdiri tegap di depan pintu kontrakan Diana. Wanita itu mendapat kabar burung dari tetangga Diana, jika suaminya sedang berada disana.
Tok tok tok
__ADS_1
Wanita itu kembali mengetuk dengan tak sabar. Sapu sudah dalam genggaman tangan nya, yang rencana akan dia gunakan untuk menggebuki suaminya juga Diana, jika saja terbukti benar.
Kedua insan yang sedang berbagi peluh didalam kamar sempit, dan gerah tersebut kalang kabut mendengar teriakkan dari arah luar.
"Aku tanggung nih, lanjut dulu kalau ketahuan aku tidak rugi udah membayar mu mahal." Si pria yang tidak mau rugi terus menghentak pinggulnya semakin bringas. Napasnya memburu, selain ingin mencapai puncak, dirinya juga merasa kepanasan. Keringat bercucuran dari tubuh nya menetes keatas tubuh Diana.
Wanita itu melengos, saat si Pria akan mencium nya.
"Jangan jual mahal, udah nangung gini pake jual mahal segala" dengan kasar pria tambun itu menciumi bibir Diana, hingga terasa kebas. Diana tidak membalas, dia sebenarnya jijik. Namun pria itu mau membayar nya hingga 1 juta rupiah, maka dirinya rela melayani hingga dua kali pelepasan. Dan ini untuk yang kedua kalinya, pria besar itu seperti nya menggunakan obat k*uat. Karena mampu bertahan lama, bahkan setelah pelepasan pertama. Milik pria itu masih tetap berdiri tegak. Diana sampai kewalahan, pria itu banyak maunya. Mempraktikkan berbagai gaya, yang tidak sesuai dengan bobot tubuh nya yang super lebar.
"Aku mau keluar sayang, terima ini..." Si pria menghentak semakin kuat tanpa peduli pada Diana yang meringis kesakitan. Wanita itu tengah hamil anak keduanya, yang entah siapa ayahnya. Sementara anak pertama nya baru berusia 4 bulan.
"Aaakhhh...!" Nafas pria itu tersengal-sengal lalu kembali mencium bibir Diana yang sudah membengkak. "Kau enak, aku suka, punya mu hangat. Lagi hamil begini punya Wanita selalu terasa lebih nikmat. Aku keluar lewat pintu belakang, kau buka pintu sana. Itu suara istri ku, ini aku tambah untuk beli susu anakmu. Lain kali aku ke sini lagi, cepat bangun, bersihkan punyamu. Berpura-pura lah kau ketiduran dan susui anakmu sambil buka pintu" Titah panjang lebar di pria membuat Diana jengah.
"Ya ya, sudah keluar sana." usir Diana ketus.
Diana keluar dengan penampilan semrawut, rambut nya di ikat asal, dasternya tersingkap bagian dada sebelah kanan dengan bayi yang masih menyusu.
"Ada apa, ganggu orang istirahat saja" gerutu Diana menguap lebar, dirinya memang ngantuk, semalam harus melayani 2 orang tamu nya. Diana memang sudah tidak pernah melayani diluar karena bayinya tidak ada yang menjaga.
"Tutup baju mu, apa kau tidak malu?" tatapan Wanita itu tajam.
"Tetangga mu bilang ada suami ku kemari, mana dia, apa kau habis menjual apam basahmu padanya?" sarkas si wanita sambil celingukan mencari keberadaan suami nya di dalam rumah kontrakan Diana.
"Suamimu itu siapa? kenapa bertanya padaku, masuk dan cari saja sendiri. Aku mengantuk anakku juga mau istrahat" jawab Diana santai sambil duduk di kursi plastik diruang tamu.
__ADS_1
Wanita tambun itu masuk dan langsung mengecek kamar Diana, dan tidak menemukan siapapun di sana. Ditatapnya Diana yang setengah terpejam dan pegangan nya pada sang anak mulai melemah.
"Kau ini mau membunuh anakmu ya?" teriak si wanita membuat Diana terjengkit kaget, dan si bayi pun menangis keras.
"Astagaa! kau ini apa-apaan. Lihat anakku sampai menangis kejer begini, kalau ada apa-apa kau mau tanggung jawab." Diana balas meneriaki si wanita tanpa peduli bayinya yang menangis keras.
Wanita tambun itu jadi tak enak hati, lalu meraih bayi Diana yang diletakkan begitu saja di lantai keramik tanpa alas apapun.
"Hei! anakmu ini menangis kenapa kau malah tinggal tidur" namun Diana tak bereaksi, dia kelelahan.
"Dasar wanita gila!" umpat si wanita gembul kesal "ini anakmu aku bawa, rumah ku di depan pemilik kontrakan ini. Jika kau tidak mengambil nya nanti, aku akan antar lagi setelah kau waras Kembali." Merasa tak mendapat kan jawaban, si wanita membawa bayi Diana dalam gendongan nya. Kebetulan sekali, dia memang belum punya anak setelah menikah selama 13 tahun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang? mau makan apa?" Keenan baru saja menaruh Egy didalam boks bayi.
"Jangan bubur lagi ya," tatapan Arumi begitu mengiba, membuat Keenan tak tega.
"Ya sudah, pake nasi, tapi yang lembut ya." Tawar Keenan memberi solusi, Arumi mengangguk cepat. "Lauknya apa? di bawah ada ayam goreng, eh, tapi jangan, kau kan asi, tidak baik yang goreng-goreng." Keenan panik sendiri menjawab pertanyaan yang dia ajukan.
"Ada iga bakar madu, mau. Ada sayur bening juga di buat sama bunda, tadi sebelum pergi udah pesen. Menantu bunda harus sering-sering dikasih makan ya, orang menyusui itu gampang lapar. Jangan di tahan-tahan, begitu katanya" Keenan begitu fasih menyampaikan pesan sang ibu pada Arumi. Pasalnya wanita itu sedikit insecure dengan berat badannya. Padahal Keenan tidak lah masalah.
"Boleh deh, aku makan di bawah aja deh kayaknya. Masa di kamar mulu sih. Tidak enak sama yang lain, udah 2 Minggu loh. Nanti di kira aku nya manja banget m, tidak mau gerak" ujar Arumi tak enak hati. Suaminya juga keluarga memperlakukan nya layaknya tuan putri.
"Udah aman aja, di sini aja, jagain Egy. Manfaatkan suamimu ini sebaik mungkin sayang, itu gunanya aku ada." ucap Keenan menenangkan hati tak enakan sang istri.
__ADS_1
Arumi menatap punggung lebar suami nya, hatinya menghangat setiap kali mendapat kan perhatian Keenan. Padahal wajar, Keenan adalah suaminya. Namun terasa sangat berbeda bagi Arumi, cinta Keenan padanya begitu tulus. Sudah sebulan lebih, Keenan bekerja dari rumah demi bisa mengurus nya selama kehamilan hingga melahirkan.