
Daru menghela nafas nya sebelum masuk ke dalam gedung ballroom. Di tatapnya orang-orang yang silih berganti memasuki gedung megah hotel, di mana pernikahan Alisya dan Mike di selenggarakan.
"Pak, kita jadi masuk kan? Sayang, saya sudah dandan secantik ini kalau batal. Di dalam makanan nya pasti enak-enak, saya sudah bawa banyak plastik buat jarah berbagai jenis makanan di prasmanan nanti." Ujar Rini terlihat sumringah, Daru menoleh ke samping dimana sekretaris terlihat tersenyum sendiri. Hati nya semakin dongkol.
"Kalau niat mu hanya mau datang untuk merampok makanan di dalam, sebaik nya kau tunggu saja di mobil." Kesal Daru dengan suara datar.
"Eh? mana bisa pak, saya sudah dandan cakep-cakep gini masa tidak jadi masuk sih. Kan rugi, maksud saya bapak yang rugi. Udah beliin baju kuno ini mahal-mahal, terus biayain saya ke salon. Itu semua tidak murah loh." Cecar Rini protes. Bibir nya sudah berlipat cemberut. Selain akan menjarah makanan, Rini punya misi lain. Yaitu mencari calon pendamping hidup, yang mungkin saja tulang rusuk nya tercecer di dalam gedung ballroom tersebut.
"CK! enak saja gratis, semua itu di potong dari gaji mu setiap bulan nya tau!" ketus Daru tak terima, sementara dada Rini mulai kembang kempis menahan emosi. Jika saja gaun itu adalah hasil pilihan nya sendiri, tidak lah masalah. Namun gaun kuno itu adalah pilihan bos nya. Enak saja pikirnya tak terima.
"Tidak begitu ya pak, itu namanya penipuan. Bukannya bapak bilang, tenang saja semua saya yang bayar. Ini kenapa saya harus mencicil segala sih. Gaun kuno begini juga, di pasar juga banyak. Harganya paling banter 90rb kalau di tawar." Rini mulai nyolot, tak peduli siapa yang sedang dia hadapi sekarang.
Daru memutar bola matanya jengah. Sekretaris nya itu jika urusan gratisan selalu nomor satu dan terkesan tak tau malu. Namun jika menyangkut ganti rugi jenis apapun, wanita itu akan langsung bertanduk seperti seekor rusa liar.
"Aku bercanda, aku tau kau ini perhitungan dan kere. Ayo masuk, dan ingat, jangan membuat ku malu. Aku akan pura-pura tidak mengenal mu nanti jika kau mulai bertingkah norak." Ancam Daru kemudian kedua berjalan keluar menuju ke dalam gedung.
Perasaan Daru semakin tak karuan, bayangan akan bertemu Imah membuat nya frustasi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bibi cantik sekali, jadi pengen cepat dapat jodoh juga." Ucap Elsye dengan gaya centil nya.
"Anak kecil tidak boleh ngomongin jodoh dulu, liat teteh. Jomblo aja bahagia tuh" canda Alisya membuat Imah tersenyum canggung. Entah kenapa sejak pertemuan terakhir nya dengan Daru, hati nya malah semakin gelisah tak beralasan.
__ADS_1
"Yee, teteh mah takut sama Abi. Abi kan kaya ponpes, teteh jadi segan, takut. Ya kan teh?" belas Elsye mencari pembenaran. Imah hanya menggeleng samar, lalu pamit keluar lebih dulu dari ruang rias sang bibi.
"Teteh kenapa bi? belakang sering melamun, apa sedang ada masalah atau gimana ya?" tanya Elsye terkesan bermonolog dengan pemikiran nya sendiri.
Alisya tau apa yang tengah Imah pikirkan, gadis remaja itu sedang dilema dengan perasaan nya sendiri.
"Udah, biarin aja, teteh lagi banyak tugas kampus. Kuliah kedokteran itu banyak menguras pikiran, jiwa raga serasa lelah semua. Tidak segampang yang di lihat orang-orang awam." Tukas Alisya agar sang keponakan tidak lagi banyak bertanya.
Elsye hanya manggut-manggut, diri nya saja yang baru kelas 1 SMA sudah pusing oleh berbagai rumus kimia dan fisika. Imah pasti lebih berat lagi pikir nya menyetujui ucapan bibi nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Selamat malam pa. Terimakasih sudah mengundang ku ke pernikahan Alisya." Sapa Daru pada mantan calon mertua nya, walau sedikit canggung namun sudah tidak ada lagi masalah terpendam di antara mereka.
"Malam juga nak Daru, terimakasih juga sudah menyempatkan diri untuk menghadiri acara sederhana ini. Ayah dan ibu mu sudah datang sejak tadi, papa pikir kau pasti sibuk karena belum juga terlihat di pintu masuk." Kekeh Angga menyambut sapaan hangat Daru. Angga sudah menganggap Daru seperti putra nya sendiri, kesalahan Daru memang fatal karena telah melukai hati putri nya. Namun mengingat dosanya yang telah lalu, Angga menyadari jika karma telah mampir ke dalam kehidupan nya melalui putrinya yang tak bersalah.
"Kau jalan dengan Rini sekarang ?" Wajah Daru pias, bingung harus menjawab apa. Namun saat Keenan menghampiri mereka, tekad nya bulat menjadikan Rini sebagai tamengnya.
"Begi...." namun kalimat nya menggantung saat melihat Rini berkenalan dengan gaya malu-malu di ujung meja prasmanan. Daru memejamkan kedua matanya, entah bagaimana lagi cara menyelamatkan harga dirinya yang sedang banting stir sekarang.
"Itu... baru dekat saja pa" lanjut Daru sedikit gugup sambil menggaruk tengkuknya, tatapan Keenan membuat otak cerdas nya mendadak tak berfungsi dengan baik.
Angga tersenyum penuh arti, lalu menepuk bahu Daru.
__ADS_1
"Jika kau ingin meraih seseorang, kau harus mampu melampaui banyak batas. Jika hati mu tulus dan niat mu baik, maka tidak ada jalan yang terlalu sulit untuk di telusuri. Kau hanya perlu berjuang lebih keras, bukan malah menutup peluang mu sendiri dengan keraguan dan ketakutan yang tidak cukup beralasan." Nasihat Angga menyentil hati kecil nya, namun berhadapan dengan Keenan, Daru jelas tidak mampu. Dari segi apapun, dia kalah telak sebelum berjuang. Dia tak ingin membuat Imah merasa menjadi anak yang tidak tau terimakasih pada kedua orang tua nya.
"Akan aku pertimbangkan pa, ada kala nya sesuatu tidak harus selalu kita miliki walau kita sangat menginginkan nya. Cukup melihat nya baik-baik saja, itu akan memberikan banyak kebahagiaan dengan cara tersendiri." Balas Daru penuh makna, tatapan nya bersitatap dengan Keenan. Tatapan yang hanya kedua nya saja yang paham, atau bahkan mereka berdua justru sedang mencari jawaban dari tatapan tersebut.
"Nikmati pesta nya, jangan lupa juga hidangan nya. Seperti nya sekretaris mu akan sedikit sibuk malam ini, cari lah partner dansa mu nanti. Dia pasti lupa jika datang kemari bersamamu." Gelak Angga menatap bagaimana Rini yang masih menebar racun pesona nya dengan gaya yang lucu.
"Papa benar, seperti nya aku sedikit tersingkir dari keramaian pesta malam ini." Kekeh Daru hambar. Hatinya mendadak kosong, keramaian pesta itu tidak membuat nya merasa sedang berada di sebuah pesta. Apa lagi saat melihat Imah yang tengah berbincang ria dengan seorang pria. Hati nya gusar, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Pak? pak Daru ?" Suara panggilan Rini membuyarkan pikiran kacau nya. Daru menoleh dan melihat wajah malu-malu senang sekretaris nya, feeling nya sudah tak baik. Wanita itu pasti sedang ada mau nya.
"Kenapa?" tanya Daru galak.
"Isshh bapak, galak bener. Kaya lagi kecewa di tinggal nikah sama ibu Alisya saja." Ucap wanita itu sekenanya.
"CK! dasar otak kotor, suka main tuduh sembarangan. Kau mau apa kemari, mana para pria yang berkenalan denganmu tadi?" Tanya Daru heran. Kenapa malah Rini menghampiri nya dengan tingkah yang mencurigakan.
"Itu... anu pak, nanti pulang nya saya ikut teman ya pak, jadi bapak tidak perlu menunggu atau mencari saya kalau tiba-tiba saja saya mendadak hilang dari pantauan bapak." Sudah Daru duga, apa lagi melihat gaya Rini yang tengah mesen-mesem. Daru menghela nafas panjang, tidak ada kah satu orang saja yang mau menemani nya menghadapi kenyataan buruk malam ini.
"Ya sudah, ingat pesan saya. Jaga diri baik-baik, wanita it..."
"Selalu meninggalkan bekas, sedang kan pria tidak. Paham pak, kalau nanti ada pria yang berani macam-macam sama saya, akan saya semprot pakai bubuk cabe di dalam tas saya ini." Rini memotong cepat kalimat Daru lalu menepuk tas nya dengan senyum bangga. Sebelum berangkat, Rini membawa serbuk cabai dalam sebuah botol spray sebagai senjata nya.
"Astaga... tidak begitu juga Rini" ujar Daru geram dan gemas sendiri dengan tingkah sekretaris nya. "Kau bisa membuat seseorang buta dengan itu, kamu mau masuk penjara. Cukup tendang saja kem*a*luan nya dengan keras, itu sudah cukup." Nasihat Daru sedikit gregetan.
__ADS_1
"Bukannya itu malah berbahaya ya pak? kan bisa tidak berfungsi lagi junior nya, apa tidak masalah kalau saya tendang ? Ya sudah lah, kan ide nya dari bapak. Jadi hukuman nya kita bagi dua kalau misalnya jadi kasus dan di tuntut." Ucap Rini enteng kemudian berlalu dari hadapan Daru yang menampilkan wajah bodohnya. Bisa-bisa nya dia juga di bawa-bawa. Dasar sekretaris gila Daru membatin kesal.
Di tatapnya Imah yang masih sibuk melempar candaan dan senyum manis pada teman nya. Hati Daru mulai meriang ingin mendapat perhatian. Malam ini sungguh sial, Rini yang dia harapkan dapat menjadi tameng nya. Kini malah sibuk bergandengan mesra dengan kenalan baru nya. Harga diri nya benar-benar terjun bebas tak terselamatkan.