
Dua minggu pasca kejadian di kantin kampus, hidup Sonia benar-benar tentram tanpa gangguan. Tak ada yang berani mengganggu gadis cantik itu bahkan meski hanya sekedar berpapasan, mereka akan memilih pura-pura tidak melihat Sonia. Terkadang Sonia geli sendiri melihat tingkah ketakutan anak-anak di kampus tersebut.
Kini diri nya tengah duduk damai menikmati sekotak puding jagung buatan bi Nuri. Dua minggu ini Sonia mulai diet gila-gilaan. Gadis itu bahkan tak pernah menyentuh nasi atau sejenis karbohidrat lain nya. Hanya puding saja untuk mengisi lambung kecil nya.
"Boleh ikut duduk di sini?" Eiden langsung duduk meski baru saja meminta ijin, Sonia menatap sekilas kemudian melanjutkan makan nya tanpa peduli.
"Tatapan nya gitu amat, aku tidak bakalan di tonjok atau di patahin kan, kalau duduk di sini?" Eiden masih betah menatap wajah gadis yang sudah mencuri perhatian nya sejak hari pertama Sonia menjadi mahasiswi baru di kampus nya.
"Duduk ya duduk aja, tidak perlu banyak bicara." Balas Sonia dengan nada mulai tak santai. Eiden menarik sudut bibir nya, ini pertama kali nya seorang gadis secuek juga seketus ini pada nya. Eiden pria paling populer di kampus nya, ketampanan nya selalu menghipnotis para gadis di mana pun diri nya berada. Salah satu yang mengklaim Eiden adalah milik nya, adalah gadis yang dua minggu lalu Sonia patah kan tangan nya.
"Galak bener, tar kalo jatuh cinta malu sendiri kan?" Balas Eiden percaya diri. Entah mengapa melihat kemarahan Sonia seperti sesuatu yang menyenang kan bagi nya. Eiden tak suka iseng, apa lagi basa basi. Namun bersama Sonia terasa berbeda.
"Sorry? aku, jatuh cinta sama situ? hellow epribadeeehhh! Nehi nehi lah yaau!" Gadis itu lekas beranjak tanpa peduli pada Eiden yang ternganga mendengar kalimat nya.
"Ck! dasar cewe bar-bar. Tapi aku semakin menyukai mu, Sonia. Kita lihat saja, aku akan menakluk kan hati mu tak lama lagi. Jangan panggil aku Eiden kalau tidak bisa meluluh kan hati mu." Seringai licik Eiden tercetak jelas. Sonia semakin membuat nya tergila-gila. Pria dingin dan datar itu otw menjadi seorang calon bucin dalam hidup tenang Sonia kelak.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sayang? ke rumah kita yuk, malam ini." Imah menggeleng pelan, dia tau akan bagaimana nasib nya nanti jika mereka sudah tiba di rumah kita versi sang suami. Rumah itu tak jauh dari kediaman kedua orang tua nya. Hanya berjarak 10 menit saja.
__ADS_1
"Terus anak-anak, di bawa?" pancing Imah tanpa menoleh, bibir nya mengatup menahan tawa.
"Eh? tidak, tidak! apaan, ya kita berdua saja sayang. Seperti biasa nya, anak-anak tinggal sama akung dan uti nya. Kalo di ajak sama aja boong." Gerutu Daru di ujung kalimat nya.
"Ya sudah, nanti aku ke sana sorean aja. Sekalian mau buat makan malam, papa kan suka lapar kalau malam." Usul Imah.
"Boleh deh. Abis buang energi banyak ya memang suka laper. Wajar kan, nama nya juga aku yang kerja keras." Ujar Daru jumawa. Imah mencebik, siapa juga yang selalu menolak jika diri nya ingin mengambil alih kegiatan panas mereka lebih lama.
"Jangan sayang, aku suka tidak kuat lama-lama kalo kau di atas. Permainan senikmat ini sayang jika di akhiri cepat-cepat." Itu lah alasan klasik yang selalu sang suami katakan pada nya. Meski begitu tubuh nya tetap terasa remuk redam. Suami nya itu selalu bermain dalam durasi yang tak sebentar. Belum lagi mereka selalu berimprovisasi dengan berbagai gaya, dan itu cukup melelahkan.
"Aku pamit kerja dulu ya, sun dulu sini...suami berangkat kerja itu harus di beri suntikan imun, biar semangat cari uang buat beliin istri cantik ku ini lingerie seksi." Goda Daru mengerling. Imah mencubit pelan perut sang suami. Suami nya itu lebih suka membuang uang untuk membeli baju kurang bahan itu ketimbang membelikan nya skincare.
Daru memiliki gaya bercinta yang liar bersama sang istri. Namun tetap dalam batasan wajar, imah pun tak keberatan.
Untuk itu mereka perlu tempat memadu kasih yang hanya mereka berdua saja. Daru akan mengajak nya mengeksplorasi seluruh penjuru rumah untuk mencari spot terbaik untuk memulai perjalanan penuh peluh tersebut. Dan rumah kita ala Daru lah, tempat yang cocok bagi kedua nya. Daru bebas berteriak menyebut nama istri nya begitu pun sebalik nya.
Di usia nya yang mulai tak muda lagi, Daru tak ingin Imah merasa bosan dengan gaya bercinta yang monoton. Hingga akhir nya terbersit ide untuk mempraktekkan gaya-gaya yang mereka tonton di channel terpercaya. Awal nya imah risih, namun lama kelamaan mulai tertagih.
"Ya sudah sana, aku mau isi lemari Snack anak-anak dulu. Mereka pasti begadang malam ini bersama mbah Kakung sama mbah putri nya. Cemilan kudu tersetok penuh." Ucap Imah yang masih di peluk oleh sang suami.
__ADS_1
"Hati-hati ya kalo ke depan kompleks, dengar-dengar ada penjaga kompleks yang baru. Masih muda dan ganteng, itu menurut ibu-ibu kompleks sini. Padahal biasa aja, tidak ada yang istimewa." Cibir Daru mendadak kesal sendiri. Teringat senyum manis pria penjaga kompleks perumahan mereka tersebut. Dengan lesung pipi yang dalam, serta wajah yang rupawan. Sungguh Daru ingin langsung memecat nya saja jika bisa. Pria muda itu sungguh meresah kan jiwa dan pikiran nya.
"Masa sih, cakep kok pa. Kemarin dia senyumin mama sama Elsye waktu lewat di depan pos jaga." Bantah Imah sontak membuat kedua mata Daru melotot sempurna.
"Kapan? kenapa keluar tidak bilang-bilang dulu? mau jadi istri durhaka ?" cecar Daru kesal.
Imah sontak tertawa renyah.
"Gitu aja marah, kemarin loh mama sama papa seharian di kantor. Lupa?" Daru menggaruk tengkuk nya yang mendadak gatal.
"Awas ya kalau mama mulai nakal, hukuman nya nanti malam dua jam nonstop." Imah melotot tajam. Ancaman sang suami selalu benar ada nya, jika pria itu merasa cemburu. Maka bersiap lah jiwa raga nya bakal menerima rasa lelah.
"Ishhh.. ancaman nya itu mulu. Papa seneng kan?" ucap Imah sewot.
"Tuh tau. Maka mya sama suami jangan suka iseng. Udah tau punya suami cemburuan, masih aja di usilin. Aku berangkat dulu ya, jangan lupa mandi susu nya. Biar makin licin kaya porselen nya umi." Kekeh Daru mencium gemas bibir sang istri.
"Udah tidak sabar mau unboxing barang lama tapi selalu terasa baru ini." Tangan nakal itu sudah bertengger cantik di dada bulat sang istri, dan satu lagi mulai meremat bokong berisi Imah.
"Ishhh... berangkat gih, tar papa kena omel abi lagi baru kapok." Akhir nya Daru berangkat dengan sedikit lesu. Namun mengingat nanti malam akan melakukan ritual wajib mereka, semangat nya seperti tersulut pertalite.
__ADS_1
Imah menggeleng kepala melihat tingkah suami nya yang semakin hari semakin menempel pada nya seperti lem. Tak ada bosan nya pria itu memuji nya setiap saat. Padahal Imah sudah khawatir melihat para wanita yang berseliweran di sekitar sang suami. Namun melihat bagaimana suami nya memperlakukan nya, Imah mulai menanam kan kepercayaan penuh pada suami nya. Memang harus seperti itu jika ingin hubungan langgeng hingga maut menjemput.