Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Menunggumu Dengan Caraku


__ADS_3

"Makan di mana, Mah?"


"Warung pinggir jalan saja, aku tidak terbiasa makan di restoran." Jujur Imah tanpa malu.


"Siap bidadari"


"Cih, apaan sih. Bidadari dari kolong jembatan, ya." Tukas Imah dengan wajah merona, gadis itu memalingkan wajahnya ke samping. Daru tersenyum melihat reaksi Imah, dia menyukai nya. Wajah malu-malu Imah membuat dada nya semakin berdegup kencang.


"Makan di sini aja, gimana? sambel terasi nya mantap, aku sering mampir."


"Sama bibi Alisya ?" tanya Imah, entah kenapa dia merasa sedikit tidak nyaman. Jika sesuatu berhubungan dengan masa lalu Pria itu.


"Bukan, bibi mu itu, mana mau makan di tempat seperti ini. Dia risih, suka ada yang tiba-tiba ikut duduk di meja nya kalau meja lain penuh." Jelas Daru tak ingin Imah memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan Alisya, entah kenapa dia merasa jika Imah sedikit cemburu pada nya. Tentu saja hati nya bersorak senang.


"Ayo duduk, masih sore, pelanggan masih sedikit. kalau malam suka berebut tempat duduk, yang paling apes kalau lagi ingin berduan. Eh, malah di tumpangi makan." Kekeh Daru membuat Imah terkesima, selama mengenal Daru, itu pertama kali nya, dia melihat Daru tertawa.


"Kenapa ? aku tampan ya?" ucap Daru menaik turun kan alisnya. Imah melengos malu.


"Mau pesan apa mas sama mbak nya?" sela seorang pelayan.


"Ayam penyet sambal terasi, masing-masing dua porsi, bagian dada nya ya mas. Minumnya es jeruk dua tambah air mineral satu botol tanggung." Daru memesan makanan tanpa bertanya pada Imah, namun Imah tak protes, karena pesanan Daru sesuai selera nya.


"Aku hebat kan, bisa nebak seleramu apa? jodoh kali ya" Ucap Daru percaya diri. Imah mencibir ucapan asal Daru.


"Yang tadi siapa? seperti nya dia menyukai mu" akhirnya Daru memberanikan diri untuk bertanya.


"Namanya Rendy, senior aku di kampus." Jawab Imah apa adanya.


"Dia kayanya menyukai mu?" ulang Daru penasaran akan jawaban Imah.


"Tapi aku tidak, aku ingin fokus kuliah dan membahagiakan kedua orang tua ku dulu. Aku belum memikirkan soal pacar apa lagi jodoh, masih jauh dari bayangan ku." Ungkap Imah jujur. Daru menghela nafas panjang, mendengar kalimat lugas dari mulut Imah.

__ADS_1


"Bagaimana jika ada pria yang menaruh hati padamu, apa kau akan memberinya kesempatan untuk meraih hati mu. Meski harus menunggu mu, hingga kau meraih sukses mu kelak?" Entah kenapa Daru menanyakan hal itu, dia hanya ingin memastikan. Tidak masalah jika harus menunggu 5-6 tahun lagi.


"Tergantung "


"Tergantung apa?" desak Daru tak sabar.


"Kalau dia pria baik, dan mau menunggu ku hingga bisa berdiri di kakiku sendiri. Akan aku pertimbangan" Sahut Imah tegas.


Daru mulai merasa tak percaya diri, dirinya bukanlah pria baik-baik.


"Bagaimana jika pria itu pernah melakukan Kesalahan di masa lalu, namun berusaha memperbaiki dirinya di masa sekarang. Apa kau masih mau mempertimbangkan nya?" Sambung Daru ketat ketir.


"Jika dia memang berusaha memperbaiki dirinya tanpa bertumpu pada sesuatu, akan aku pertimbangkan. Berubah itu bukan untuk mendapatkan sesuatu, tapi berasal dari dalam hati. Agar kelak ketika apa yang menjadi alasan kita untuk berubah, tidak akan menjadi duri dalam hidup kita suatu saat nanti." Papar Imah apa adanya.


"Kau benar, aku mengerti sekarang. Konteks berubah yang sesungguhnya. Terimakasih, Mah." Ungkap Dadu tulus dan Imah dapat melihat ketulusan di mata pria dihadapannya itu.


"Yang aku maksudkan tadi adalah diriku sendiri, bagaimana jika aku menyukaimu, sementara masa lalu ku sangat buruk, apakah kau akan mempertimbangkan aku atau tidak. Aku uring-uringan selama dua minggu ini, dan aku sadar, jika gadis menyebalkan yang pernah merawatku. Telah mencuri hati dan perhatian ku. Aku jatih cinta pada mu, Imah. Maaf jika aku lancang, aku sadar diri siapa aku. Kita berbeda, aku ini pendosa, dan kau gadis baik-baik. Tapi aku hanya ingin jujur pada hati ku sendiri, semua terserah padamu. Yang penting aku sudah jujur akan perasaan ku. Tidak perlu memikirkan nya jika akan memberat pikiran mu. Fokus saja pada kuliahmu, aku percaya, jika kita memang berjodoh. Sejauh apapun jarak diantara kita, Tuhan pasti akan mendekatkan mu padaku kembali." Ungkap Daru panjang lebar.


"Sudah, tidak perlu dipikirkan " Daru merapikan anak rambut Imah yang diterbangkan angin, hati Imah berdesir hebat. Begitu pun Daru.


Selesai makan, Daru mengantar Imah pulang, sepanjang jalan, Daru meminta ijin untuk boleh menggenggam tangan Imah, dan imah tidak keberatan.


"Mah? soal pembicaraan ku tadi, tolong jangan sampai membebani hati dan pikiran mu. Lupakan saja, aku tidak akan menggangu mu lagi, aku janji. Fokus lah pada cita-cita mulia mu, aku mendukungnya. Soal hatiku, biar aku yang akan menangani nya sendiri, itu bukan tanggung jawab mu. Aku baik-baik saja, berhati-hati lah pada teman pria di kampus mu. Jangan mudah percaya apapun yang mereka katakan. Jaga dirimu baik-baik, ya" ucap Daru terlihat sendu, dia akan menunggu Imah dengan cara tidak membebani pikiran gadis itu. Dia akan menghilangkan diri nya dari jangkauan Imah, dengan begitu Imah pasti akan menjalani hari nya dengan baik.


"Memang nya om Mau kemana?" tanya Imah polos. Daru terkekeh pelan, walau hati nya sesak.


"Tidak kemana-mana, aku akan fokus bekerja, agar pikiran ku bisa teralihkan darimu. Kau pasti kesal jika aku terus memikirkan mu." Kekeh nya lagi mengusap pipi chubby Imah.


"Oo" Hanya itu yang Imah ucapkan, hati Daru semakin miris.


Tanpa aba-aba Daru mencium kening Imah, ciuman hangat yang begitu dalam. Imah terkesiap, namun tak menolak.

__ADS_1


"Jangan suka tidur larut, belajar jangan terlalu keras, kau bisa sakit. Turun lah, maaf aku tidak sempat mampir, katakan pada orang tua mu. Aku mengantarmu dalam keadaan utuh, tak kurang satu apapun." Imah tertawa pelan, sangat cantik di penglihatan Daru.


"Jangan terlalu sering tersenyum dan tertawa pada lawan jenis, nanti mereka bisa baper. Aku akan banyak saingan untuk mendapatkan hatimu kelak." Wajah Imah merona hingga memerah.


"Aku mau masuk" kilah Imah berusaha untuk segera kabur dari hadapan Daru.


"Jangan kabur, coba lihat aku sini" Daru menangkup kedua pipi Imah agar menghadap ke arah nya. "Jangan memberi banyak celah pada laki-laki lain, kecuali kau menyukai nya. Aku akan menunggu mu dengan caraku sendiri, tidak peduli jika kelak setelah kau sukses menjadi dokter bedah yang hebat. Kau masih tidak memilih ku, aku akan pergi setelah nya. Membiarkan mu hidup dengan tenang tanpa pria tua ini lagi yang akan menggangu mu." Lirih Daru setengah berbisik.


Imah termangu tak tau harus menjawab apa, kata-kata Daru terlalu dalam untuk dia selami.


"Masuklah," titah Daru akhirnya, Imah keluar dari mobil Daru dengan perasaan berkecamuk.


Setelah Imah sudah tak terlihat lagi, Daru melajukan mobilnya. Ada perasaan lega di hatinya, telah mengungkapkan perasaan nya oada Imah.


ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ


Dua Minggu setelah pertemuan dengan Imah, hidup Daru sedikit tidak bersemangat. Namun demi janji nya pada gadis itu, Daru berusaha menahan diri, saat tanpa sengaja melihat Imah bercengkrama dengan teman pria di halaman depan kampus nya.


"Pak? gaun ini cocok tidak dengan ku?" Rini memutarkan tubuhnya di hadapan Daru, mereka tengah berada di sebuah butik. Daru menjadikan Rini sebagai tamengnya agar Keenan merasa tenang dengan kehadiran nya di pernikahan Alisya.


"Mau sampai kapan kau terus bertanya, kalau aku jujur kau pasti sakit hati. Tidak ada satupun yang cocok dengan tubuh rata mu itu." ketus Daru menatap jengah pada sekretaris nya. Dia sudah tidak betah berada di sana, tatapan para wanita sungguh membuat nya tidak nyaman.


"Ishh bapak kejam sekali. Tau gini aku oergi sendiri tadi," gumam Rini memberengut kesal.


"Yang tadi saja, yang pertama kau coba. Itu cocok untuk menutupi kekurangan di tubuh mu." Tukas Daru tanpa perasaan. Rini melengos pergi mengambil gaun pertama yang dia coba.


"Kok kaya noni-noni belanda sih?" keluh nya kesal, baju itu sejak pertama mereka datang. Daru langsung menyuruh nya mencoba. Dan dia sangat tidak suka dengan jenis pakaian tertutup, bawaan nya suka gerah dan gatal.


"Sudah belum, kalau kau masih lama, aku tinggal duluan. Kau bayar sendiri belanjaan mu" desak Daru mulai tak sabar. Rini nampak panik, tidak satupun gaun di sana harganya di bawah 10 juta. Bisa-bisa tabungan langsung terkuras habis hanya untuk membeli satu gaun saja.


"Ya pak, ya. Tidak sabaran sekali. Mbak, aku ambil yang gaun kuno ini saja" ujar Rini membuat si penjaga butik tersenyum lucu. Model nya memang seperti gaun noni belanda, tapi bukan berarti gaun itu kuno.

__ADS_1


__ADS_2