
Setelah dua hari kondisi Imah berangsur membaik. Daru kini tengah menyeka tubuh istri nya dengan begitu telaten. Subuh tadi perawat sudah menawarkan diri untuk membersihkan tubuh Imah, namun pria itu menolak nya.
"Ini sakit banget ya, di bawa duduk gini? rebahan aja ya.." Daru terlihat khawatir, saat melihat ringisan kecil di wajah istri nya.
"Tidak pah, gini aja..lagi pula kan memang harus sudah mulai belajar duduk sama jalan. Terlalu banyak rebahan malah membuat luka nya lambat mengering." Tolak Imah halus. Sudah dua hari diri nya berbaring, ada rasa perih di bagian belakang nya. Hari ketiga diri nya mulai berusaha untuk ke kamar mandi meski Daru berkali-kali melarang nya.
"Yakin ya..Ayo pake baju nya dulu, bentar lagi anak-anak bakal di antar kemari." Daru dengan telaten memakai kan baju pada istri nya. Arumi yang baru tiba diam-diam memperhatikan apa yang di lakukan sang menantu. Dia tersentuh melihat perhatian Daru yang begitu tulus pada putri nya.
"Khmmmm..maaf umi masuk tidak ketuk pintu dulu." Ujar Arumi tak enak hati. Daru menoleh sekilas menyapa sang mertua, kemudian kembali fokus mengikat rambut panjang istri nya.
"Tidak apa-apa umi..abi mana, langsung berangkat ke kantor?" balas Imah menanyakan sang ayah.
"Tadi mutar ke kamar bayi dulu, kangen cucu kata nya.." Jelas Arumi terkekeh kecil, Keenan tampak tidak ingin berjauhan lama-lama dari kedua cucu nya. Di usia nya yang masih terbilang muda, memiliki dua cucu sekaligus adalah sebuah kebanggaan tersendiri di hati nya.
"Kaya nya aku bakal kalah saing deh ntar, abi lebih banyak mendominasi kaya nya.." keluh Daru duduk di samping sang istri.
"Abis keluar dari rumah sakit, abi mau kalian tinggal di rumah untuk sementara sampai Imah kuat dulu. Itu pun kalau kalian tidak keberatan.. rembukan saja dulu baik nya gimana. Jangan maksa kalau memang berat, bagaimana pun kalian juga sudah punya rumah sendiri. Kami tidak apa-apa, masih dekat juga untuk bolak balik ke sana." Terang Arumi memaparkan niat nya dan sang suami. Tidak ada paksaan dari nada bicara nya, hanya harapan seorang ibu yang ingin ikut andil merawat anak beserta cucu nya.
Daru sejenak berpikir kemudian mengangguk-angguk pelan.
"Aku sih setuju aja, gimana sayang?" Imah nampak berbinar, dia sudah akan menjawab tadi hanya saja menunggu keputusan suami nya terlebih dahulu.
"Aku mau aja sih, pah...emang boleh ya, abi pasti bakal tidak akan sebentar ngasih tinggal kita di rumah besar." Timpal Imah menatap suami nya memastikan. (Rumah besar, dua kata yang biasa di ucap kan di novel Di Ujung Lelahku.. Untuk mansion mewah Reegan)
"Aku tidak masalah sayang, di mana saja asal bersama mu dan anak-anak bagi ku sama saja. Di rumah kita ayo, di rumah besar juga ayo.." Ujar Daru penuh pengertian. Dia pun memiliki trauma di rumah mereka karena kejadian beberapa hari yang lalu. Genangan darah di tangga dan di lantai membuatnya sering kali bergidik ngeri saat memasuki rumah tersebut.
Klek
__ADS_1
Terlihat Keenan masuk dengan mendorong satu boks bayi, dan satu lagi di dorong oleh seorang perawat.
"Oma...lihat siapa yang datang.." ucap Keenan dengan nada ceria. Setelah masuk, Keenan segera mengangkat tubuh mungil cucu perempuan nya. Pria itu duduk di samping sang istri sambil memamerkan keahlian nya dalam menggendong sang cucu tercinta.
"Abi masih fasih banget momong bayi.." puji Arumi tersenyum melihat bagaimana cekatan nya sang suami menggendong cucu perempuan mereka.
"Opa dong, oma.." protes Keenan sembari mencium gemas pipi bulat cucu nya.
"Ya ya, opa.. dengar nak, opa sekarang jadi suka sensi sama oma." Adu Arumi pada cucu nya.
"Sekarang kan sudah ada kesayangan baru opa, jadi oma antri dulu ya kalau mau di kelon sama opa.." Goda Keenan menjawil pipi sang istri.
"Bu, bayi nya di susui dulu ya. Bergantian saja dengan adik nya.." Ujar seorang perawat yang baru saja selesai mengganti cairan infus Imah.
"Baik sus, terimakasih banyak.. Oh ya, stok susu nya masih ada tidak? takut nya nanti mereka kurang merasa kenyang, soal nya aku baru mau belajar juga. Khawatir mereka malah rewel nanti." Terang Imah terlihat cemas. Maklum ibu baru pasti merasakan apa yang Imah rasa kan.
"Ada bu, nanti di antar kemari. Ada sisa popok nya juga masih banyak, tadi lupa saya bawa langsung waktu kemari. Kakek nya seperti nya sudah tidak sabar mau menculik cucu nya.." seloroh sang perawat tersenyum simpul. Keenan menuli kan telinga nya, memang dia yang tidak sabaran ingin segera membawa cucu nya ke sana. Mengingat jika di ruangan itu hanya boleh menjenguk sesekali saja. Keenan merasa kurang puas bermain bersama cucu nya, meski hanya dia yang berceloteh riang.
"Lancar bu, 4 jam setelah lahir.. dua-duanya pada lomba pup, sekarang sudah tidak hitam lagi. Pup nya lancar dan tekstur nya bagus. Sehat banget anak ibu, pencernaan nya." Terang sang perawat menjelaskan.
Daru membantu istri nya mengarah kan mulut mungil sang anak ke puncak dada ibu nya. Sekali hap, mutlak tak ingin lepas lagi. Daru terkekeh melihat bagaimana rakus mya sang anak melahap puncak dada istri nya dengan isapan yang sangat kuat.
"Hebat banget sih, bisa langsung pas gitu ya.." ucap Daru menatap takjub pemandangan ajaib di depan nya. Jari nya mengusap-usap lembut pipi sang anak.
"Kan sudah di atur begitu dari sana nya.." sahut Imah terkekeh lucu melihat reaksi Daru yang terus berdecak kagum.
"Mari pak bu, saya permisi. Nanti akan ada perawat lain yang mengantarkan kebutuhan dedek nya kemari kalau saya tidak sempat." Pamit sang perawat lalu beranjak keluar ruangan.
__ADS_1
"Papa bisa kalah nih kalau begini situasi nya..." protes Daru tercengang melihat sang anak yang semakin melahap kuat puncak dada ibu nya.
"Sabar papa, gantian sama abang sama adek ya.." goda Imah menjawil hidung mancung suami nya. Daru menangkap ujung telunjuk istri nya menggunkan bibir nya.
"Iseng banget, lepas ih..abang marah nih!"
"Abis gemes aku sayang, bang..gantian adek dong, kasian tuh belum nen mama.." namun bayi merah itu masih terus melakukan aktivitas nya tanpa berniat sekalipun melepaskan sumber makanan nya.
"Lancar keluar asi mu, nak?" Arumi berdiri di samping ranjang menatap cucu nya yang tengah sibuk menguras sumber kehidupan tersebut.
"Lumayan mi, kaya ada rasa ngilu gitu kadang.."
"Itu asi nya keluar deras, biasa nya memang berasa sedikit nyeri di puncak dada. Itu bagus, berarti sudah tidak perlu menggunakan susu formula lagi. Tapi ini seperti nya tidak mau mengalah, nih. Hei jagoan, gantian sama adek nya dong...duh gemes oma liat nya, kalo gini." Arumi berjongkok mencium lembut pipi sang cucu dengan sayang. Lalu mencium kening sang anak dengan perasaan yang sama.
Dadu terharu melihat bagaimana istri nya begitu di sayangi.
"Udah belum si abang, oma?" seru Keenan dari arah sofa. Pria itu masih memangku cucu nya sambil menonton berita tentang kasus harkat dan martabat, yang belakangan ini lagi viral di media sosial.
"Belum opa, cucu opa ini agak sulit berbagi nih kaya nya..."Jawab Arumi di arah ranjang.
"Lepas aja sayang, pelan-pelan saja. Itu sudah kenyang sebenarnya, tapi kalau namanya bayi, suka ngempengin buat mainan." Arumi membantu sang anak yang masih sedikit kaku mengangkat cucu nya. Lalu membawa nya ke boks.
"Siniin adek, opa. Adek mau nen yaa dek ya.." Begitu lah kesibukan Arumi dan Keenan sekarang. Menjadi nenek dan kakek merupakan hal yang luar biasa bagi mereka berdua. Peran baru selain menjadi orang tua. Keenan lebih banyak bekerja dari rumah, ada saja alasan nya jika mangkir dari kantor.
Arumi hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan sang suami. Daru sering mengeluh pada istri nya karena selalu kalah start dari sang mertua dalam hal mengasuh si kembar. Namun begitu, Daru tidak lah marah. Jauh di dalam hati nya, terbersit rasa syukur yang besar. Karena telah menjadi bagian dari keluarga penuh kasih sayang dan perhatian seperti keluarga Sudibyo.
Sang kakek Reegan pun menyambut antusias kedua cicit nya.
__ADS_1
โPromosi Novel baru! Yang berkenan, mampir yaah! Jangan lupa dukungan nya, Like+Favorit, Vote+hadiah juga boleh ๐๐ค๐๐๐๐๐ฅฐ๐ฅฐ