
Keenan tidak bisa tidur nyenyak, dia merasa gelisah dan perut nya sedikit sakit dan kram.
"Bi? bisakah kau tidur dengan tenang. Aku sudah sangat mengantuk" omel Arumi, karena sejak tadi, Keenan terus mengubah posisi tidur nya. Entah apa yang pria itu rasakan.
"Perutku mulas tapi tidak keterusan, berjeda sebentar lalu kemudian sakit lagi. Pinggang ku juga mulai ikut-ikutan keram tidak jelas. Sakit banget sayang" adu Keenan, dapat Arumi lihat bulir keringat dikening suaminya.
"Makan apa memang nya tadi siang, atau sore? kan ada ke rumah Al tadi." Arumi mencoba untuk mengingat kan suaminya, siapa tau saja salah makan.
"Aku tidak ada makan apa-apa sayang, kau kan tau, aku tidak bisa makan di luar rumah kalau tidak bersama mu" ungkap Keenan jujur. Karena dia tidak akan bisa makan jika tidak makan bersama dengan istri nya.
"Ke rumah sakit apa gimana? mau ya, dari pada kesakitan gini." Arumi mulai cemas, wajah keenan sudah pucat.
"Ya mi, aku sudah tidak kuat lagi. Ini sakit banget, bab juga tidak." Keluh Keenan dengan suara mulai bergetar menahan sakit.
"Yuk, aku mau telpon Kalla atau Kavin dulu ke atas. Aku takut nyetir sendiri" tanpa menunggu jawaban suaminya, Arumi menelpon iparnya untung Kalla sedang bergadang main game online.
"Bun, ini aku, Kalla. Bangun gih, kak Keenan sakit tuh mau di bawa ke rumah sakit." Kalla mengetuk kamar orang tua nya dengan tak sabar.
Klek
Reegan dengan wajah ngantuk menatap Kalla tak berkedip. " Arumi Udah mau lahiran?" tanya Reegan memastikan pendengaran nya.
"Bukan yah, kak Keenan. Mules ini mau di bawa aku tidak kuat mapah sendiri." Reegan mengerjab kedua matanya berusaha mencerna perkataan putra nya.
"Yah?" Kalla tak semakin tidak sabar.
"Heh? oke oke, bentar, ayah bangunkan bunda dulu." Reegan kembali masuk kedalam kamar untuk membangun kan sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sebenarnya anak saya sakit apa dok?" Reegan mulai gusar, sejak datang tadi, masing-masing dokter mengatakan jika Keenan tidak mengidap satu penyakit apapun. Namun dilihat saja, putranya itu sangat kesakitan dan terlihat menahan sakit yang luar biasa.
"Kita, lihat perkembangan nya sampai besok pagi, jika tidak ada perubahan. maka akan kami lakukan pengecekan ulang dan menyeluruh." Saran sang dokter.
__ADS_1
Reegan keluar dari ruangan dokter berjalan gontai menuju ruangan putranya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bi? jangan gini dong, umi takut ini" Arumi terisak dikursi samping ranjang Keenan. Wanita itu menggenggam tangan suaminya erat, seolah takut Keenan akan meninggalkan nya.
"Mi, jangan nangis dong. Aku makin kesakitan nih" Arumi cengo, Kenapa suaminya jadi ngegas sih.
"Aku khawatir kenapa malah di marahi sih" protes Arumi menangis semakin keras. Sarah yang mendengar dari arah luar bergegas masuk. Pikiran nya sudah kemana-mana.
"Ada apa Rumi? Ken?" tanya sarah bingung,. putranya baik-baik saja walau terlihat sangat pucat dan lemas.
"Umi berisik, nangis mulu, aku nya makin sakit ini" adu Keenan, Sarah hanya bisa menghela nafas panjang.
"Rumi itu cemas Ken, kenapa malah di marahi?" Sarah menasehati.
"Aduh duh sakit ni datang lagi, bunda berisik sih. Udah keluar sana semuanya" usir Keenan kala sakit diperut nya kembali melanda.
Arumi dan Sarah hanya bengong, keduanya bertatapan aneh. Tiba-tiba di sela Keenan yang mulai menjerit kesakitan, dari sela paha Arumi mengalir air. Sarah yang tanggap segera membawa menantu ke ranjang khusus keluarga pasien.
"Sabar ya, dokter bentar lagi datang.." Sarah menenangkan Arumi yang bahkan terlihat biasa saja.
"Aku baik bunda, tidak ada rasa sakit apapun." Sarah menatap putranya, dan sekarang dia paham. Keenam mengalami kontraksi melahirkan. Ketika tawa Sarah pecah bersamaan dengan dokter dan perawat masuk.
"Dok aku seperti nya mau mati, sakit banget ini, aku tidak kuat. Bun ayah mana? aku mau buat wasiat untuk anak dan istri ku....." Keenan mulai meracau tidak jelas namun, bukan dirinya yang di tangani, malah dilewati begitu saja. Keenan mengeram kesal.
"Dok! aku disini!" teriak Keenan disela rasa sakit nya yang semakin menjadi, namun dokter justru sibuk memeriksa sela paha istrinya. Keenan tentu saja marah.
"Anda mau mati yaa! sudah bosan hidup apa gimana? lepas kan istri ku, dasar dokter cabul! Bun tolong istri ku mau diperkosa dokter gila itu!!" Keenan terus berteriak sampai Sarah kesal dibuatnya.
"Bisa diem tidak!" bentak Sarah pada putranya.
"Bun?" mata Keenan berkaca-kaca, apalagi saat sang ibu menutup tirai yang membatasi dengan ranjang istri nya. Terdengar suara erangan arumi yang sedang mengejan. Namun pikiran kotor Keenan yang sudah terlanjur dilanda cemburu buta. Pria itu berpikir lain, istri nya sedang digagahi oleh dokter mesuk tadi. Dengan sisa kekuatan nya yang hampir tak bersisa, Keenan mencoba turun, namun kontraksi hebat yang dia alami. Membuat Keenan malah terjatuh dan menambah rasa sakit yang tak terkira.
__ADS_1
"Bun? tolong istri ku bun..."lirih Keenan dengan suara putus asa, dia sudah tak kuat lagi untuk bangun.
Klek
Reegan masuk dengan sebuah tas ditangannya, tas itu milik Arumi. Sarah sudah curigai jika putra nya mengalami kontraksi melahirkan, akhirnya menelpon Al, menantunya. Untuk mampir dirumah mengambil keperluan Arumi dan bayinya.
Mata Reegan terbelalak melihat kondisi putra nya yang mengenaskan dilantai dingin itu.
"Ken? Kenapa bisa sampai jatuh begini?" Reegan memapah putranya, namun bukannya naik kembali ke atas ranjang. Pria itu justru tertatih ke arah sang istri. Dengan mata berkilat amarah, Keenan meninju dokter yang sedang menunduk disela paha istrinya hingga dokter itu terjengkang.
"Ken!!" seru Sarah marah.
Gantian Keenan terbelalak saat melihat kepala bayi keluar dari inti istri nya. Dokter itu bangun kembali lalu bergegas melanjutkan pekerjaan nya. Setelah berhasil keluar sempurna, barulah dokter itu berkomentar.
"Selamat pak, istri anda melahirkan dengan selamat, putra anda juga sehat. Suster akan membersihkan dulu, setelah itu anda boleh menggendong nya." Ujar dokter itu ramah, walau tadi dibogem mentah tanpa tau kesalahan nya apa.
Keenan cengo, lalu menatap istrinya dengan mata berkaca kaca.
Perlahan Keenan mengahampiri istri dan mengambil tempat di sisi ranjang.
"Jadi aku sakit perut tadi, karena mengalami kontraksi melahirkan?" tanya Keenan memastikan.
"Seperti nya begitu, apa sekarang masih sakit?" Arumi balik bertanya.
Keenan menggeleng pelan "sudah tidak lagi, persis saat adek lahir, perut aku udah lega dan tidak sakit."
"Makanya jangan main pukul sembarangan, coba kalau anakmu tertarik tadi dan ikut jatuh bagaiamana?" kesal Sarah meluapkan uneg-uneg nya.
"Maaf bun, aku cemburu" aku Keenan jujur, sekaligus malu pada dokter tadi, yang masih sibuk membersihkan ar*ea inti istri nya. Ada 4 jahitan saja, karena Arumi harus mengejan maksa tanpa kontraksi apapun. Hingga mengakibatkan sedikit robekan di jalan lahir nya.
"Tidak apa-apa tuan Keenan, saya paham." si Dokter tersenyum ramah.
Sementara Reegan masih menunggu di balik tirai, hatinya lega mendengar suara tangisan cucunya.
__ADS_1
"Bunda keluar dulu ya, istirahat saja. Kalau sudah enakan nanti dipindah ke ranjang khusus pasien" Sarah menekan kan kata pasien sambil melirik putranya.
Keenan menjadi salah tingkah dibuatnya.