
"Udah pada siap? Tidak ada yang ketinggalan kan? Coba mom cek dulu. Luna? suami mu mana?" Bastian sibuk mengabsen anggota keluarga nya juga barang-barang bawaan mereka.
"Mas Andre lagi ngambil tas baby Yuna di kamar, ketinggalan." Cengir Aluna menatap sang ayah.
"Ya sudah, bantu mommy buat cek barang bawaan. Kali aja ada yang kurang, nanti bisa singgah beli. Dad mau cek adikmu dulu, yang mau lamaran siapa yang sibuk siapa" omel Bastian menuju ke lantai atas ke kamar si bungsu. Sejak subuh Alfan sudah sibuk sendiri dengan mencoba beberapa baju, Aldo saja hanya sekali bersiap dengan kemeja batik kombi polos miliknya. Alfan sampai harus membongkar semua pakaianya di lemari.
"Faaaannn! kalau kau masih lama dandan nya, kami duluan saja, kau bisa menyusul nanti." Teriak Bastian dari depan pintu kamar yang masih tertutup rapat. Playboy cap minyak kapak itu rupa nya tengah uring-uringan, mencari kemeja yang cocok dengan celana jeans dan sepatu nya.
Klek
Wajah Alfan terlihat sekusut baju daster yang lupa di gosok.
"Dad kejam banget sih, aku lagi nyari kemeja yang pas sama ootd aku untuk lamarannya abang. Tunggu 10 menit lagi, ya?" tawar pria itu menego.
"2 menit, telat. Kau kami tinggal!" tolak Bastian tegas tanpa bisa di negosiasikan. Alfan menekuk wajahnya kemudian kembali masuk ke dalam kamar sambil menggerutu tak jelas.
"Kaya anak tiri aku tuh, udah memberikan dedikasi di perusahaan sebagai anak bungsu, malah tidak di istimewa kan sama sekali. Huhh!" Matanya tertuju pada kemeja yang pertama kali dia coba, entah kenapa kemeja tersebut terlihat begitu pas dan cocok di matanya.
"Kenapa malah bersembunyi di sini sih! tidak tau apa? kalau aku sudah lelah membongkar isi lemari ku." Gerutu Alfan pada kemeja yang sama sekali tidak memiliki satu pun dosa padanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Mom? abang gugup, deg-degan dan grogi nih. Ya ampun, ya Allah, tolong hambamu yang tampan ini. Amin" Marissa, Bastian juga Alfan bergidik ngeri mendengar doa super pede yang di panjatkan oleh Aldo.
"Gugup ya gugup aja bang, doa nya tidak usah senarsis itu juga. Tuhan juga bisa sebel kalau denger doa ngasal gitu." Omel Aldo melirik sebal pada saudara seperut di samping nya.
"Ck! Iri bilang bro, tidak usah ngegas gitu. Makanya jangan suka nyicil sana sini, kena HIV batu kapo." Sahut Aldo tak mau kalah.
"Aldo! Alfan!" suara lembut penuh penekanan sang ibu membuat keduanya langsung kicep. Bisa bahaya kalau mood sang ratu mulai kacau.
__ADS_1
"Narsih sudah di hubungi belum?" Tanya Marissa melirik Aldo melalui spion tengah.
"Udah mom, semalam. Narsih sama ibunya tidak punya saudara dekat, keluarga dari mendiang ayahnya tidak pernah menganggap mereka ada meski ada di kota yang sama. Biasa, soal status sosial. Hanya ada pakde sama bude Narsih saja dari kampung, udah datang kemarin sore sama anak-anak nya." Jelas Aldo memberi sedikit gambaran tentang keluarga calon istri nya.
"Biarkan saja mereka, kelak mereka akan menyesal sudah membuang Narsih dan adik-adiknya. Yang penting setelah kalian menikah, jaga dan cintai lah istri mu sepenuh hati dan jiwa. Seiring berjalannya waktu, akan ada saja yang mungkin membuat matamu sedikit silau. Di situlah kesetiaan mu akan di uji, apakah kau sudah layak menjadi seorang pria yang bertanggung jawab dan berjiwa tegas. Jika hidup hanya untuk mencari yang menyenangkan hati dan mata, maka kau tidak perlu menikah dan mengikat seorang wanita untuk ikut menanggung dosa dan sakit hati bersama mu. Hargailah istri mu seperti kau menghargai ibumu, saat kau melihat yang lebih dari istri mu. Ingat, ibumu pun semakin hari semakin menua, begitu lah siklus kehidupan. Semua ada masanya, bukan hanya wanitamu yang mungkin terlihat semakin kurang menarik, bisa jadi kau pun demikian. Jadi, jangan pernah melihat segala sesuatu hanya dari satu sisi saja. Belajar lah untuk memahami tanpa harus selalu di jelaskan."
Nasihat panjang lebar Bastian sepanjang perjalanan mereka menuju ke rumah Narsih, seolah menampar telak si bungsu. Alfan terdiam mencerna setiap kalimat petuah sang ayah pada kakak nya.
Sementara Aldo yang sudah merasa mantap lahir batin, untuk mempersunting Narsih menerima nasihat tersebut dengan perasaan tak biasa. Belum pernah dirinya jatuh cinta pada wanita hingga mampu melakukan hal-hal di luar kebiasaan nya. Aldo begitu berubah dalam banyak hal, mulai tekun membantu sang ayah di perusahaan, dan serius pada pendidikan nya.
Perubahan itulah yang membuat Marissa dan Bastian mendukung segala keputusan dsn pilihan putra mereka. Narsih gadis yang baik, tidak banyak tingkah juga pekerja keras. Tidak peduli dari kalangan manapun menantu mereka, keduanya akan menerima dengan tangan terbuka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Terlihat mobil Andre sudah lebih dulu sampai, di halaman rumah sederhana milik Narsih dan keluarga nya.
"Kok bisa nyampe duluan kak?" tanya Alfan heran. Bukankah mobil sang kakak ipar berada di belakang mereka ketika berangkat dari rumah.
"Ishhh.. kakak menyebalkan" ketus Alfan merajuk. Andre tertawa renyah melihat wajah cemberut Alfan.
"Astaga, sampe sakit perut gini." Ujar Andre mengelus perut nya setelah selesai mentertawai adik ipar nya.
"Kualat namanya, sama adik ipar." ujar Alfan tersenyum miring.
"Ayo masuk! lihat itu, ada yang bening-bening kaya mihun. Licin dan langsing." kelakar Andre berbisik di telinga Alfan, dia tau ipar nya itu paling tidak bisa melihat wanita yang menurut nya cantik. Akan dia libas habis hingga ke ubun-ubun nya.
"Ck! mana suka aku kalau model yang seperti itu." Elak Alfan berusaha menjaga image nya. Meski diam-diam ekor matanya sesekali melirik gadis, yang tengah membantu ibu nya Narsih menata makanan diatas ambal.
Acara lamaran berjalan lancar tanpa hambatan, hari pernikahan sudah di tentukan. Dua Minggu di mulai lamaran Aldo di terima. Dan Alfan pun mendapat kan bonus di acara lamaran sang kakak, yaitu nomor ponsel gadis yang dia bilang tidak sesuai selera nya meski tidak secara langsung.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mike dan Alisya baru tiba di bandara Soekarno-Hatta, perjalanan mereka cukup melelahkan.
"Mampir ke apartemen aku dulu ya? aku mau taruh koper di sana setelah itu kita langsung ke rumah mu." Tawar Mike menatap manik sang kekasih sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Tadi Mike meminta sang adik dan sepupu nya membawa dua mobil, agar satunya dia pakai bersama Alisya.
"Aku tidak pulang ke rumah, aku tinggal di apartemen teman ku. Antar aku ke sana saja" balas Alisya dengan wajah terlihat lelah. Mike merapikan rambut kekasihnya kemudian menyelipkan ditelinga wanita yang dicintainya itu.
"Baiklah, ayo." Mike tidak ingin bertanya lagi. Perlahan dia akan membuat Alisya mau berbagi segala hal padanya, termasuk kesedihan yang terlihat jelas di wajah Alisya.
Keduanya masuk ke dalam mobil dan meninggalkan bandara menuju apartemen Mike. Sepanjang jalan Mike terus menggenggam jemari kekasih nya, sesekali menciumnya tanpa bosan.
Mobil Mike berbelok ke sebuah gedung apartemen elit, raut wajah Alisya seketika berubah gelisah. Dan Mike menyadari nya, setelah parkir, Mike menoleh ke arah sang kekasih.
"Ada apa? ada sesuatu yang berhubungan dengan gedung ini yang membuat mu tidak nyaman, hmm?" tanya Mike lembut sambil mengelus pipi Alisya dengan sayang.
"Mantan kekasih ku juga tinggal di gedung ini, di lantai 15." Terang Alisya tidak ingin menutupi apapun.
Mike menghela nafas panjang "unitku satu lantai dengan nya kalau begitu." pria itu terlihat memikirkan sesuatu. "Kita ke apartemen teman mu saja, aku akan masuk sebentar untuk mengantar koper ku. Bagaimana?" Mike memberikan solusi yang aman untuk mereka berdua.
"Tidak masalah, kita ke sana mengantar koper ku lalu keluar. Kau lelah?" Alisya menatap manik biru Mike dengan tatapan kagum.
"Tidak, sebenarnya sedikit lelah. Hanya sedikit saja, bersamamu lelahku akan hilang." Goda Mike mengerling kan matanya membuat pipi Alisya memerah.
"Dasar tukang gombal, masuk sana dan cepat lah turun." Titah Alisya untuk menutupi kegugupannya.
"Baiklah honey, tunggu aku, jangan keluar dari mobil. Aku tidak ingin menjadi jomblo lagi, kau susah payah aku dapatkan." Ujar Mike penuh peringatan meski terdengar sedikit bercanda. Sebelum turun Mike mengecup kilas bibir Alisya, lalu segera keluar dari mobil sebelum wanitanya marah.
"Mike!" seru Alisya kesal. Wajahnya terasa panas.
__ADS_1
Alisya menatap punggung sang kekasih melalui kaca depan mobil, Mike terlihat sangat tampan dan gagah. Meski usianya sudah menginjak 36 tahun. Namun pesona nya mampu meruntuhkan tembok pembatas di hatinya, yang telah lama dia bangun untuk makhluk bernama laki-laki.