Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Gejolak Eiden


__ADS_3

"Hai Eiden, lama tak berjumpa. Kenapa kau tidak pernah menjenguk ku selama aku di rumah sakit? padahal teman-teman yang lain menjenguk ku juga dosen-dosen di kampus ini." Sapa Bella mencecar Eiden yang kini tengah duduk santai di kantin kampus. Pria itu tengah menunggu Sonia, namun hingga satu jam batang hidung nya pun tak terlihat.


"Eiden? apa kau tak mendengar ku?" ujar Bella kesal. Gadis itu menarik jemari Eiden untuk menarik perhatian pria dingin itu.


"Lepas Bel, aku tak ingin membuat mu kembali piknik di rumah sakit. Bersikap lah sewajarnya sebagai seorang teman, aku risih terus kau dekati." Balas Eiden menyentak pelan tangan Bella yang hendak di tautkan di jari nya. Urusan Sonia saja belum kelar, kini Bella datang menambah pusing kepala nya.


"Eiden.." lirih Bella menatap tak percaya pada pria di hadapannya. Tak pernah Eiden berkata seterus terang itu pada nya.


"Apa aku tidak berarti apa-apa untuk mu? bukankah kita sangat dekat sejak pertama masuk kampus ini. Mustahil kau tidak menyimpan rasa untuk ku walau sedikit." Kukuh Bella terisak pelan, dan itu berhasil mengundang perhatian seisi kantin.


"Bel, sejak awal kau tau..jika aku tak suka padamu. Aku berteman dengan siapa saja yang membuat ku nyaman sebagai seorang teman, tidak lebih. Perasaan tidak bisa di paksa, begitu pula hatiku. Aku mencintai orang lain sejak SMA. Jadi kau tidak ada sedikit pun di hatiku. Maaf jika aku terlalu jujur, aku hanya ingin kau mengerti. Teman tetap teman, tidak akan bisa di rubah. Renungilah!" Eiden mengambil ponsel dan menaruh satu lembar uang merah di bawah vas bunga.


Bella mengepalkan kedua tangan nya, hati nya marah, malu dan masih banyak lagi. Eiden menolak nya terang-terangan.


"Awas saja, akan ku buat kau menatapku nanti.." desis Bella penuh nada ancaman licik.


🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹🌷🌹


"Kenapa malah duduk di sini? aku menunggu mu hingga berjamur di kantin kampus." Eiden ikut duduk di kursi kayu yang kini di duduki oleh Sonia.


"Kenapa?" balas gadis itu heran.


"Kenapa apa nya? aku menunggu mu dan kau tanya kenapa, dasar aneh." Kekeh Eiden mengusak pelan rambut Sonia.


"Ishhh...kusut tau..aku tanya, kenapa kau menunggu ku. Aku tak merasa membuat janji dengan mu, aneh saja. Satu jam kau sia-sia kan waktu mu hanya untuk menunggu ku." Tukas Sonia keheranan.


"Tidak aneh, aku ingin makan siang bersama mu. Tapi karena kau tidak datang jadi aku memutuskan untuk menunggu saja. Tapi kau rupanya malah asyik duduk santai di sini, dan membiarkan aku berhadapan dengan lalat." Sonia tertawa renyah, dia tau siapa yang Eiden maksud kan.


"Kenapa tidak kau tepuk saja, biar lalatnya kapok"


"Aku takut lalat nya semakin bertambah, aku tak mau membuat mu menghindari ku lagi. Sejak Bella kembali ke kampus, kau menghindari ku dengan begitu jelas. Aku tak suka itu." Sonia sontak menoleh, tatapan keduanya bertemu.


Perlahan Eiden mendekat kan wajah nya, hingga deru nafas kedua ya saling menerpa wajah masing-masing.

__ADS_1


"Aku menyukai mu sejak SMA, sekarang aku mencintaimu. Jangan menjauhi ku lagi, aku tak bisa." Eiden memberikan kecupan kilas di bibir tipis Sonia. Gadis itu reflek memejamkan kedua matanya. Eiden tak menyia-nyiakan kesempatan, kecupan kecil itu berubah menjadi lum*atan hangat. Eiden menuntun kedua tangan Sonia ke atas bahu nya dan kedua tangan nya merangkul pinggang kecil sonia. Gadis itu telah berhasil memulihkan kondisi tubuh nya dari kegemukan.


Beberapa menit berlalu, Sonia mulai kehabisan oksigen. Gadis itu hampir lupa caranya bernafas dengan benar.


"Maaf.." Eiden menyapu bibir Sonia yang terlihat membengkak.


"Apa sekarang kita sudah resmi menjadi sepasang kekasih?" tanya Eiden menatap manik Sonia yang juga tengah menatapnya.


"Entah..lalu bagaimana dengan mu?"


"Aku harap ciuman tadi sebagai awal hubungan kita, jadi lah kekasih ku. Jika kau meragukan kesungguhan ku, aku akan melamar mu. Menikah mudah tidak buruk, sebentar lagi kita akan lulus. Aku rasa kita bisa menjadi pasangan yang hebat jika sudah menikah. Apa rencana ku terlalu konyol ?" Sonia tertawa kecil.


"Tidak. Tapi aku bahkan belum menerima mu menjadi kekasih ku, dan kau sudah membahas pernikahan. Bukan kah itu konyol?" kekeh Sonia lucu sendiri.


"Tidak konyol. Usia kita sudah 20 tahun. Lagi pula kau menerima ciuman ku, arti nya kau juga mencintai ku, kan?" tuntut Eiden.


"Ya ya ya...aku memang menyukai mu, meski aku tak tau konteks cinta yang sesungguhnya. Tapi ku rasa, perasaan suka ku sudah mewakili nya." Tukas Sonia.


"Berarti kita pacaran?" tuntut Eiden memastikan. Sonia hanya mengangguk pelan, Eiden menarik tubuh Sonia ke dalam pelukannya. Pria itu terlihat sangat bahagia.


"Dasar ja*l*ang! akan ku beri kau pelajaran. Berani sekali kau merampas milik ku." Bella memutuskan pergi setelah puas menodai mata nya dengan pemandangan indah tersebut.


"Kita pulang yuk, udah senja. Aku mau mengajak mu ke suatu tempat, naik motor tidak masalah, kan?"


"Tidak masalah, ayo sebelum turun hujan." Kedua meninggalkan taman kampus menuju parkiran, langit menunjukkan tanda-tanda akan memuntahkan cairan bening dari atas sana.


🌹🌷🌷🌹🌷🌷🌹


"Pakai ini, duduk di sana duku yuk." Ajak Eiden menunjukkan satu sofa tua yang ada di rumah tersebut. Mereka pulang dari sebuah danau, dan terjebak hujan di pertengahan jalan. Hinggs akhirnya Eiden memutuskan untuk berteduh di sebuah rumah kosong yang jauh dari rumah warga.


"Aku kira tidak bakal jadi turun hujan, mendung nya tidak kelihatan karena malam." Ujar Sonia merasa bersalah, ide nya mengajak Eiden mampir ke sebuah danau buatan di perbatasan kota.


"Tidak masalah, aku juga ingin mengajak mu jalan hanya saja belum tau akan kemana. Sudah?" Eiden Kini tengah membelakangi Sonia yang mengganti baju nya dengan baju kaos milik Eiden. Pria itu menggunakan jaket kulit anti air, sehingga hanya celana nya yang basah.

__ADS_1


"Udah, dingin banget..." Sonia memeluk tubuh nye sendiri, dia tak memakai jaket jelas sangat kedinginan.


"Duduk sini, aku peluk biar hangat. " Sonia menurut, dia bahkan sampai menggigil saking dinginnya cuaca di luar.


"Ini emang gak ada listrik nya apa gimana? gelap banget." Keluh Sonia sedikit merasa takut.


"Mau aku nyalain lampu motor?" tawar Eiden memberikan solusi.


"Tidak usah deh, takutnya malah ada yang datang kemari. Ya kalau orang baik, kalau orang jahat bagaimana." Tolak Sonia cemas.


Hujanasih sangat deras, Eiden menelisik ruangan tersebut hingga mata nya menemukan sebuah pintu yang seperti nya adalah pintu kamar.


"Kedalam sana yuk, kayanya bakal lebih hangat, itu seperti nya kamar. Barangkali ada selimut bersih yang bisa di pakai. Celana mu basah, aku juga tar bisa minjam sekalian kalau ada pakaian bersih nya." Usul Eiden, Sonia terlihat berpikir hingga akhirnya mengangguk.


Kini mereka tengah duduk bersisian di atas ranjang, bergelung di dalam selimut tebal bersih yang Eiden temukan di dalam lemari. Mereka juga mengganti alas kasur dengan yang baru. Eiden hanya memakai boxer, karena tidak ada celana pria di dalam kamar tersebut. Sementara Sonia memakai celana kain pendek yang entah milik siapa. Sonia hanya berbisik pada sang lemari sebelum memakai nya.


" Masih dingin?" tanya Eiden memecahkan keheningan.


"Udah lumayan hangat."


"Itu karena ada aku di sini," goda Eiden mencium gemas pipi Sonia.


"Isshh sosor-sosor aja..." pipinya merona malu, untung di sana minim pencahayaan.


"Gemes, pengen aku makan. Mau lebih hangat lagi tidak ?" tawar Eiden membuat Sonia menoleh.


"Jangan macam-macam," usianya sudah 20 tahun, tentu dia memahami sedikit hal yang dapat dilakukan oleh orang dewasa.


"Ck! cuma satu macam, aku mau ciuman. Ngadep sini .." Eiden menarik pelan dagu Sonia kemudian mencium nya, ini ciuman kedau mereka, sudah lebih baik dari saat pertama. Terbawa suasana juga naluri, bukan karena pengalaman.


Entah siapa yang memulai, tanpa sadar kini Eiden tengah bermain gemas dengan benda bulat milik Sonia.


"shhh.. Eiden..ini..salah..." gumam Sonia terputus-putus. Nafasnya tak teratur akibat perbuatan Eiden pada tubuh nya.

__ADS_1


Eiden mendongak, menatap Sonia dengan wajah yang memerah. Mata sayu kedua nya terlihat jelas dengan jarak sedekat itu.


__ADS_2