Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Harmonis


__ADS_3

Daru berlari kecil menuju ruangan istri nya, hati nya sedikit lega dengan apa yang baru saja dia dengar dari berita di radio mobil nya.


"Bagaimana keadaan istri ku?" tanya daru tak sabar. Arumi yang baru saja akan membuka kotak bekal yang di antar oleh Keyra menghentikan aktivitas nya.


"Sudah stabil, pendarahan nya sudah teratasi dengan baik. Hanya menunggu Imah sadar saja, semoga saja bisa cepat sadar. Kasihan cucu-cucu umi, mereka seperti nya tidak terlalu suka minum susu menggunakan dot." Sahut Arumi dengan wajah sendu. Wanita itu lebih tua dari Daru 5 tahun, jadi panggilan umi tidak lah masalah bagi Daru. Dari segi apapun itu sudah sepantasnya.


"Apa aku boleh menjenguk Imah di dalam?" Daru menatap pintu ruang ICU dengan tatapan berkaca-kaca.


"Tentu saja, pakai pakaian steril dulu dan cuci tangan mu di sana." Arumi mengarah kan sang menantu pada sebuah wastafel juga ada lemari gantung terbuka, yang di dalam nya ada beberapa baju steril khusus keluarga yang akan menjenguk pasien.


"Baiklah, aku masuk dulu..." Arumi hanya mengangguk, lalu mulai membuka kotak susun berisi makanan yang di bawa oleh Keyra untuk makan malam mereka yang tengah berjaga. Keenan pamit pulang untuk mandi dan mengambil beberapa baju ganti untuk istri nya. Karena besok Sabtu, maka kedua anak nya libur dan ingin ikut menjaga di rumah sakit. Keenan tidak keberatan, mengingat kedua cucu nya juga tidak ada yang menjaga. Kedua anak nya bisa bergantian menjenguk ke ruang bayi.


Daru menatap miris keadaan sang istri tercinta. Lebam di wajah Imah sudah sedikit berkurang, namun tetap saja hati nya sakit melihat itu. Wanita yang dia jaga sepenuh hati, di lukai tanpa perasaan oleh orang lain yang bukan siapa-siapa.


Daru meraih kursi lalu duduk di samping brankar sang istri, di raih nya tangan kanan istri nya yang masih meninggalkan jejak membiru. Hati nya miris, seharusnya nya dia berada di saat sang istri membutuhkan nya. Sungguh dia menyesali perbuatannya di masa lalu, yang telah menjadi duri tajam yang kini melukai sang istri tercinta.


"Hai sayang...aku harap kau mendengar ku..aku minta maaf atas masa lalu ku yang buruk, sehingga berakibat fatal pada mu. Aku tak tau apa saja yang di katakan wanita ja*l*ang itu padamu. Tapi percayalah, hati ku tak tertinggal untuk siapapun di masa lalu. Bahkan Alisya pun tidak. Perasaan ku pada ku itu hal yang berbeda, begitu dalam dan tak terselami. Kau menanggapi cinta ku dengan cara yang sederhana, penuh pertimbangan dan tanpa ambisi. Aku menyukai sifat mu yang apa adanya, terlihat malu-malu di saat tertentu." Daru terisak pelan dalam tangkupan telapak tangan Imah yang dia taruh di wajah nya.


"Sungguh jika aku bisa memutar waktu, meski harus berpisah dari Alisya. Aku ingin perpisahan yang tak meninggalkan kenangan buruk. Lalu bertemu dengan mu, jatuh cinta dan menjalin hubungan yang baik. Aku mencintaimu melebihi rasa yang pernah aku miliki untuk Alisya, rasa takut kehilangan mu seperti ujung tombak yang siap menghujam jantungku sewaktu-waktu. Bangun lah sayang, kita sudah menjadi orang tua sekarang. Ada dua malaikat mungil yang tengah menanti pelukan hangat ibu mereka. Betapa mereka sangat ingin merasakan air kehidupan untuk tumbuh menjadi anak-anak yang sehat dan cerdas. Bangunlah...aku tak bisa tanpa mu..aku tidak bisa melihat mu seperti ini lebih lama lagi...hati ku..sakit..!" Isak Daru lirih. Keenan yang akan memanggil Daru untuk makan, menghentikan langkahnya.

__ADS_1


Hati nya terenyuh mendengar kalimat putus asa pria itu atas kondisi istri nya. Keenan memang menerima Daru dengan penuh keterpaksaan. Namun seiring berjalannya waktu, Keenan dapat melihat ketulusan pria itu pada putri nya. Keenan akhirnya melunak sempurna. Namun rumah tangga yang baru di bangun atas dasar pondasi cinta dua insan tersebut. Harus sedikit tergoyah oleh terpaan badai masa lalu. Meski sejati nya Daru tidak lah menyangka akan hal ini. Namun dari nya lah sumber masalah ini berakar.


"Loh? kok balik bi? Daru tidak mau keluar apa gimana? jam besuk tinggal 3 menit lagi, tidak keburu kalau abi nunggu Daru kelar." Tanya Arumi heran. Keenan mengatakan akan menjenguk sang anak bergantian dengan Daru. Namun malah kembali keluar dengan raut wajah yang muram. Pintu penghubung dari ruang tunggu ada dua. Pintu pertama sebagai ruang sterilisasi, lalu pintu kedua untuk masuk ke dalam ruang ICU. Proteksi rumah sakit tersebut sangat luar biasa, di bawah kepemimpinan Keyra. Semua berjalan sesuai prosedur dan standar sekelas bintang 5.


"Daru lagi mencurahkan isi hati nya sama Imah. Abi jadi ikut mellow, maka nya keluar dulu. Tar abi jenguk pas jam malam aja, biasa kalo tengah malam boleh masuk sebentar ijin sama perawat buat nengok ke dalam kaya nya tidak masalah. Abi kepikiran kalo tidak lihat langsung, meskipun perawat nya ada banyak di sana." Tutur Keenan yang terlihat aura kebapakan nya semakin jelas. Semenjak Imah hamil, dirinya sudah mendedikasikan panggilan untuk dirinya dan sang istri. Opa dan Oma. Keenan mengatakan panggilan itu membuat wibawa nya semakin memancar. Arumi pun setuju seperti biasa tanpa banyak protes.


"Ya..nanti abi bisa nengok gantian, jam besuk di berlakukan agar tata tertib nya tetap terjaga dengan baik. Tapi tidak masalah jika sesekali menengok, kita pun tak akan membuat keributan untuk pasien juga keluarga pasien." Lanjut Arumi menimpali. Ada beberapa keluarga pasien yang juga ikut berjaga di ruang tunggu tersebut. Ruang tunggu sengaja di beri beberapa pembatas lemari nakas khas rumah sakit. Agar protokol kesehatan tetap terjaga. dan pula agar barang bawaan keluarga pasien tidak berceceran di lantai.


Hanya saja untuk tempat tidur, para keluarga membawa karpet atau ambal masing-masing. Yang ukurannya tidak memakan banyak tempat. Seperti Keenan sekeluarga, mereka membawa dua ambal ukuran dua orang, yang akan mereka gelar semua ketika akan tidur. Dan hanya di gunakan satu jika siang hari untuk alas agar tak terlalu bersentuhan langsung dinginnya lantai.


Klek


Semua orang yang sedang duduk-duduk di ruang tunggu, menoleh serentak termasuk Keenan sekeluarga. Pikiran mereka selalu cemas ketika melihat pintu ruangan itu terbuka. Berbagai macam pikiran buruk selalu menghantui ketenangan mereka.


"Kak, makan dulu yuk! aku ada bawain sayur lodeh rebung kesukaan kakak. Bibik di rumah yang masak, teteh biasa nya suka sekali kalau bibik masakin ini. Kakak makan gih, anggap aja wakilin teteh. Jadi makan nya kudu banyak, tar teteh sedih kalo kakak nolak trus makan nya dikit." Bujuk Elsye. Tangan nya begitu cekatan menaruh nasi juga lauk ke dalam piring plastik Tupperware tersebut. Daru tersenyum samar. Dia tau Elsye tengah membujuk nya agar mau makan.


Tak ingin adik iparnya kecewa karena perhatian nya di abaikan. Daru meraih piring tersebut dengan senyum simpul, tak lupa mengucapkan terimakasih pada gadis remaja itu.


"Makasih banyak cebol..Ini porsi Kuli apa porsi petinju...?" seloroh Daru menjawil bibir bulat adik ipar yang mulai mengerucut kesal.

__ADS_1


"Aku sedang dalam masa pertumbuhan kak, jadi berhenti lah memanggil ku cebol." Geram Elsye kesal. Daru terkekeh di sela kunyahan nya.


"Ini enak, sayur lodeh nya persis buatan teteh mu. Bumbu nya pas, sambel terasi nya juga. Alamat nambah nih kakak.." Arumi tersenyum samar melihat interaksi menantu dan anak nya. Kerukunan seperti ini lah yang selalu ingin dia lihat. Saling melempar candaan tanpa rasa canggung.


"Kan teteh belajar nya sama bibik, maka nya rasanya sama..kalau ayam goreng nya gimana? enak tidak?" tanya Elsye dengan mata berbinar penuh harap.


Daru terlihat seperti tengah memikirkan jawaban nya, terlihat dari penampilan ayam goreng yang sedikit gosong. Dia tau siapa yang memasaknya. Senyum jahil nya terbit untuk menjahili sang adik ipar.


"Ayam nya agak kurang sih, tapi cocok lah kalo di makan campur-campur kaya gini. Rasa gosong nya lumayan tersamarkan sedikit." Tawa Eiden pecah seketika. Sejak tadi remaja itu tengah sibuk membalas chat dari seseorang. Sehingga tidak ikut menimpali percakapan kakak juga kakak ipar nya. Namun mendengar kalimat penuh kejujuran Daru, membuat hati Eiden mendadak geli ingin tertawa keras. Sampai dia lupa sekarang mereka berada di mana.


Keenan lekas membekap mulut sang anak menggunakan telapak tangan nya. Lalu menatap sekeliling sambil menunduk meminta maaf, yang hanya di tanggapi senyuman maklum dari orang-orang di sana. Mata nya melotot kesal pada putra nya, meski pun mereka adalah pemilik rumah sakit tersebut. Tetap saja aturan dan attitude harus di jaga.


"Abi ih... tangan nya belum di cuci ya.. aroma terasi nya masih berasa kaya aslinya. Iiyuhh..abi jorok!" kesal Eiden mengelap mulut nya menggunakan tisu basah berkali-kali. Giliran Elsye yang terkikik lucu, melihat adik 5 menit nya terlihat seperti ingin muntah. Eiden paling benci dengan terasi, meski di rumah nya selalu tercium aroma tersebut apa lagi jika sedang masak lauk pauk bersantan. Sambel terasi sudah seperti keharusan di atas meja makan. Dan dia sama sekali tidak pernah protes, asal tidak ada yang iseng mengerjainya saja.


"Enak dek? mau nambah, tuh masih banyak di mangkuk.." goda Daru menunjuk mangkuk kecil berisi sambal. Eiden bergidik ngeri, masih terbayang aroma terasi di hidung nya meski sudah dia lap hingga perih.


"Kenapa? padahal enak lo? dulu kakak juga tidak suka, awal liat sama nyium aromanya. Berasa mau keluar usus halus, saking lama-lama lihat tetehmu rajin memasak juga memakan nya. Kakak jadi penasaran, akhirnya nyoba sedikit. Eh, malah ketagihan sampai sekarang. Coba deh, kali aja kelak kau berjodoh dengan penggemar sambel terasi. Kan sudah ada ilmu pembekalan dari sekarang." Lanjut Daru sedikit terkekeh geli.


"No! terimakasih! mungkin nanti bisa di diskusikan, kalau tidak kan tinggal putus trus nyari lagi. Tampan ini, ribet amat gegara masalah terasi doang." Sahut Eiden angkuh. Keenan melempar potongan timun mendengar kalimat pongah sang anak.

__ADS_1


Dia jadi tersentil mengingat masa lalu nya dulu. Dengan mudah mengganti wanita hanya perkara rasa gengsi dan malu.


Arumi tersenyum simpul melihat keakraban yang sedikit unik tersebut. Dia hanya berharap hubungan anak-anak nya tetap terjaga meski Imah bukanlah putri kandung nya. Rasa sayang mereka sama rata, tidak ada pembedaan diantara semua anaknya. Keluarga yang harmonis, adalah impian setiap orang. Termasuk juga Keenan dan istri.


__ADS_2