
"Tapi mas, aku ini belum lulus kuliah. Maksud aku... itu... anu mas.."
"Anu ku baik-baik saja, Narsih sukaisih otw kekasih nya mamas Aldo yang ganteng sejagad raya." Narsih meringis mendengar kenarsisan Aldo. Tingkat kepercayaan diri nya patut di berikan Noble.
"Itu.. mas.. sebenarnya... gimana ya ngomong nya, Narsih malu mas.." Narsih misuh-misuh sambil meremas tangannya sendiri.
"Ngomong aja, sama aku ini.. Ada apa sih? aku kan jadi kepo nih," desak Aldo menatap Narsih menunggu penjelasan. Narsih semakin salah tingkah.
"Ituu.. sebenarnya, Narsih sudah tidak kuliah lagi mas, beasiswa Narsih di cabut karena sempat beberapa kali nilai Narsih anjlok." Aldo melotot kan matanya, lalu sadar sudah membuat Narsih salah tingkah.
Buru-buru Aldo menormalkan ekspresi nya. "Kok bisa? bukannya kau ini mahasiswi yang cerdas, coba deh, cerita sini. Duduknya kenapa musti di lampu merah simpang tiga sih, deket sini gih, mas Aldo tidak gigit kecuali kau minta." Aldo mengerling genit, Narsih jadi was-was untuk mendekat.
Aldo tidak sabar, lalu menarik pelan tangan Narsih agar duduk di samping nya.
"Coba cerita, mukanya jangan nunduk gitu dong. Apa ketampanan mas Aldo kurang mempesona untuk di lihat, hmm?" blush, wajah Narsih merona malu, apalagi tangan aldo yang menarik naik dagunya dengan jari telunjuk.
"Itu mas, ibu sempat sakit lama 3 bulan yang lalu, waktu itu kan 1 bulan menjelang ujian semester. Narsih jadi tidak fokus belajar, mana kurang tidur juga. Ibu di rawat di kelas 3, yang di dalam nya ada 6 pasien, belum lagi keluarga pasien nya yang berjubel kaya di rumah sendiri. Ibu dirawat nya hampir 3 minggu, jadi aku juga yang urus adik-adik dirumah, jualan nasi kuning juga. Ribet pokoknya mas, Narsih sama sekali tidak ada megang buku." Adu Narsih tanpa sadar sudah mencurahkan isi hati nya.
Aldo hanya manggut-manggut mendengar nya tanpa menyela, "trus ketinggalan dua kali, mau nyusul, dosen pengampu mata kuliah nya selalu tidak di tempat. Akhirnya Narsih nyerah, nilai yang lain juga tidak membantu. Makanya Narsih nanya kerjaan sama mas Aldo, kali aja ada perusahaan yang lagi butuh tenaga cleaning servis, atau OG, Narsih mau mas." Wajah sendu tadi berubah cerah, tatapan yang sedang menaruh harapan setinggi angkasa pada Aldo.
Aldo menggaruk pelipis nya bingung, tadi nya dia percaya diri menanyakan pekerjaan pada sepupunya karna yakin, sebentar lagi Narsih lulus, 2 semester lagi kalau tidak salah ingat.
"Tidak ada ya mas" wajah Narsih berubah muram, gadis itu menyimpulkan sendiri arti diam Aldo.
"Heh? apa tadi? ada kok, ada," jawab Aldo cepat. 'Ada aja nanti' lanjut nya dalam hati.
Senyum sejuta rupiah mulai menyala di mata Narsih membuat Aldo yang kini gantian meringis. Dirinya bahkan hanya sesekali membantu sang ayah di perusahaan, Aldo belum ingin dibebani oleh urusan pekerjaan. Namun kini seperti nya, misi pria itu akan dia rubah. Melihat perjuangan Narsih, Aldo jadi malu sendiri pada dirinya.
"Jadi di perusahaan mana mas?" tanya Narsih penuh harap.
"Itu.. adalah pokok nya, buat aja lamaran dulu. Nanti aku yang antarkan, kalau sudah dapat panggilan interview, baru kau yang ke sana langsung." Jelas Aldo sedikit gugup.
__ADS_1
"Jadi cleaning mesti interview juga ya mas?" tanya Narsih cengo.
"Ya, tentu saja. Nanti akan ada pengarahan di sana kalau di terima. Kan tidak lucu, pekerjaan cleaning servis tapi tidak tau alat-alat pembersih" Aldo terkekeh hambar, mulutmu harimaumu. Aldo mulai membenarkan istilah itu.
Narsih menganggukkan kepalanya, membenarkan perkataan Aldo.
"Makasih banyak ya mas, usah bantu Narsih selama dua bulan ini. Kalau tidak ada mas Aldo waktu itu, mungkin Narsih sudah jadi istri nya juragan kambing kampung sebelah."
"Udah, tidak usah di ingat-ingat lagi." 'aku cemburu' lanjut nya dalam hati. "Sekarang fokus jualan nasi kuning aja dulu, sementara nunggu kerjaan yang aku bilang tadi. Tar malam nulis lamaran nya, besok pagi aku ambil ke rumah. Jangan lupa, ongkos mas Aldo. Nasi kuning serundeng telur ayam balado." Aldo mengedipkan matanya.
Narsih tertawa kecil, dia suka Aldo menyukai nasi kuning buatannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Muka mu kusut begitu kenapa?" Bastian sedang duduk di sofa menyaksikan acara bola kesukaan nya, melirik kilas pada Aldo yang seperti orang banyak beban hidup.
"Aldo pengen kawin, dad" Marissa, Bastian, Aluna sang kakak, dan suaminya sontak terkejut dan tersedak ludah masing-masing.
"Kau ini sakit apa bagaimana?" kesal Bastian menatap horor pada putranya.
Plakk
"Auwww..! daddy!" ujar Aldo tanpa sadar telah menaikkan volume suara nya pada sang ayah.
"Kalau tidak suka ya jangan main kekerasan dong" gerutu Aldo tak terima, kepalanya di geplek telapak tangan besar sang ayah.
"Mulut mu itu, mesti banget kayanya di sekolah kah lagi." Omel Bastian melirik sang menantu melalui ekor matanya. Bagaimana pun, dulu suami putri nya hanyalah seorang penjual nasi goreng keliling. Dia tidak ingin menantunya tersinggung oleh ucapan laknat putra nya.
Andre seperti memahami maksud sang mertua segera menengahi. " Tidak apa-apa, dad. Mungkin Aldo hanya takut pacarnya tidak diterima sama mommy dan daddy." Andre tertawa pelan.
Seketika Aldo tersadar, lalu menoleh pada sang kakak dan kakak iparnya. "Maaf kak, Aldo tidak bermaksud..."
__ADS_1
"Sudah tidak apa-apa, kakak tidak merasa tersinggung. Kau sudah benar hanya saja cara penyampaianmu yang terlalu gamblang." Andre sama sekali tidak tersinggung, keluarga mertuanya sudah dengan tangan terbuka menerima nya yang bukan apa-apa.
"Bawa ke rumah, mommy mau kenalan" titah Marissa.
"Eh? anu mom, sebenarnya nya, Narsih belum tau" Aldo cengengesan tak jelas.
"Belum tau bagaimana?" tanya sang ibu penasaran.
"Kami.. sebenarnya, belum pacaran sih mom, cuma Aldo udah cinta aja, jadi ngarep aja duluan." Cengir Aldo di hadiahi lemparan bantal oleh sang ayah.
"Daddy suka banget kekerasan sama anak sendiri, berasa anak pungut aku tuh." Ujar Aldo dramatis.
"Memang." Balas sang ayah acuh "Aluna, baru anak daddy. Penurut, penyayang. Nah, kau apa? Di suruh bantu mengelola perusahaan saja tidak mau, malah tiba-tiba mau kawin. Malu sama Narsih yang kau bilang cuma penjual nasi kuning." Sindir sang ayah telak. Aldo meringis sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Makanya Aldo mau belajar mengelola perusahaan mulai sekarang. Daddy bantuin dong, itu Narsih minta kerjaan cleaning servis, Aldo sudah terlanjur bilang ada lowongan. Di terima ya dad, please.."
Bugh
Lagi-lagi bantal tak berdosa itu melayang ke kepala Aldo, kali ini dari sang ibu.
"Maksudmu, Narsih mau di kasih kerjaan cleaning servis di perusahaan kita, begitu?" tanya Marissa ngegas.
"Wow woww..! sellow nyonya, ingat tensi anda." Ujar Aldo jahil.
"Dasar anak maling udang" Hardik sang ayah kesal.
"Lah? terus Narsih aku kasih kerjaan apa, yang paling bawah kerjaan di perusahaan kan cuma cleaning. Eh? ada, ada, OG, ya OG. Boleh deh asal di kasih kerjaan, kasian aku. Narsih mesti keliling taman kota, sama sekolah buat jajakin jualannya naik sepeda." Ujar Aldo dengan wajah muram.
"Kalau kasian terus kenapa Narsih mau di kasih kerjaan yang cape kaya tadi. Makanya sesekali mantau langsung pekerjaan karyawan kita di kantor, sampai ke jajaran paling bawah. Seperti OG dan Cleaning servis. Itu pekerjaan yang tidak mudah. Ya kalau hanya dapat satu lantai saja dan kerjaan nya di bagi-bagi. Kebanyakan kadang merapel sampai dua, tiga lantai sekaligus." Oceh Bastian panjang lebar. Bukan perkara dia malu menerima Narsih bekerja, sebagai cleaning servis di perusahaan nya. Namun otak dangkal putra nya yang dia sayangkan, kenapa Narsih begitu malang bisa kenal dengan putra nya yang daya tanggap nya, nauzubillah.
Aldo manggut-manggut, benar juga pikir nya. "Dad? aku mau mulai bantu Daddy dari sekarang. Bukan karena Narsih juga, tapi Aldo merasa malu pada diri Aldo sendiri, yang sering mengabaikan tanggung jawab Aldo sebagai anak laki-laki di keluarga ini." Ujar Aldo mantap, tidak pernah Aldo seserius ini sebelum nya.
__ADS_1
Marissa dan Bastian bertukar pandang dan tersenyum penuh syukur. Begitu juga Aluna dan Andre. Andre bukan tak ingin mengganti kan sang mertua, namun dia sadar, Aldo adalah anak tertua laki-laki dikeluarga itu. Aluna istri nya hanya anak tiri, meski selama ini, Bastian selalu memamerkan Aluna sebagai anak sulung nya dengan bangga. Baik pada para sahabat, keluarga juga koleganya.
Lagipula dia merasa nyaman sebagai pebisnis kuliner, itu adalah hobby nya juga cita-cita nya sejak remaja.