
Sesuai janji nya, kini mobil Daru tengah terparkir cantik di depan kampus Imah. Pria itu memarkir mobil nya tepat di depan sebuah kedai. Dengan begitu mobil nya akan aman tanpa di tegur oleh pengendara lain karena parkir sembarangan.
Tok tok tok
Kaca jendela Daru di ketuk dari luar, terlihat Imah dari balik kaca gelap itu. Senyum Daru mengembang sempurna. Lalu segera membuka kan pintu mobil untuk sang kekasih.
"Udah lama mas?" tanya Imah sembari memasang seatbelt.
"Tidak juga, aku terlalu kecepatan memang. Sudah kangen berat soalnya." Ucap Daru jujur. Jemari Imah kini berada dalam genggaman nya, hingga Daru leluasa menciumi punggung tangan gadis itu.
"Langsung ke apartemen aja ya...atau mau beli sesuatu dulu ?" tanya Daru menoleh sekilas lalu fokus kembali pada jalanan. Pagi adalah waktu yang paling sibuk. Kendaraan begitu padat, untuk itu dia memilih untuk lebih cepat datang dari pada terjebak macet.
"Tidak ada sih.. langsung saja, aku harus segera kembali ke kampus." Sahut Imah membuat Daru berdecak kesal.
"Buru-buru amat.. bukankah hari ini masuk pukul 10." Protes Daru tak rela, jika waktu nya hanya sebentar bersama sang kekasih. Apartemen nya sudah pindah, tidak lagi di tempat nya yang dulu.
Terlalu banyak kenangan buruk di sana, dia ingin memulai lembaran baru.
"Setengah sepuluh." Ralat Imah.
"Baru setengah delapan loh padahal, udah gelisah
balik ke kampus aja. Apa karena si ren ren itu." Tuduh Daru mulai memperlihatkan sisi asli nya yang posesif. Padahal dulu dia bahkan tidak pernah menanyakan kemana saja Alisya pergi dan bersama siapa. Bersama Imah dia merasa berbeda, mampu menjadi dirinya sendiri dan menunjukkan watak asli tanpa beban.
"Isshhh... apaan sih. Tidak begitu, aku kan belum tau jarak apartemen nya mas Daru di mana, jauh apa tidak dari kampus." Imah berusaha menjelaskan maksud kegelisahan nya.
Kedua nya sama-sama terdiam hingga tiba di gedung apartemen Daru. Saat memasuki apartemen, Daru mengatakan jika password apartemen nya adalah tanggal jadian mereka kemarin. Imah tersentuh mendengar nya.
"Mau di masakin apa?" kemarin mereka membeli beberapa bahan makanan instan termasuk daging dan lain nya.
__ADS_1
"Yang simpel aja sayang, ayam goreng boleh. Pake sambel matah, sayur sop kalo sempat. Pake wortel sama mie putih tipis kemarin, apa nama nya?" Daru mulai banyak permintaan, meski tadi nya meminta makanan yang simpel menurut versinya.
Imah mulai meracik apa saja yang dia perlukan untuk bahan nya memasak. Daru terus memperhatikan bagaimana gadis itu begitu cekatan untuk urusan dapur. Pikiran nya mulai berkelana jauh, bagaimana jika Imah sudah menjadi istri nya. Pasti akan menyenangkan ada yang memasak setiap hari dan di layani oleh istri sendiri.
Tanpa sadar langkah kaki nya mulai beranjak mendekati Imah yang tengah berkutat di dapur dengan celemek di tubuhnya.
"Sayang..?" Imah yang kaget hampir saja menghempas kan sutil panas ke wajah tampan Daru.
"Isshhh...mas.. hampir saja aku reflek tadi. Nunggu di meja sana gih, ini ganggu tau.." omel Imah sambil mengerjakan pekerjaan nya dengan cepat.
"Biar gini aja. Masih kangen, habis ini kan langsung mau ke kampus trus pulang. Waktu kita tidak banyak." Daru terus memeluk tubuh kecil sang kekasih penuh kerinduan. Kerinduan yang menumpuk selama beberapa bulan ini, kini terobati.
"Aku mau tumis cabai nya dulu loh ini, tar hawa minyak nya nempel di baju mas Daru. Tar bawaan nya gerah, tidak enak." Nasihat Imah yang nampak sudah sangat berpengalaman di bidang masak memasak.
"Sekarang aja aku udah gerah, yang." Balas Daru penuh maksud. Namun Imah yang polos tak bisa mencerna lebih, terutama saat dirinya tengah sibuk dengan dua tungku yang menyala di hadapan nya itu.
"Makanya duduk sana jauhan..ngeyel sih di bilangin." Omel Imah membuat Daru menghela nafas panjang. Sebelum pergi menuju meja makan, pria itu mengecup singkat pipi sang kekasih. Membuat Imah terkesiap menahan rona wajah nya agar tak terlihat.
"Enak banget yang, sering-sering gini aku bisa tidak sixpack lagi." Ucap nya terkekeh pelan.
"Bagus lah kalau mas Daru suka. Kenapa memangnya kalau tidak sixpack lagi? mempengaruhi kadar ketampanan ?" tanya gadis itu polos. Daru ingin sekali menggigit bibir mungil itu saking gemasnya.
"Cieee yang ngaku kalau aku tampan." Goda Daru, yang terlihat senang.
"Ishh..mana ada. Cuka bertanya saja. Kan bisa siapa saja, bukan fokus ke kas Daru saja." Elak Imah menunduk menatap piring nya dengan khusyuk.
"Oh..jadi ada pria lain yang lebih sixpack. Siapa? ganteng? masih muda? teman di kampus ? apa yang kemarin itu?" sungguh Imah merutuki mulut nya sendiri.
"Tidak ada, hanya perandaian aja. Kenapa jadi pembahasan sih. Makan cepat, udah pukul 9 kurang tuh." Imah berusaha mengalihkan topik pembicaraan mereka. Namun Daru yang kadung di landa cemburu buta tak melanjutkan makan nya. Pria itu beranjak menuju nakas, mengambil jaket juga kunci mobilnya tanpa bicara apapun.
__ADS_1
"Ayo, aku antar ke kampus." Ucap nya datar. Imah tertegun. Astaga! susah juga menghadapi pria seumuran ini. Pantas saja ibu nya sering banyak mengalah nya pada sang ayah.
Imah beranjak menuju wastafel, mencuci bekas kotor mereka berdua sebelum akhirnya nya menghampiri Daru yang sudah berdiri di depan pintu apartemen.
Sebelum sempat pria itu membuka pintu, Imah berinisiatif memeluk Daru dari belakang. Dia minim pengalaman soal sebuah hubungan. Jadi tidak tau bagaimana cara meredam gejolak orang yang tengah dilanda cemburu.
Daru mematung, tak menyangka Imah akan memeluk nya seintim itu.
"Mah, jangan mancing aku. Ayo, aku antar ke kampus. Nanti kau telat." Deg! jantung Imah serasa di cubit keras. Sebutan nama dan aku lalu kau. Daru rupanya benar-benar marah.
"Maaf." Cicit Imah serba salah.
"Jangan marah lagi. Tadi aku hanya bercanda, lagi pula tidak sixpack juga tidak masalah menurut ku. Asal kan perut kenyang itu sudah cukup. Aku bukan orang yang menilai sebuah penampilan, tapi orang yang mau bersama ku meski aku hanya anak adop..." kata-kata Imah terbungkam oleh bibir tebal Daru yang kini menempel di bibir tipis gadis itu.
"Suhhhttt..jangan berbicara seperti itu lagi. Aku tak peduli dari mana kau berasal. Maaf juga aku yang baperan, aku tidak pernah seperti ini dulu. Hanya pada mu aku mampu mengekspresikan diri ku secara utuh." Imah memandang Daru dengan tatapan haru. Hatinya begitu tentram akan kejujuran Daru.
"Duduk yuk.. kita seperti orang yang tengah di hukum guru saja." Seloroh Daru mengajak sang kekasih duduk di sofa.
"Maaf sudah bersikap kekanak-kanakan. Aku ini menjadi pencemburu sejak bersama mu. Aku terlalu takut kalau kau akan berpaling." Tatapan dalam Daru seakan menguliti Imah. Tanpa sadar kini bibir nya sudah mendarat sempurna di bibir Imah. Imah yang kaget, reflek memejamkan kedua matanya.
Daru yang melihat itu semakin tersulut hasrat. Lum*atan Daru semakin dalam, Imah yang tadi nya pasif kini mulai mengikuti alur nalurinya. Tangan nya berpindah melingkar di leher Daru.
Daru menyesap hingga ke pangkal leher kekasih nya meninggal kan beberapa jejak kepemilikan di sana. Tangannya menelusup ke dalam blouse Imah, mengelus kulit mulus yang masih terbungkus rapi di dalam tempat nya.
Lenguhan tanpa sengaja Imah membuat nya semakin memanas. Hingga kini tangan nya telah berhasil memainkan puncak Himalaya yang bahkan belum keluar sempurna dari tempat nya. Wajar saja, gadis itu masih polos. Butuh kerja keras untuk membuat puncak itu keluar menantang.
Beberapa menit ciuman itu mulai saling menuntut, Imah pun mulai merasa seluruh tubuh nya bergetar hebat. Ada desiran aneh menjalari seluruh aliran darah nya.
"Maasss..." lenguhan Imah kembali menggelitik pendengaran Daru. Sehingga sejenak pria itu menghentikan aktivitas menyenangkan nya. Tatapan kedua bertemu, mata sayu Imah sudah terlihat berkabut gairah. Daru tau sentuhan pertama selalu membuat jiwa melayang dan menagih sentuhan lebih dalam. Apa lagi jiwa remaja Imah yang sedang di puncak masa pubertas nya.
__ADS_1
"Maaf sayang...aku kebablasan...apa kau marah?" Imah yang bleng reflek menggeleng, hingga wajah nya merona menahan malu. Sebegitu suka nya dia akan sentuhan kekasih nya itu.