Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Situasi tak kondusif part II


__ADS_3

"Kau benar, maaf juga sudah tiba-tiba hadir dalam kehidupan sempurna kalian. Kami datang dengan niat baik, hanya ingin di kenal oleh cucu-cucu kami. Tidak ada maksud lain," jelas Reegan dengan tenang.


"Ayo kakek kenalkan pada nenek, mana saudara mu. Siapa yang kakak siapa yang adik, hmm?" Reegan bertanya sambil menggendong tubuh berisi cucunya.


"Aku adiknya, kek." Suara mungil Eiden membuat Reegan kembali berbalik, rupa nya sejak tadi dia hanya berdiri di balik pintu. Anak balita itu sedikit memahami, jika orang-orang dewasa itu sedang dalam suasana tak kondusif.


"Wah, lihatlah sayang. Cucu kita ternyata sangat tampan, persis Keenan ketika kecil dulu. Hanya saja ayah mereka anak sulung," ucap Reegan berbinar senang lalu menghampiri cucunya dan menggendong nya bersamaan.


Mike kembali mengetatkan rahangnya, dia yang andil membesar kedua anak itu. Lalu ujung-ujungnya malah di puji mirip Pria lain, meskipun itu ayah kandung mereka. Tetap saja dia tidak rela.


"Ayo kita berkenalan dengan nenek kalian yang sangat cantik itu," ajak Reegan pada kedua cucunya sambil


Sarah menitikkan air matanya, kemudian segera menghapus nya. Dia teramat sangat bahagia sekarang, "ayo sini, gendong nenek saja. Kakek kalian sudah tua, nanti dia encok dan akan merepotkan nenek untuk memijatnya." Seloroh Sarah sumringah, lalu meraih sang cucu dari gendongan Reegan dan membawa Eiden duduk kembali di sofa.


"Sayang? Kenapa berkata seperti itu di hadapan cucu kita. Apa kau lupa akan keperkasaan ku, hmm? menggendong mu saja aku kuat, apa lagi hanya kedua cucu kita ini." Protes Reegan tak terima.


Mike Menatap tak suka dengan keharmonisan keluarga itu, bukan begitu skenario nya. Dasar anak-anak itu, padahal sudah susah payah dia mendoktrin keduanya sepanjang perjalanan. Namun kenyataan tak sesuai harapan nya.


Mike mendengus kesal melihat pemandangan yang tak mengenakan pelupuk matanya, lalu beralih menatap Arumi yang masih betah duduk di samping Keenan.


"Sayang? apa kau tidak menyuruhku untuk duduk?" tanya Mike mengiba.


"Heh? duduk lah, biasanya kau akan duduk dimana saja kau suka." Balas Arumi tersentak, dia terlalu fokus pada pemandangan indah di hadapannya itu sampai tidak menyadari, jika Mike masih ada disana.


"Aku ingin duduk di dekat calon istri ku, kau tidak keberatan untuk berpindah posisi tuan Keenan.?" Pernyataan dan pertanyaan yang begitu menjengkelkan di telinga Keenan, namun dia harus mengalah sementara waktu.


Keenan berpindah ke sofa tunggal di samping ibunya, "Hai kids? Kenapa kalian pulang nya sore, bukankah sekolah pulang pukul 10:30?" tanya Keenan basa basi, dia tau darimana anak-anak nya.


"Kami menginap di rumah daddy, pak guru tampan." Jawab Elsye dengan tingkah lucunya.


"oh, Kenapa tidak tinggal bersama ibu. Ibu sangat sedih karena tidak ada yang menemani nya benarkan, Umi?" Sengaja Keenan menekan kata Umi, dalam kalimat nya.


"Sebentar lagi kami akan tinggal di rumah daddy Mike, benarkan dad?" jelas Elsye lalu balik bertanya pada Mike yang tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


"Benar, girl. Anak daddy pintar sekali," puji Mike menyentil hati Keenan.


"Kakek, boleh aku bertanya?" ucap Eiden takut-takut.


"Tentu saja, Katakan apa yang ingin kau tanyakan? balas Reegan menatap wajah polos cucunya.


"Jika kau Kakek ku, maka kakek adalah ayah dari daddy Mike, benar begitu?" Eiden menatap Reegan penasaran.


"Emm... Bukan begitu konsep nya sayang. Begini, kakek ini adalah..."


"Eiden! Tidak sopan bertanya sesuatu pada orang yang baru kau temui." Eiden menunduk mendengar nada suara Mike yang tak seperti biasa nya, ini kedua kalinya dia mendengar suara bernada tinggi dari Mike. Pantas saja dia langsung terlihat takut.


"Tuan Mike!" Seru Reegan tanpa sadar jika dia sedang memangku cucunya.


"Sayang?" Sarah mengode dengan ekor matanya.


Seketika Reegan tersadar, "maafkan kakek, sayang. Kakek tidak suka orang lain menyentak kan suaranya pada cucu kakek. Tidak peduli dia siapa," ujar Reegan merasa bersalah lalu mencium pucuk kepala Eiden dengan sayang. Namun matanya masih menatap Mike dengan tatapan membunuh.


"Maaf, Eiden. Daddy tidak bermaksud meninggikan suara padamu, Daddy hanya tidak ingin kau menjadi anak yang tidak punya sopan santun." Elak Mike membela diri. Dia terlihat salah tingkah kah karena sedang di tatap tajam oleh Reegan dan Keenan, belum lagi Arumi juga tengah menatap nya dengan tatapan kecewa.


"Meninggikan suara mu tidak akan membuat singa berlari ketakutan, malah hanya kan menyulut amarah nya menjadi tak terkendali, dan menyerang mu tanpa memberikan celah sedikitpun." Perkataan lembut Sarah yang penuh makna, membuat Mike tak berkutik.


Mike terdiam berusaha mencerna apa yang wanita itu katakan, diantara ketiga orang itu. Jujur, tatapan Sarah yang Paling membuat nya ciut. Paras teduh wanita itu terlihat menakutkan bagi Mike.


"Maaf, nyonya. Tidak akan saya ulangi lagi," ucap Mike menunduk.


"Sudah seharusnya. Tidak ada seorang nenek yang rela, bila darah daging nya di sentak oleh orang lain apapun alasannya. Kau mungkin tidak akan mengerti, bagaimana ikatan batin itu bekerja lebih dahsyat dari pada sebuah hutang budi." Ujar Sarah dingin dan terdengar menusuk tepat di jantung pria itu.


Mike merasa dirinya di pukul telak oleh perkataan Sarah, dia merasa tersindir oleh kata-kata wanita itu. Benar, dirinya selama ini sengaja menghutang budikan kebaikannya, agar Arumi dan anak-anaknya terikat padanya.


Keenan dan Reegan hanya bisa bertukar pandang, tanpa berani menyela. Keduanya begitu takut pada wanita yang sangat mereka sayangi itu, meski sejatinya Sarah tak pernah sekalipun memperlihatkan kemarahan nya. Namun sekali kata-kata bernada datar dan dinginnya mulai keluar, maka jangan berani-berani untuk menyelanya. Diamnya saja menakutkan, apalagi marahnya.


"Sekali lagi, maafkan saya, nyonya. Saya sungguh tidak bermaksud seperti tadi, saya han...."

__ADS_1


Kalimat Mike terpotong oleh intrupsi Sarah, "tidak apa-apa tuan Mike, tapi tidak untuk lain kali." Kali ini Sarah menatap Mike dengan tatapan yang sulit artikan, namun bagi Mike. Tatapan Sarah, ada tatapan membunuh baginya. Nyalinya ciut, mulutnya kelu tak ada kalimat yang mampu dia keluar kan untuk membalas kata-kata wanita itu.


Mike menunduk sambil meremat jari-jari tangan nya, seperti seorang anak yang sedang di marahi oleh ibunya. Sisi hatinya marah namun juga segan dalam waktu bersamaan, Sarah adalah wanita yang tenang. Pengendalian dirinya dalam menghadapi situasi, membuat nya sangat sungkan meski hanya sekedar membela diri.


"Kek? kenapa diam saja, apakah kakek adalah ayah Daddy Mike?" celoteh Elsye mengulang pertanyaan sang adik.


"Bukan sayang, kakek adalah ayah dari pak guru tampan mu itu." Ujar Reegan menunjuk ke arah putranya.


Elsye dan Eiden menatap bingung pada sang Kakek, "jika kakek ayahnya pak guru tampan, apa pak guru tampan itu juga daddy kami seperti Daddy Mike?" celoteh Elsye penasaran juga bingung, mengapa dia dan adiknya memiliki dua ayah dan hanya ada 1 ibu.


Reegan tampak mengatur kata-kata yang akan dia sampai kan pada kedua cucunya agar mudah di cerna oleh keduanya. Sementara Mike mulai gelisah dalam duduknya, sesekali pria itu menajamkan matanya ke arah Elsye. Agar gadis itu berhenti bertanya, dan tanpa dia sadari, apa yang dia lakukan tak luput dari perhatian Sarah.


Sarah segera mengambil alih cucu nya, kemudian menjawab apa yang Elsye tanyakan pada kakeknya. "Daddy Mike adalah orang yang selama ini membantu ibu untuk merawat kalian, sementara ayah Keenan..." Sarah menghela nafas panjang, "dia adalah ayah kandung kalian, sederhana nya, seperti ibu kalian yang melahirkan kalian. Maka dia adalah ibu kandung kalian, begitu juga dengan pak guru tampan kalian ini. Apa kalian bisa memahami nya, hmm?" jelas Sarah hati-hati. Dia tak ingin membuat kedua cucunya bingung.


Namun melihat bagaimana Mike berusaha menekan kedua cucunya, Sarah jadi berubah pikiran. Tadinya dia kan memberi waktu agar cucu nya bisa beradaptasi dengan keadaan, hingga seiring berjalannya waktu. Keduanya akan memahami dengan sendiri nya.


Pelajaran baru, kini di ingatan kedua balita itu. Bahwa Mike bukanlah ayah kandung mereka, tapi pak guru tampan itulah ayah kandung mereka. Kasarnya, Mike hanya sekedar membatu ibu mereka, sementara ayahnya ada di tempat jauh hingga tak bisa bersama dengan mereka.


"Apakah ayah juga akan menikah dengan ibu?" celotehan Eiden membuat mata Mike melotot tajam.


"Eiden?" peringat Mike tak suka.


"Dia hanya bertanya, tuan Mike. Kenapa kau harus sepanik itu," ujar Keenan tak suka, lagi-lagi Mike terlihat jelas menekan putranya.


"Maaf, dad," ucap Eiden menunduk takut.


"Kau tidak salah sayang, apa kau ingin melihat ayah menikah dengan ibumu. Agar kita bisa berkumpul bersama," tanya Keenan sengaja memancing emosi Mike.


"Kau?" desis Mike mengepalkan tinju nya. Kedua pria itu beradu tatapan tak bersahabat.


Reegan menyadari itu, segera menengahi, "sudah, Keenan, pulanglah, tunggu di rumah, siapkan kamar untuk Elsye dan Eiden. Malam ini mereka akan menginap bersama kita." Pungkas Reegan tak bisa di bantah, bahkan Mike pun hanya bisa diam tanpa protes.


Dia menatap Arumi memberi isyarat, agar wanita itu mencegah nya. Namun Arumi hanya balas menatap nya acuh, Mike benar benar kesal bukan main. Jika tau seperti ini, dia tidak akan jauh-jauh datang kemari dan mengorbankan pekerjaan penting nya.

__ADS_1


__ADS_2