Maaf, Untuk Lukamu!

Maaf, Untuk Lukamu!
Pedofil Tak Tahu Diri


__ADS_3

Daru nampak gelisah, hari ini dia di perbolehkan untuk pulang, namun justru hati nya tidak merasa senang mendengar kabar baik itu.


"Pakai jaket mu dulu, aku mau menelpon ayah ku untuk menjemput ku pulang." Daru menerima jaket dari tangan Imah dengan tak bersemangat.


"Pulang dengan ku saja, anggap sebagai ucapan terimakasih ku karena kau sudah merawat ku dengan baik." Ujar Daru memberanikan diri untuk menawarkan tumpangan pulang.


"Tidak perlu, tangan mu saja masih di perban. Aku khawatir kau akan kembali membawa ku ke rumah sakit." Tolak Imah masih sibuk memasukkan barang milik Daru ke dalam tas tenteng sedang yang di berikan oleh Mike.


"Ck! kau ini, kalau hanya menyetir aku masih mampu. Luka ku juga sudah mulai mengering, tinggal pemulihan nya saja." Kesal Daru karena gagal membuat Imah berlama-lama dalam radius nya.


"Oleh karena itu aku tidak ingin mengambil resiko, bisa saja luka mu terbuka. Nanti aku juga yang repot" kukuh Imah tetap menolak, Daru merengut kesal.


Klek


Mike datang membawa plastik di tangan nya "makan dulu sebelum pulang, jam tanggung juga kan? ini waktu nya makan siang, Imah, ayo makan siang dulu. Paman sudah membeli masakan padang kesukaan mu." Ujar Mike mengeluarkan tiga bungkus nasi dari dalam kantung plastik tersebut.


"Ada apa dengan wajah mu?" tanya Mike menatap wajah kusut Daru, tangan nya masih sibuk membuka Staples dari bungkus nasi nya.


"Jangan meledak ku" ketus Daru melampiaskan kekesalan nya pada Mike, bukan nya marah, Mike malah terkekeh lucu. Imah yang polos dan cuek, sangat bertolak belakang dengan Daru yang sedikit sensitif dan suka di perhatikan. Begitu lah yang dia tau dari Alisya, untuk itu hubungan mereka bisa di masuki oleh orang ketiga. Alisya yang sibuk jarang memiliki waktu untuk sekedar menanyakan kabar Handaru.


"Kenapa kau kesal begitu ? tidak malu sama Imah ? Ya kan, Imah ?" seru Mike pada keponakan nya. Imah yang tak tau apa-apa langsung menjawab sekena nya.


"Ya paman, terimakasih." Mike tertawa geli mendengar jawaban spontan Imah. Bibir Daru semakin maju, belum ada ide sama sekali terlintas di benak nya untuk bisa lebih dekat dengan gadis cerewet itu.


"Ayo makan, dulu." ajak Mike pada kedua manusia berbeda genre tersebut.

__ADS_1


Wajah Imah berbinar melihat daging rendang dan sambal goreng paru kesukaan nya.


"Wuaahh, makanan enak nih. Makasih paman, ini paman beli sendiri apa di belikan sama bibi ?"


"Makan saja yang ada, kenapa mulut mu selalu saja cerewet." Ketus Daru menyendok kasar nasi nya ke dalam mulut. Mike mengatup mulut nya menahan tawa, cara pendekatan yang unik pikir nya.


"Paman yang beli, ada di depan rumah sakit. Rasa nya juga enak, dan yang paling penting, hemat di kantong." Kekeh Mike tanpa merasa gengsi sedikit pun mengungkapkan pendapat nya.


"Ya benar, untuk apa beli makanan mahal-mahal kalau yang murah lebih enak. Murah bukan berarti murahan, kan?" sambung Imah mengemukakan pendapat pribadi nya. Daru menatap gadis cantik di depan nya yang sedang makan tanpa sedikitpun terlihat jaim. Berbeda dengan kebanyakan wanita yang selalu menjaga manner mereka di depan orang lain, terlebih jika ada pria di antara mereka.


"Benar, calon dokter pasti tau gimana rasa nya harus berhemat agar bisa membayar biaya praktikum dan sebagainya." Kelakar Mike di angguki oleh Imah. Walau sebenar nya, Mike bukan lah berasal dari keluarga yang susah. Ayah nya memiliki perusahaan cukup besar di LN, namun dia tidak pernah cocok dengan ayah nya tersebut, sejak ayah nya menikah lagi dengan wanita yang bahkan lebih muda dari nya.


"Paman benar, biaya sekolah dokter ternyata sangat mahal. Andai aku tau akan mengeluarkan banyak uang, aku lebih baik sekolah yang lain saja. Rasa nya terlalu berlebihan membuat abi dan umi harus mengeluarkan biaya yang sangat banyak hanya untuk ku saja. Belum lagi adik-adik ku, pasti abi bekerja sangat keras untuk kami. Terutama untuk biaya kuliah ku" tanpa sadar, Imah telah mencurahkan isi hati nya.


Daru menatap kagum pada Imah, pemikiran gadis itu sungguh luar biasa. Sampai memikirkan bagaimana orang tua nya, berusaha mencukupi kebutuhan anak-anak nya. Daru baru tau jika Imah anak adopsi, pantas saja dia tidak terlalu banyak tau tentang gadis itu. Namun keakraban Imah dengan keluarga nya, membuat Daru kagum. Gadis itu fokus ingin membanggakan kedua orang tua nya, dengan menjadi seorang dokter.


"Kau yakin tidak ingin ikut mobil ayah ku? kondisi mu belum memungkinkan begitu, kenapa ngotot sekali." Gerutu Imah kesal. Dia menawar kan tumpangan pada Daru, namun pria itu kekeh menolak dan ingin pulang dengan mobil nya sendiri.


"Kenapa tidak kau saja yang ikut dengan ku. Aku tidak akan memakan mu, kenapa takut sekali dekat dengan ku." balas Daru menatap gadis yang duduk di sofa, selama dia sadar Imah hanya akan dekat dengan nya saat diri nya butuh bantuan. Jika tidak, gadis itu terkesan jaga jarak dengan nya.


"Bisa saja kau khilaf dan menerkam ku, aku ini kan masih muda, walaupun tidak cantik-cantik amat. Tetap saja aku ini wanita," bela Imah tak mau kalah. "Lagi pula ayah ku sudah setuju jika kau ikut dengan kami, kenapa keras kepala sekali." Lanjut nya kembali mengomel.


"Kare...."


klek

__ADS_1


Keenan masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, dia sengaja, agar bisa menangkap basah jika pria tua itu tidak tengah merayu putri nya.


"Sudah siap belum?" tanya Keenan tanpa basa-basi.


"Udah bi, ini tinggal angkat saja" tunjuk nya pada tas ransel milik nya. "Kau jadi ikut tidak, mumpung abi ku sedang berbaik hati mau memberi mu tumpangan." Ujar Imah lagi, Daru menatap ke arah Keenan yang memasang wajah siaga.


"Aku ikut" ucap nya lemah, meski sangat malas melihat wajah tak bersahabat Keenan pada nya. Apa daya, dia masih ingin melihat Imah dari jarak dekat.


"Ya sudah, bawa tas mu sendiri. Putri ku sudah lelah mengurus mu" ketus Keenan menatap horor pada Daru, mau tak mau daru menenteng tas nya sendiri. Pria itu mengekori ayah dan anak di depan nya dengan wajah di tekuk sempurna.


Setiba di mobil terjadi sedikit drama, Keenan melarang Imah duduk di kursi belakang. Padahal Daru sudah memasang wajah penuh semangat, saat gadis itu akan naik di jok belakang.


"Duduk di depan saja, nak. Kau bisa beristirahat lebih baik" ujar Keenan berhasil membuat raut wajah Daru seperti kain kusut.


"Baik bi, aku pikir dia yang mau duduk di depan sama abi, jadi aku bisa berbaring di belakang" jelas Imah lalu berpindah ke jok depan. Keenan menurunkan sedikit sandaran jok agar putri nya bisa sedikit berbaring.


"Makasih bi, lain kali Imah mau belajar soal mobil walau tidak bisa mengemudi kan nya." Ujar Imah malu, dia tidak tau apa-apa soal menurunkan jok. Sangat memalukan pikir nya.


"Tidak apa-apa, abi tidak masalah melakukan nya. Nanti kau bisa belajar menyetir dengan abi atau mang Ujang." Sahut Keenan, dia tau putri pasti malu dengan penumpang gelap mereka di belakang.


"Tidak perlu bi, aku bisa naik angkot kalau abi tidak sempat mengantar atau menjemput ku kuliah. Imah belum ada bayangan soal mengemudi, masih jauh dari pikiran Imah. Imah lebih suka di antar jemput seperti biasa." Tolak Imah halus, sangat tidak tau diri jika diri nya meminta di ajarkan mengemudi, bisa duduk nyaman dalam mobil mewah tanpa harus membayar saja diri nya sudah sangat bahagia.


"Kita lihat nanti, umi mu sudah mulai protes, anak gadis nya masih belum abi ajarkan mengemudi." Kekeh Keenan mengingat bagaimana istri nya sangat memperhatikan hal sekecil apapun soal putri sulung mereka itu.


Kedua nya terlibat obrolan ringan tentang banyak hal, Daru hanya berperan sebagai pendengar yang baik. Bingung harus memulai obrolan dari mana, Keenan seakan tidak memberikan sedikit pun celah pada nya untuk berbicara dengan Imah.

__ADS_1


Dasar calon mertua laknat maki nya kesal. Posisi duduk nya sudah berkali-kali dia ubah karena sedikit tak nyaman dengan lirikan mata Keenan dari balik spion tengah. Keenan menyeringai puas dalam hati nya. Dasar pedofil tak tau diri batinnya tak kalah memaki.


__ADS_2