
"Aku akan memaafkanmu kalau kau bisa memberiku solusi tentang permasalahan ini!
Kalau kau tidak bisa, kau akan ku tugaskan di bagian pelayanan kota D." Ucap Saga.
"Waktumu 2 menit untuk memikirkan solusinya!" Sambung Saga.
"Bolehkah saya tahu apa yang baru saja terjadi antara Tuan dan Nona?" Tanya Aran.
"Penjelasan ku juga akan dihitung dalam waktunya. Aku menciumnya di depan umum lalu membawanya pulang ke rumah." Ucap Saga dengan singkat.
Aran kembali menghela nafasnya Bagaimana bisa Ia mendapatkan solusinya dengan 1 kalimat penjelasan seperti itu?
'Tuan, bahkan jika Anda bertanya pada presiden ia lebih memilih menyelesaikan soal matematika daripada soal anda!' gumam Aran dalam hatinya.
Ia memiliki tuan yang sangat tidak memiliki hati!
"Waktumu tersisa 1 menit 10 detik." Kata Saga kembali mengingatkan Aran akan waktunya yang tersisa.
Aran memikirkan solusinya dan sepertinya ia tahu apa yang terjadi. Menurut kebiasaan bosnya, ketika ia sedang dalam suasana hati yang tidak baik, Saga biasanya malas berbicara. Jadi mungkin kunci permasalahan ini berada di dalam mobil.
'Kalau aku bilang Bos bersalah karena sudah mengabaikan Nona di dalam mobil, maka ia akan menyalahkan aku karena aku telah menyalahkannya. Kalau aku tidak mengatakannya,,,,' Aran membayangkan tubuhnya diletakkan di atas ranjang dan para wanita gemuk mengelilinginya sembari meraba-raba ototnya.
'Itu menggelikan!' gumamnya sambil bergidik.
"30 detik." Lagi kata Saga memperingatkannya.
'Bos, jangan salahkan aku, ini salahmu karena tidak berpengalaman dengan wanita!' Gumam Aran.
"Nona marah karena tuan tidak membujuknya di dalam mobil." Ucap Aran.
__ADS_1
"Kau! Beraninya aku menyalahkan ku! Gajimu di potong 90% selama 6 bulan!" Ucap Saga.
"Terima kasih Tuan." Ucap Aran merasa lega. Itu masih lebih baik dari pada di kirim ke kota D.
"Berdiri di sini sampai pagi!" Ucap Saga lalu keluar dari ruangan.
Ia melihat Topia sedang berdiri dengan tegap di depan pintu "Masuk dan temani Aran.
Ingat untuk berdiri dihadapannya dan menatap matanya dengan dalam!" Ucapnya pada Topia.
"Baik Bos." Ucap Topia lalu berjalan pergi.
"Tunggu!" Lagi kata Saga lalu mengeluarkan sebuah obat dari sakunya.
"Berikan ini padanya." Ucap Saga.
"Baik Tuan." Jawab Topia.
Tapi Aran tidak mudah menyentuh Topia, gelar sabuk hitam pada gadis itu sudah cukup membuat mereka bergulat lama sebelum Aran bisa melumpuhkannya.
'Itu hukuman untukmu karena berani menguping pembicaraan ku dengan istriku!' gumamnya lalu ia kembali mengetuk pintu kamar.
"Sayang,, apa kau masih bangun?" Katanya tanpa ada yang merespon dari dalam.
"Sayang?" Lagi panggil Saga, padahal ia tidak tahu kalau Dita sudah terlelap dalam mimpinya.
...
Pagi harinya, Dita terbangun dan menggapai tempat tidur di sebelahnya. Ia mencari Saga untuk di peluk.
__ADS_1
"Sayang,," katanya dengan suara khas baru bagun pagi. Ia segera tersentak saat mendapati dirinya hanya sendirian di dalam kamar.
"Aah,,, aku lupa kalua kemarin aku marah." Ucapnya setelah menyadari apa yang terjadi.
"Harusnya aku tak melakukan itu, sangat kekanak-kanakan!" Ucapnya lagi lalu ia berjalan ke arah pintu kamar.
Ia terkejut saat mendapati Saga masih berdiri di depan pintunya, pria itu sepetinya tertidur dalam posisi berdiri.
"Sayang?" Panggilnya langsung membuat Saga tersentak.
Pria itu langsung melihat Dita dan memeluknya "Maafkan ku sayang, aku sudah tahu kesalahanku." Ucap Saga.
"Kau,, kau berdiri di sini sepanjang malam?" Tanya Dita memperhatikan kantong mata Saga yang gelap.
"Itu tidak penting, yang penting aku sudah tahu kesalahanku dan aku takkan pernah mendiamkan mu lagi."
Dita tersenyum, "Jadi begini rasanya jatuh cinta." Katanya mempererat pelukannya dengan Saga.
"Memangnya sepeti apa?" Tanya Saga.
"Aku rasa jantungku berdegup kencang dan HM,, aku sangat senang." Ucap Dita tersenyum.
"Kenapa aku merasakan hal kain?" Ucap Saga menatap wajah Dita.
"Hmm?"
"Aku rasa ingin memakannya dan menelanmu bulat-bulat!" Ucap Saga membuat pipi Dita memerah.
"Kau mesum!" Bentak Dita memukul dada Saga lalu gadis itu berlari ke kamar mandi.
__ADS_1
'Bagaimana bisa pria itu terus memikirkan hal seperti itu?' pikir Dita sembari memulai ritual paginya.
❤️