
"Hahaha,," tawa Roni memenuhi rumah besar milik Saga.
"Sekarang apa yang ayah akan lakukan? Ayah pasti tahu kan bagaimana sejarah semua harta yang Ayah miliki. Semua kebenaran akan segera terbongkar dan apa yang akan ia dapatkan Setelah semuanya terbongkar?" Ucap Roni pada tetua sembari yang memperbaiki posisi duduknya di sofa tunggal.
Tetua terus diam memikirkannya 'Kalau aku membunuh Roni maka tidak ada orang yang akan menjadi ahli warisku kelak. Tapi kalau aku membunuh 3 orang yang ada di sini maka tidak akan ada lagi satupun orang yang menghalangiku menguasai semua harta ini. Saga dan lorano juga pasti sudah tahu Siapa sesungguhnya yang berhak secara hukum dengan semua harta yang kumiliki
Kalau sampai mereka berdua membongkarnya maka aku tidak punya jalan lain selain menyerahkan semuanya pada gadis itu.'
Ron memperhatikan ayahnya ia bisa membaca jalan pikiran pria tua itu. Roni segera mendekat ke arah tetua lalu berbisik dengan pelan "Ayah tidak perlu memikirkan ku karena Ayah memiliki kendali pada diriku. Tapi bagaimana dengan ketiga orang yang sedang sarapan itu? Kalau sampai semua kebenaran terungkap Ayah hanyalah Seorang Pria tua yang tak memiliki apapun, ayah akan segera jatuh miskin!"
Tetua menghela nafas lalu berkata "Lebih baik membunuh semua orang dari pada menyisakan satu penghianat!" Katanya lalu menekan tombol di tangannya hingga Roni mengalami sesak nafas sebelum jatuh ke lantai dengan mata melotot sempurna.
'Satu selesai, sekarang hanya tinggal 3 orang yang ada di ruang sebelah.' Gumam Tetua lalu ia berjalan ke arah ruang makan menemui ketiga orang itu.
"Ahh, sepertinya salah satu pahlawan kita telah gugur di medan perang." Ucap Lorano sambil menggigit roti lapis nya saat melihat tetua datang sendirian menemui mereka.
__ADS_1
Tetua tidak mengatakan apapun dan langsung duduk disalah satu kursi sambil menatap ketiga orang yang masih sibuk sarapan.
"Yang kalian inginkan sudah terjadi, tak ada lagi orang yang akan merundung kalian dan kalian bisa dengan bebas menguasai semua hartaku." Ucap Tetua.
"Oh, apa tetua sedang membicarakan waktu tetua untuk hidup di dunia ini tinggal dua minggu lagi?" Tanya Lorano tanpa rasa bersalah.
"Sejak awal kalian sudah pasti mengetahuinya bagaimana badjingan itu memberiku racun setiap hari. Aku tidak tahu orang-orang yang kupungut dan kubuat memiliki nama yang besar akan lupa diri dan membalas ku seperti ini." Ucap ketua sembari memandangi 2 orang yang telah Ia besarkan.
Memang awalnya kedua orang itu bukanlah siapa-siapa, tapi ia kemudian membesarkan mereka dan akhirnya memiliki jabatan yang tinggi dan disanjung oleh banyak orang seperti saat ini.
"Sayang, Apa kamu masih mau menambah?" Tanya Saga pada Dita.
"Tidak, aku rasa perutku sedikit mual." Jawab Dita.
"Haruskah kita kembali ke kamar? Udara di sini sudah tercemar." Usul Saga.
__ADS_1
"Kau benar, biar kakak ipar saja yang menangani pencemaran udara di sini." Jawab Dita lalu ia berdiri.
Keduanya baru akan pergi dari ruangan itu ketika tetua kembali menghentakkan tongkatnya "Kalian pikir mau kemana?!" Katanya dengan tegas.
"Sayang, apa lalat bisa menggonggong juga?" Tanya Dita merasa risih.
"Sepertinya lalu zaman sekarang memang sudah bermutasi menjadi lebih aneh." Komentar Saga dengan acuh lalu mereka melanjutkan langkahnya.
"Tahan mereka!" Teriak Tetua lalu para penjaga menghalangi jalan yang akan dilalui oleh Dita dan Saga.
Para penjaga itu langsung mengacungkan senjata mereka pada Dita dan Saga seolah-olah sedikit saja pergerakan kedua orang itu lalu senjata-senjata yang mereka pegang akan meledak di kepala Dita dan Saga.
__ADS_1