
Setelah membuka ikatan pada kaki dan tangan Topia, Aran angsung melihat pada seorang pengawal "Siapkan mobil."
Pengawal tersebut langsung mengangguk lalu pergi menyiapkan mobil bagi Aran.
"Hei, apa kau baik-baik saja?" Topia bertanya pada Aran saat melihat dari tatapannya pria itu kini fokus pada gedung yang terbakar.
"Jangan banyak menghabiskan tenagamu untuk bertanya sesuatu yang tidak penting." Ucap Aran dengan suara datarnya.
"Baik, tapi bagaimanapun aku berterima kasih karena kau sudah menyelamatkanku." Ucap Topia dengan tatapan yang terus melekat pada Aran.
"Ya," jawab Aran dengan singkat.
"Tuan, mobil sudah siap." Ucap pengawal yang tadi ditegaskan Aran untuk menyiapkan mobil baginya.
Aran mengangguk pada pengawal itu lalu berbalik menatap Topia "Kau masih kuat berjalan?" Tanyanya.
"Ya," jawab Topia dengan suara rendahnya lalu perempuan itu segera berdiri mengikuti Aran berjalan ke arah mobil yang telah disiapkan oleh pengawal.
__ADS_1
Topia teeus memperhatikan Aran hingga mobil mereka melaju barulah ia melepaskan pandangannya dari Aran melihat bangunan di belakang mereka yang sementara dipenuhi oleh pemadam kebakaran.
Mobil melaju kencang ke arah rumah sakit.
Begitu tiba di sana, Topia langsung mendapat perawatan dari petugas kesehatan dengan Aran yang menunggunya dengan setia.
'Ada apa dengan Aran? Apakah dia sudah mendapat hasil penyelidikan yang menyatakan bahwa aku tidak bersalah?' pikir Topia melihat Aran.
Sikap pria itu sangat berubah, Aran tampak terlihat memiliki sebuah perasaan yang dipendam dalam hatinya.
Tapi, meski pun ia berusaha membacanya dari raut wajah Aran, ia tidak bisa menemukan emosi apa yang sebenarnya disembunyikan pria itu.
Selama beberapa menit keheningan terus menyelimuti mereka berdua sampai akhirnya Topia tidak tahan lagi lalu membuka mulutnya.
"Apakah kau sudah menyelidiki kasusnya dengan benar? Apa kau sudah menemukan bukti bahwa aku tidak bersalah?" Tanya Topia membuat Aran menatap pada perempuan yang duduk di atas brankar.
"Ya, maafkan aku karena terlalu lambat menyelidikinya." Kata Aran merasa bersalah pada perempuan di depannya.
__ADS_1
Namun, di luar dugaan nya ketika dia pikir Topia akan memarahinya, malah perempuan itu tersenyum.
"Tidak masalah, yang penting aku sudah ada disini bersamamu. Itu sudah lebih dari cukup,," ucap Topia.
"Kau tidak marah?" Tanya Aran.
Topia mengangkat alisnya, "Marah? Kenapa aku harus marah padamu? Aku dijebak oleh Tetua karena keinginanku sendiri, aku berusaha menjadi orang yang sok kuat tapi ternyata tidak memiliki kemampuan untuk menjadi orang kuat.
"Awalnya aku berpikir aku ingin memperlihatkan kesetiaan ku pada Tuan Saga dan Nyonya Dita bahwa aku sudah benar-benar berubah, tapi ternyata aku hampir meninggal, untung ada kau yang menyelamatkanku." Kata Topia tersenyum.
Melihat perempuan yang masih bisa tersenyum setelah hampir di telan kematian, Aran merasa hatinya diguncang oleh senyum itu.
Seandainya dia telat beberapa waktu saja mengetahui kebenarannya, maka sekarang Topia mungkin sudah tewas terpanggang di sel tahanan.
"Baguslah, istirahatlah sebentar, aku akan menemui dokter." Kata Aran lalu pria itu berjalan keluar dari ruangan meninggalkan Topia yang terus menatap kepergiannya.
Dia merasa bersalah hingga membuatnya berpikir bahwa dia tak pantas berada di depan perempuan itu.
__ADS_1
Sangat memalukan baginya, berhasil di tipu oleh tetua hingga hampir membunuh orang yang sebenarnya memiliki niat baik.