MaFiA CoUpLe

MaFiA CoUpLe
68. Kasihan pada adik dan calon keponakan


__ADS_3

1 bulan telah berlalu, Lorano sudah menyelesaikan pembentukan ototnya meski belum sempurna.


Sementara Saga dan Dita sudah merencanakan pernikahan mereka, bahkan persiapannya sudah mencapai 70%.


"Hah! Sayang sekali dia tidak bisa meninggalkan perusahaan." Gerutu Dita di depan kedua pria yang sedang membaca majalah bisnis.


"Siapa?" Tanya Saga.


"Aku berharap Senya bisa menghadiri pernikahan kita, tapi ternyata perusahaan besar cukup membuatnya kerepotan hingga tidak memiliki waktu luang untukku." Lagi kata Dita sambil menghela nafasnya.


"Atau mungkin dia sudah menemukan seseorang yang membuatnya nyaman di sana." Ucap Saga dengan sudut matanya mengamati Lorano.


"Hm, itu benar, kalau begitu, kita tidak perlu mengganggunya." Ucap Dita.


"Benar, memikirkan pernikahan kita saja kau sudah terlalu repot, apalagi memikirkan Senya. Aku tidak mau kau terlalu banyak pikiran sampai mempengaruhi bayi kita." Lagi kata Saga sambil mengulurkan tangannya dan mengusap perut datar milik istrinya.


"Kau berbicara seperti itu sekarang? Justru kau yang akan melukai bayi kita kalau tidak pernah mendengarkan istrimu!" Gertak Dita saat mengingat kelakuan suaminya.


"Apa yang kau katakan? Aku hanya pergi mengunjungi bayi kita. Kenapa kamu begitu marah dan selalu melarangku?" Saga berpura-pura kesal.

__ADS_1


"Bisakah kalian bicarakan itu di kamar? Aku akan keluar sekarang." Ucap Lorano saat ia sudah tidak tahan mendengar omongan kedua orang itu, apalagi kamarnya yang masih belum berpindah dari samping kamar kedua orang itu.


Setelah Lorano pergi, sepasang suami istri yang sedang bermain mesra langsung tertawa keras bersama.


"Ini semua karenamu!" Ucap Dita sambil memukul pelan dada suaminya dan menahan tawanya.


"Itu bagus untuknya. Sudah saatnya dia berpikir untuk mencari seorang wanita yang bisa menggantikan Senya di hatinya."


"Menggantikan Senya? Memangnya Senya pernah mengisi hatinya?" Tanya Dita keheranan.


"Mungkin." Jawab Saga dengan acuh lalu ia mengangkat istrinya.


"Mumpung dia sedang keluar, ayo kita mencobanya di dapur." Ucap Saga segera menggendong istrinya ke dapur.


"Tidak! Bayi kita tidak akan menyukainya!" Gertak Dita sembari berusaha melawan pria yang menggendongnya.


"Jelas dia akan menyukainya, merasakan pengalaman baru di tempat yang baru." Ucap Saga mendudukkan istrinya di atas wastafel lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Dita.


"Aku punya gaya baru." Bisik Saga dengan suara yang membuat Dita bergelidik.

__ADS_1


"Mmh,, tapi tetap saja,," Dita menjawab dengan ragu karena sebenarnya Ia juga sudah terbuai dengan tangan suaminya yang sudah berkeliaran di mana-mana.


Namun dalam hatinya, ia masih memikirkan bayinya yang sangat kasihan jika Saga terus menggempurnya.


"Tenang saja, aku akan pelan." Lagi kata Saga lalu ia mulai mencumbui Dita.


"Mmmh," Dita memperingatkan suaminya dengan melototi pria itu ketika ternyata dibelakang Saga terdapat seorang pria yang sedang memandangi mereka dengan tatapan tajam.


"Ada apa?" Tanya Saga saat merasakan cubitan Dita di pinggangnya.


"Hah! Istrimu sedang hamil dan kau masih memaksanya? Sebenarnya kau senang untuk menyambut kehadiran bayimu atau kau kau berniat memaksanya keluar sebelum waktunya?" Ucap Lorano yang merasa sangat kasihan dengan adik ipar dan calon keponakannya.


Saga langsung menghela nafas dan melirik ke arah Lorano. "Katakan cepat!" Ucap Saga dengan kesal sembari membantu Dita turun, lalu perempuan itu berjalan meninggalkan Lorano dan Saga karena ia jelas merasa malu pada Lorano.


"Hem!" Lorano berdehem sambil memandangi celana Saga yang terlihat begitu lucu di matanya.


"Hais! Awas saja kalau kau datang karena sesuatu yang tidak penting!" Geram Saga lalu ia berjalan ke meja makan dan duduk di sana.


__ADS_1


__ADS_2