
"Tuan memanggil saya?" Tanya Aran saat ia di panggil di tengah malam.
Saga baru saja menidurkan Dita, jadi ia harus membicarakan sesuatu mendesak dengan Aran.
"Kamu selidiki semua pelayan di rumah." Ucap Saga membuat Aran kebingungan.
Namun Aran tak berani bertanya.
"Baik Tuan." Jawab Aran.
"Sekarang laporkan pergerakan Tetua itu." Ucap Saga menunggu informasi.
"Dia akan datang dalam 3 hari ke depan. Saya takut dia memiliki rencana, sebab ini pertama kalianya ia bepergian mengajak Kakak Pertama Tuan." Ucap Aran merasa sedikit cemas, karena Kakak Pertama Saga adalah orang kejam yang memiliki banyak senjata dan terlalu licik.
"Mereka sepertinya akan memulai peperangan. Panggil kakak ke-3 ku kemari."
"Baik Tuan." Jawab Aran lalu ia keluar dari ruangan.
"Hmm,, tetua itu sudah terlalu lama menekan semua orang. Tapi ia lupa kalau beberapa anaknya benar-benar tak perduli dengannya." Ucap Saga menatap ke luar jendela.
...
Hari ini Dita menghabiskan waktunya memandangi langit yang cerah di temani oleh Senya.
"Bagaimana keadaan kantor?" Tanya Dita.
"Semuanya berjalan baik. Hanya, beberapa klien mencari Nona. Tapi semuanya sudah teratasi. Besok pun proyek di kota A telah selesai." Ucap Senya.
__ADS_1
"Itu bagus. Aku akan menaikkan gajimu. Kau sudah bekerja keras selama ini. Pilihlah seorang pengawal untuk menjadi sekretarisnya, itu bagus untuk mempermudah pekerjaanmu. Oya, jangan lupa pikirkanlah masalah percintaan mu." Kata Dita tersenyum.
"Saya mengerti Senior." Jawab Senya.
"Baguslah." Ucap Dita merasa lebih baik.
"Nona, sekarang waktunya makan siang." Seorang pelayan menghampiri mereka.
"Aku akan ke sana." Ucap Dita pada pelayan itu lalu berbalik menatap Senya "Makan sianglah bersamaku." Katanya.
"Baik Senior." Jawab Senya.
Mereka berdua pindah ke meja makan. "Duduklah." Ucap Dita pada Senya.
"Emmh, Nona, itu kursi Nona Dita." Ucap pelayan yang terkejut melihat Senya duduk di tempat Dita.
Pelayan itu langsung diam di tempatnya.
"Apakah makanan ini sudah di coba?" Tanya Senya pada pelayan.
"Ya, saya sudah mencoba semuanya." Jawab pelayan.
Mereka mulai makan bersama, "Besok, jangan lupa datang lagi kemari." Ucap Dita.
"Baik Senior." Jawab Senya sebelum mereka melanjutkan makna siangnya.
Hari terus berganti, 2 hari kembali berlalu, Senya terus datang ke ruang Dita dan mereka makan siang bersama. .
__ADS_1
Hari ini pun, mereka makan siang bersama. Tapi Dita memperhatikan Senya sedikit lebih gemuk.
"Kau jadi lebih gemuk? Apa kau mmm," ucap Dita mengarah pada kehamilan.
"Eh,, benarkah?" Kata Senya dengan panik sembari memeriksa tubunya. Memang pakaiannya jadi lebih ketat selama 2 hari terakhir.
"Hei! Jangan menyembunyikan apa pun. Apa kau sudah,,"
"Tidak Senior! Saya bersumpah!" Potong Senya.
"Kenapa kau begitu panik? Aku hanya bertanya saja. Bahkan aku lebih gemuk darimu," kata Dita menghela nafasnya.
"Senior,,"
"Tidak usah di pikirkan. Lagi pula Saga menerimaku apa adanya. Aku hanya tidak percaya diri saat bersamanya. Kalau dulu aku punya bekas luka itu, tapi aku tahu kalau itu tidak nyata, tapi sekarang, ini benar-benar membuatku merasa canggung." Lagi kata Dita menghela nafas.
"Nona berlebihan, tapi aku penasaran mengapa racun itu tidak pernah hilang dari tubuh Senior? Ini sudah 1 bulan lebih, bukankah itu sangat aneh?"
"Kau benar, dokter juga bilang kalau seharusnya efek racunnya akan semakin berkurang, tapi sepertinya tidak ada perubahan." Lagi kata Dita yang tak mengerti juga dengan hal itu.
"Senior, mungkinkah setiap hari ada yang aneh, misalnya obat Senior ada yang menukarnya atau makanannya ada yang menaruh sesuatu?"
"Tidak, obat dari dokter aku sendiri yang menyimpan nya, makanan pun selalu di cicipi, tak ada pelayan yang terlihat aneh juga."
"Ini aneh," ucap Senya merasa ada yang salah.
__ADS_1