
Setelah memastikan Topia sudah baik-baik saja dan hanya perlu beristirahat sebentar di rumah sakit, Saga dan Dita kembali ke hotel sebelumnya.
Saga membawa Dita ke dalam kamar karena saat itu sudah larut malam dan Dita terlihat kelelahan.
"Istirahatlah dulu, aku akan menangani masalah ini." Ucap Saga saat mereka sudah tiba di kamar.
"Aku tidak bisa tenang." Kata Dita sambil melihat ke mata Saga.
"Percaya padaku." Lagi kata Saga lalu ia memberi sebuah kecupan di kening Dita.
"Pokoknya kau harus mengusut tuntas masalah ini aku sangat bersalah pada Topia.
Aku sudah berpikir buruk tentangnya tapi ia malah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan aku." Kata Dita.
"Aku akan melakukannya sesuai perintahmu.
Sekarang, turuti juga perintahku, istirahatlah dulu." Kata Saga lalu membantu gadis itu tidur.
Saga keluar dari kamar hotel dan ia beralih ke sebuah ruangan lain di hotel itu.
Aran langsung menyambutnya di depan pintu lalu menemani Saga masuk ke dalam ruangan.
Dua orang pelayan berada di dalam ruangan itu.
"Perempuan ini yang menaruh obat ke dalam makanan, sementara yang satunya ialah kurir yang datang membawa obat itu." Kata Aran menjelaskan situasi.
"Tu,,tuan! Tolong ampuni saya! Saya hanya diancam akan dibunuh jika saya tidak melakukannya!" Ucap pelayan yang terlihat lusuh karena telah disiksa oleh Aran.
"Sa,, saya juga! Saya hanya kurir yang mengantar barang. Saya tidak tahu kalau paket yang saya bawa berisi racun yang akan membunuh orang lain." Lagi kata pria yang yang sudah berlumuran darah disamping pelayan.
__ADS_1
"Saya sudah mengintrogasi mereka tapi sepertinya mereka memang tidak tahu apapun. Watak dibalik percobaan pembunuhan ini belum ditemukan, tapi kami melihat bahwa racun yang diberikan sama-sama berasal dari negara Q seperti virus yang tempo hari yang dimasukkan ke tubuh Nona Dita." Kata Aran kembali menjelaskan.
"Siksa kedua orang ini dan sebarkan beritanya." Ucap Saga lalu keluar dari ruangan itu. Tak ada informasi yang berguna.
Setelah keluar dari ruangan itu saga dan Aran berbicara di ruangan lain yang telah disediakan untuk mereka.
"Negara Q, kau harus mengusut ini dengan tuntas. Sepertinya ada sesuatu besar yang tersembunyi di sana." Ucap Saga sambil mengetukkan jarinya di atas meja.
"Baru saja informan kita memberi informasi kalau pemesanan obat ini dilakukan seperti saat memesan virus yang menyerang Nona Dita. Perbedaannya hanya satu, yaitu asal dari obat ini," ucap Aran menahan.
"Katakan," kata Saga.
"Obat ini berasal dari salah satu farmasi di bawah naungan organisasi utama kita."
"Apa!? Beraninya mereka! Usut ini, kalau mereka tidak menemukan siapa baliknya, aku akan membuat pemberontakan pada Tetua sialan itu! Beraninya dia membiarkan orang-orang yang menyakiti gadisku!" Kata Saga penuh kemarahan.
"Saya akan melakukannya." Ucap Aran lalu ia keluar ruangan meninggalkan Saga.
Setelah amarahnya reda, Saga kembali ke kamar. Di dapatinya Dita belum tidur, gadis itu masih memainkan I-pad miliknya.
"Sayang," kata Dita saat melihat Saga kembali.
"Kenapa belum tidur? Tanya Saga menghampiri Dita dan menyentuh wajah cantik gadis itu. Saat ini, bekas luka tak ada lagi di wajah Dita.
"Bagaimana penyelidikannya?" Tanya Dita memandang lekat ke arah mata Saga. Terlihat jelas kekhwatiran di tatapan gadis itu.
"Sudah selesai, kami sudah menemukan perusahaan penyedia obatnya.Aku sudah menugaskan Aran menyelidiki perusahaan itu." Kata Saga lalu menarik Dita ke pangkuannya.
Ia menenggelamkan kepalanya di leher gadis itu dan menghirup aroma Dita dengan dalam.
__ADS_1
Jantungnya berdegup kencang saat ia mendengar kabar kalau Dita hampir keracunan. Sekarang, ia masih terlalu takut kalau musuh yang sebenarnya adalah orang yang tidak bisa ia tangani.
'Aku takut, kedepan ini sangat sulit bagiku menjagamu.' Gumamnya.
Dita menepuk punggung Saga dan mengelus rambut pria itu.
Ia tahu, Saga sedang khawatir, "Kau masih sama seperti saat kita kecil. Selalu seperti ini saat sedang kuwatir. Ceritakan padaku," ucapnya.
Saga menghela nafas dan mengangkat wajahnya menatap Dita. "Kau mau mendengarnya?" Tanyanya.
"Hmm," jawab Dita sambil mengelus pipi Saga.
Cup!
Saga mencium Dita "Aku pikir orang di balik ini tidak mudah kita hadapi." Katanya menempelkan dahinya di dahi Dita.
Dita tertawa keras mendengar pria itu "Sejak kapan Seorang Hito menjadi takut?" Katanya.
"Aku tidak main-main sekarang!" Kata Hito menatap keras ke arah Dita. Ia ingin memeprinagtkan gadisnya agar lebih hati-hati.
"Cih! Aku tidak takut selama ada Hito bersamaku." Kata Dita lalu mencium lembut bibir pria itu.
"Sejak kecil aku selalu bergantung padamu, sekarang, aku akan menjadi kekuatanmu!" Ucapnya menatap Saga dengan penuh tekad.
"Haha,,, baiklah gadis kecilku yang nakal!" Ucap Saga lalu ia mulai mencumbui gadisnya.
"Kau belum mandi seharian ini, ayo ke kamar mandi." Kata Dita saat ia ingat Saga yang sejak pagi tidak pernah istirahat.
"Ok sayang," ucap Saga lalu mengendong Dita ke kamar mandi.
__ADS_1
Ia menjepit gadis itu ke dinding dan menyalakan shower hingga membasahi mereka berdua.
Pemainannya selanjutnya di sensor ya...