MaFiA CoUpLe

MaFiA CoUpLe
92. Kebakaran


__ADS_3

Setelah berbicara dengan Dewa, Aran tidak membuang-buang waktu lagi, pria itu langsung menyelidiki waktu ketika Dewa di serang oleh orang-orang jahat di luar negeri.


Setelah mendapatkan waktu yang pasti, pria itu lalu mencocokannya dengan kegiatan Topia pada waktu itu.


Pria itu sangat terkejut saat melihat hasil dari rekaman CCTV yang memperlihatkan bahwa pada waktu yang sama Topia tidak melakukan panggilan telepon.


"Jadi perempuan itu berkata benar?!" Aran langsung menjambak rambutnya.


Hampir saja dia membunuh orang yang tidak bersalah seandainya dia tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dita.


"Dasar tetua Sialan!!! Bisa-bisanya dia membodohiku sampai seperti ini!!" Aran menggertakkan giginya lalu pria itu meninggalkan ruangannya, pergi ke ruang penyekapan.


Ketika dia tiba di sana, dilihatnya Topia bersandar lemas pada dinding dengan kain hitam masih menyelubungi kepala perempuan itu.


Aran terdiam ditempatnya mengambil nafas, dia merasa malu atas kelalaiannya menyelidiki masalah ini.


"Aku tidak percaya kalau orang yang kucintai bahkan tidak mempercayaiku. Padahal, kami sudah mau menikah,, aku pikir dia akan menikahiku karena dia benar-benar mencintaiku dan percaya padaku, tapi ternyata,,,," terdengar suara Topia berbicara dengan lirih disertai isakan kecil yang tampak ditahan.


Ucapan perempuan itu membuat Aran terpaku di tempatnya memandangi perempuan yang diselubungi kain hitam.


Jadi sebenarnya,,,, Topia??

__ADS_1


Aran benar-benar terkejut dengan pengakuan tiba-tiba yang tanpa sengaja ia dengar dari mulut Topia.


Pria itu menggelengkan kepalanya lalu berbalik pergi meninggalkan Topia untuk menenangkan dirinya yang kini dipenuhi rasa bersalah.


"Ada apa dengan jantungku??" Ucapnya berpegangan pada dinding ketika dia sudah menjauh dari gedung penyekapan.


"Tuan, ada apa?" Seorang bawahan yang melihat keadaan Aran langsung mendekati pria itu.


Aran menggelengkan kepalanya berusaha memperbaiki deru nafasnya yang tersengal.


Dia baru saja mengetahui dua informasi yang menusuk hatinya,, jadi ini membuatnya benar-benar merasa malu sebagai lelaki.


Pria itu masih berusaha bertahan ketika sebuah ledakan terjadi.


"Kebakaran!!! Kebakaran!!!" Teriak orang-orang mulai berlarian dengan panik.


Pengawal yang tadi menanyai Aran langsung mendekati Aran "Tuan, ayo keluar dari sini, sepertinya ada ledakan dari arah dapur."


"Apa katamu? Arah dapur?" Tanya Aran langsung melupakan luapan perasaan yang baru saja ia rasakan.


"Ya, dari asal suaranya sepertinya berasal dari sana." Jawab sang bawahan sembari melihat ke arah sekitar mereka yang mulai dipenuhi asap.

__ADS_1


"Bukankah itu dekat dengan ruang tahanan di mana Topia berada?" Kembali Tanya Aran dengan panik.


"Benar Tuan, tapi--"


"Suruh semua orang berusaha memadamkan api nya!!" Perintah Aran lalu pria itu kembali masuk ke dalam gedung menerobos asap yang mulai menebal.


"Jangan kesana Tuan!! Di sana bahaya!!" Teriak Sang bawahan menatap cemas pada Aran, tetapi ucapannya sudah tidak dihiraukan oleh Aran.


Aran terus berlari menerobos asap menuju ruangan di mana Topia di sekap.


'Aku akan sangat menyesal kalau tidak bisa menyelamatkan perempuan itu!!' pikiran dalam hati dipenuhi rasa bersalah.


"Uhuk... Uhuk....!!" Aran terbatuk-batuk ketika kepulan asap semakin menyeruak di udara karena bangunan yang tertutup itu membuat asap semakin cepat menyebar di dalam ruangan sebab tak ada jalan keluar.


Bangunan yang di desain untuk tahanan agar tidak bisa melarikan diri dengan mudah ternyata malah membuat asap menjadi terkurung di sana.


'Aku harus cepat!!!' Pikir Aran semakin mempercepat langkahnya.


Begitu tiba di depan ruangan yang mengurung Topia, pria itu melihat bahwa ruangan itu terkunci dan dia tidak memiliki kuncinya.


Dari sela-sela sel dia bisa melihat Topia duduk dengan tenang seolah tidak terganggu dengan kepulan asap yang menyelimuti mereka.

__ADS_1


"Ha ha ha... Bagus sekali, aku baru saja terbebas dari buaya-buaya kelaparan, sekarang kebakaran malah menimpah tempat ini... Aku akan segera menjadi debu! Bagus sekali nasibku!!" Terdengar suara Topia terisak dibalik kain hitam yang menyelubungi wajahnya.


Hal itu membuat jantung Aran semakin cepat ketika dia berusaha mencari benda yang bisa membantunya membuka gembok di pintu masuk.


__ADS_2