
Skip bab ini kalo kalian lagi puasa ya....
Dita duduk di kursinya dengan gelisah Ia terus menggerak-gerakkan kedua pahanya berusaha menahan sesuatu yang semakin mendorongnya untuk melompat ke pangkuan Saga.
Ia menggertakan giginya sembari menatap keluar jendela ia berusaha menghindarkan tatapannya dari Saga.
Sayangnya kegelisahan Dita tak luput dari perhatian Saga pria itu tersenyum dan menekan kendali otomatis pada mobilnya.
Dengan cepat ia melepas sabuk pengaman Dita membuat Gadis itu terkejut.
"Apa yang kau lakukan?!" Tanya Dita dengan suara ditahan karena ia sedang melawan dirinya sendiri yang meronta-ronta ingin dipeluk oleh Saga.
"Berisik." Kata Saga langsung menyambar Dita dan mendudukkan Gadis itu di atas pangkuannya.
"Bajumu sangat basah," komentar Saga.
"Kita ada di tempat umum!" Ucap Dita memperingatkan Saga padahal tangganya sudah melingkar ke pinggang Saga dan kepalanya sudah menyisip ke lebar pria itu.
"Memperingatkan tapi menggoda. Begini caramu merayu hmmm?" Ucap Saga mulai meneroboskan tangannya ke dalam gaun Dita.
"Ahhh,," deru Dita merasakan permainan Saga. Ia melebarkan pahanya memberi ruang pada tangan Saga agar semakin menerobos ke dalam.
Saga tersenyum "Kau sudah menahannya berapa lama?" Tanya Saga.
"Belum lama, cepatlah, sedikit lagi,, mmmhh," lagi deru Dita yang menikmati pemainan Saga.
"Kau sangat seksi sayang," Kata Saga saat melihat wajah memerah Dita yang menikmati permainan mereka.
Tapi Saga menghentikan permainannya saat mobil-mobil di depan kini berhenti. Sepertinya macet ini akan bertahan lama.
"Ada apa?" Tanya Dita dengan nafas memburu.
"Tak apa," kata Saga merendahkan sandaran kursinya "Buka," katanya meletakkan tangan Dita di sabuk celananya.
"Ini,, mobilnya akan goyang." Kata Dita dengan khawatir, meski tangannya sedang buru-buru membuka sabuk milik Saga.
Saga hanya tersenyum melihat kelakuan Dita, ia hanya fokus pada baju Dita dan membukanya dengan perlahan.
Dita akhirnya tak punya pilihan lain dan mulai bekerja sama dengan Saga. Sudah terlanjur!!
"Hah,,, mmhh,,," deru Dita sembari menutup mulutnya, tak mau orang di luar mobil menyadari kelakuan mereka.
"Sayang terus,," ucap Saga.
Akhirnya setelah berjuang beberapa menit, berdua mencapai kepuasan bersama.
Dita dengan lemas bersandar di dada Saga.
Sementara Saga langsung duduk memangku Dita dan menaikkan kursinya.
Saat itu jugalah klakson kendaraan berbunyi, karena mobil mereka tak bergerak, sementara mobil di luar sudah melaju.
__ADS_1
Saga langsung menjalankan mobilnya dengan satu tangannya menepuk pelan bahu Dita.
Mobil mereka terus melaju hingga akhirnya tiba di kantor Saga.
Pria itu memperbaiki baju Dita dan mengendong gadis yang masih lemah itu ke luar dari mobil.
Banyak karyawan memperhatikan mereka, dan bergidik ngeri saat melihat wajah Dita yang rusak.
Semuanya menjadi riuh saat melihat kejadian itu, dalam sekejap gosip meluas dan banyak karyawan wanita patah hati dalam waktu sehari.
Saga tak menghiraukan mereka, karena peraturan perusahaan jelas sudah mereka ketahui.
Siapa pun yang menyebar gosip ke luar perusahaan akan di pecat secara tidak terhormat dan membayar denda sebanyak 1 trilliun rupiah.
Mereka memasuki lift khusus "Apa kau malu?" Tanya Dita dengan mata masih terpejam.
Ia masih lemah, tapi ia bisa mendengar semua karyawan yang menjerit dan berbisik.
"Mungkin kau yang malu," kata Saga yang melihat Dita terus menutupi wajahnya.
"Jangan mengembalikan pertanyaan!" Kata Dita dengan ketus.
"Baik Nyonya." Jawab Saga lalu mereka keluar dari lift.
Saga langsung membawa Dita ke ruangannya dan membaringkan gadis itu di ranjang, di dalam kamar tersembunyi miliknya..
"Nyalakan TV," ucap Dita.
Ia Menganti baju Dita lalu membiarkan Dita tertidur dengan nyaman.
'Dia pasti lelah setelah melewati setengah hari ini.' gumam Saga memperhatikan keringat Dita yang terus keluar.
Ia kemudian keluar dari kamar dan menyelesaikan pekerjaannya.
Saga bekerja selama 2 jam berikutnya ketika Dita tiba-tiba keluar dari kamar.
Terlihat Gadis itu baru saja bangun, tapi ia tahu kalau Dita kembali menginginkan sesuatu darinya.
Saat itu ada dua orang karyawannya yang sedang melapor padanya, keduanya sangat terkejut saat melihat Dita keluar dari kamar.
Sala satu di antara mereka bahkan menutup mulutnya dan menahan diri untuk muntah.
"Masuklah dulu, tunggu aku," kata Saga pada Dita dengan wajah lembut dan sedikit tersenyum.
"Hmm," jawab Dita dan kembali masuk ke kamar.
Sementara dua orang yang baru saja melihat ekspresi Saga, hanya bisa tercengang karena itu adalah pertama kalinya Mereka melihat Saga berbicara dengan setitik senyum di wajahnya.
Padahal mereka sudah bekerja di perusahaan itu selama bertahun-tahun dan berinteraksi dengan Saga hampir setiap hari.
Tapi setelah Dita masuk keduanya langsung keringat dingin saat wajah yang ramah itu tiba-tiba berubah menjadi wajah menakutkan saat Saga menatap mereka.
__ADS_1
"Kalian berdua di pecat." Kata Saga dengan dingin.
"Bos,, apa yang,," Keduanya langsung gemetaran dengan kaki yang sudah berubah lemas seperti agar-agar.
Saga tidak mengatakan apa pun, ia hanya menekan tombol untuk memanggil Aran.
"Tuan," kata Aran yang langsung tiba di depan Saga dan berjajar bersama 2 orang yang sudah tidak bisa mengatakan apapun karena wajah menakutkan Saga.
"Urus mereka," kata Saga dan langsung masuk ke kamar rahasianya.
Didapatinya Dita sedang duduk di depan cermin sambil menyentuh wajahnya.
Gadis itu terlihat cuek tapi terlihat Dita hanya mengusap lukanya yang kasar.
Ia langsung memeluk Dita dari belakang dan mencium luka itu "Tidak ada yang boleh merendahkan gadisku." Katanya.
Dita melihat ke mata Saga dan mendapati ketulusan di sana.
Ia tersenyum dan mencubit pipi pria itu "Rayuan basi!" Katanya.
"Haha,,," tawa Saga mengangkat Dita dan mendudukkan gadis itu di pangkuannya.
"Sebentar lagi makan siang tiba," ucapnya kembali menciumi Dita.
"Tunggu!" Kata Dita mendorong wajah pria itu.
"Aku ingat, kau pernah menyebut masa kecil, apa yang kau maksud dengan itu?" Tanya Dita sembari meniti Saga. Jangan sampai pria itu membohonginya.
"Aku lupa," Jawab Saga dengan santai.
"Apa kita pernah bertemu di masa kecil?" Tanya Dita lagi.
"Hmm, mungkin."
"Kapan?" Lagi tanya Dita.
"Waktu kau terlihat konyol dengan kostum angsa."
"Kau!!!" Dita ingat, tapi hanya Hito yang pernah melihatnya memakai kostum itu.
"Hito?" Tanya Dita sembari mengerutkan keningnya.
"Ada apa? Apa aku berubah jadi tampan?" Tanya Saga menirukan perkataanya semasa kecil.
"Aku,, Tidak percaya ini!" Ucap Dita sembari memandang lekat wajah Saga.
"Hmm," jawab Saga membungkam mulut Dita dengan bibirnya.
Saat itu juga dorongan aneh kembali melingkupi Dita ia membalas ciuman pria itu, bahkan menarik kepala Saga agar semakin dekat dengannya.
Keduanya kembali melakukan pemanasan untuk sebuah akhir yang memuaskan mereka berdua.
__ADS_1