
Dita telah di tumpahi air yang di siramkan Sita, tapi gadis itu sama sekali tak bergeming.
Mungkin karena ia lemah, tapi kulitnya baik-baik saja seolah tersiram oleh air biasa.
Keheningan selama beberapa detik langsung cair saat Senya berlari ke arah Dita.
"Nona," ucapnya cemas.
"Aku baik-baik saja. Selesaikan sisanya." Jawab Dita membuat semua orang kembali dalam mode kaget.
"Ka, ka, kau! Kau bersekongkol dengannya!?" Tanya Sita melototkan matanya pada Senya.
"Hmm, memangnya kenapa?" Tanya balik Senya dengan wajah datar sembari berjalan ke arah troli dan mengambil satu buah botol lain.
"Beraninya kau!! Beraninya kau menghianati kami! Sekarang juga kau di pecat!" Teriak Merlin pada Senya.
"Di pecat?" Tanya Senya melihat ke arah Dita yang sudah di lap oleh Topia.
"Tentu saja! Perusahaan Ini sudah berbalik nama! Bukan lagi perusahaan milik Dita! Jadi sekarang, keluar dari sini!"
"Panggil keamanan Bu," ucap Rana yang sedari tadi memegangi dadanya yang masih nyeri.
"Keamanan?" Tanya Senya.
__ADS_1
"Aku akan memanggilnya Kak!" Ucap Sita hendak berlari ke luar.
"Tidak perlu, keamanan ada di sini!" Ucap Senya lalu ia melihat ke arah penjaga yang sedang terbaring di lantai.
"Kalian boleh bangun." Kata Senya diikuti oleh 10 pengawal itu.
"Terima kasih Senior Senya, kami sudah lelah berakting tidur." Jawab sala satu dari mereka sambil meregangkan punggungnya membuat semua orang terkejut.
"Apa!? Jadi kalian!?" Merlin tak bisa berkata-kata lagi.
"Biarkan saja Bu, yang penting, silahkan keluar dari perusahan ini. Kalian akan kami loloskan kali ini. Tapi lain kali jika kalian membuat masalah di perusahana kami, jangan berharap kami akan menyelesaikannya dengan mudah." Ucap Rana yang merasa sudah tak ada jalan untuk mereka.
'Yang penting perusahaan ini bukan milik Dita lagi." Pikirnya dlama hati...
"Bagus! Pergi ajah sana! Kalian mesti tahu diri, perusahaan ini bukan milik kalian lagi!!!" Teriak Sita penuh kemenangan.
"Dan kamu Senya! Cepat pergi dari sini, bawa juga kawan-kawan sepersekongkolanmu ini!" Teriak Merlin menunjuk 10 orang yang sedang berjajar.
"Hmm, sayang sekali misiku belum selesai." Ucap Senya lalu ia membuka tutup botol dan mendekat ke arah Sita.
Sita melototkan matanya "Mau apa kamu Hah!?" Tanya Sita sembari mundur perlahan.
Tapi ia berhenti saat Senya memegangi lengannya lalu menupahkan air dii dalam botol pada wajah Sita.
__ADS_1
"Ahhhh!!!!!!" Jerit Dita merasakan kulitnya panas seolah terbakar.
"Kau!!!" Merlin begitu panik dan mendekat ke arah putrinya.
Sayang sekali, Senya langsung menyiramnya juga.
Merlin membantu putrinya berteriak kesakitan, tapi Senya hanya tersenyum.
"Misi selesai 50%!" Ucap Senya dengan datar membuat Rana penuh amarah.
"Oh,, kau juga mau merasakan ini?" Tanya Senya sembari melihat Rana yang akan berjalan ke arahnya.
"Tidak." Langsung jawab Rana. Ia tahu, ia tak ada apa-paanya jika ingin melawan Senya. Apa lagi ia baru saja di lukai oleh Topia.
"Nah sekarang nikmati wajah baru kalian. Juga, kalian harus tahu kalau perusahaan ini tak pernah berpindah nama. Surat yang kalian buat tidak bisa mematahlan surat yang lebih dulu di buat oleh Nona Dita dan Tuan Saga mengenai perusahaan ini.
"Oya, aku harus memberi tahu, kalau dari awal Sita masuk ke perusahan ini, kedok kalian sudah terbaca, jadi semua rencana untuk mengantisipasi kejadian seperti ini telah di siapkan Senior Dita. Dan jangan berpikir melaporkan kejadian ini pada polisi, kalian pasti tahu bagaimana cerdiknya Senior kami mempersiapkan segalanya." Ucap Senya lalu berjalan meninggalkan ruangan itu.
"Nikmati waktu terakhir kalian berada di ruangan ini," teriak Senya sebelum menutup pintu.
Catt... Suratnya gak perlu di jelasin kan, biar gak boros kata.
Tapi intinya itu surat wasiat yang menyatakan kekhwatiran Dita akan pemaksaan pemindahan harta.
__ADS_1