MaFiA CoUpLe

MaFiA CoUpLe
79. Lorano memilih kekalahan


__ADS_3

Setelah berada dalam kecemasan selama 1 malam, Asisten Lorano akhirnya menyelesaikan jadwal yang akan diberikan pada Lorano.


Ia kemudian menghampiri tuannya di kamar. Betapa terkejutnya ia ketika melihat Lorano sudah memakai pakaian kantornya.


"Tuan!" Ucapnya segera mendekati Lorano yang bersandar di kepala tempat tidur.


"Bawakan aku kursi roda." Kata pria itu dengan suara berat.


"Baik!" Jawab Asisten Lorano lalu ia segera menuruti perintah Lorano lalu membawa pria itu keluar dari rumah.


Setelah mereka tiba di kantor, Lorano langsung memasuki ruangan rapat.


Nafasnya masih sangat berat, dan wajah pria itu tampak pucat. Lorano bahkan tak kuat membuka matanya, karena cahaya yang terang sangat menyilaukan baginya.


"Beri aku kacamata hitam." Lagi ucap Lorano.


"Ini Tuan."


"Panggil semua orang." Perintah Lorano setelah memakai kacamata hitamnya.


Ketika semua orang tiba di ruang rapat, mereka begitu terkejut melihat Lorano duduk di atas kursi roda. Wajah pria itu pucat dan bibir sudah tidak berwarna lagi.

__ADS_1


"Selamat pagi Tuan." Kata mereka dengan ragu-ragu.


"Hm, segera selesaikan urusan perusahaan. Para klien yang mau membatalkan kerjasamanya langsung batalkan saja. Tapi pastikan mereka membayar denda kita, lagi, aku akan menulis surat rekomendasi untuk masing-masing dari kalian." Ucap Lorano mengejutkan semua orang.


"Tuan!" Asisten Lorano adalah orang yang pertama kali protes.


"Tidak ada yang bisa dipertahankan. Musuh kita adalah adik iparku, aku tidak mungkin melukai orang-orang dari perusahaannya.


Jadi satu-satunya cara yang bisa aku lakukan adalah mencarikan kalian perusahaan baru.


Kondisiku tidak terlalu baik dan masih ada pertemuan dengan beberapa klien penting, rapat selesai." Tutup Lorano membuat asistennya begitu bergetar saat pria itu kemudian mendorong kursi roda Lorano untuk meninggalkan ruangan.


Setelah dari perusahaan, Lorano kemudian menemui salah satu klien pentingnya di sebuah restoran yang telah diatur oleh asistennya.


"Selamat pagi Tuan Lorano." Jawab Sanja ragu ragu.


Bagaimana tidak, itu pertama kalinya ia melihat pria yang selalu berjaya itu sekarang terlihat tidak berdaya.


"Karena kondisi saya tidak memungkinkan, maka kita akan berbicara langsung pada intinya. Jika Tuan Sanja sudah tidak ingin bekerjasama dengan perusahaan kami maka silakan bayar denda nya. Kami tidak akan memperpanjang urusannya ke rana hukum." Ucap Lorano.


"Baik, kami akan melakukannya." Jawab Tuan Sanja lalu pertemuan itu selesai.

__ADS_1


Asisten Lorano membawa Lorano di dalam mobil.


Pria itu menatap Lorano dengan sangat cemas, Lorano sedang berbaring dengan mata tertutup. Terlihat tubuh pria itu terlalu sesak, hingga orang yang tidak sesak jika melihatnya pun akan menjadi sesak.


"Tuan," katanya.


"Hm?" Jawab Lorano.


"Tuan benar-benar menutup perusahaan? Lalu bagaimana dengan Tuan?" Tanya Asisten Lorano.


"Sudah lama kau tidak memiliki nama, sekarang aku akan memberimu nama. Nama untukmu, Dewa." Ucap Lorano membuat Dewa sangat terkejut.


"Tuan, nama itu,,"


"Sebentar lagi aku akan pergi. Saat itu terjadi, tolong jaga dirimu baik-baik. Juga, rahasiakan ini dari siapa pun. Katakan saja aku pergi berlibur." Ucap Lorano.


"Tuan,"


"Aku harus istirahat." Lagi kata Lorano tak ingin berdebat lagi.


Dewa duduk di tempatnya dengan kemarahan memenuhi seluruh dirinya.

__ADS_1


'Semua ini karena Senya, aku tak akan membiarkan gadis itu hidup tenang. Meski Tuan sudah melarangku untuk menyentuh orang-orang adik iparnya, tapi aku akan membayar kematian Senya dengan nyawaku. Semuanya harus impas!' Gumam Dewa yang tak rela jika tuannya mati sia-sia.


Mulai part selanjutnya, nama asisten Lorano adalah Dewa.


__ADS_2