
Setelah berbicara dengan dokter dan mengambil obat di apotek, Aran kembali ke ruangan di mana Topia beristirahat dan melihat perempuan itu masih tertidur pulas.
Aran tidak mau mengganggu Topia jadi pria itu hanya duduk di kursi sembari bersandar memejamkan matanya, menunggu sampai Topia terbangun.
Namun, karena dia cukup kelelahan hari itu, pria itu akhirnya tertidur dan tidak menyadari ketika Topia telah bangun.
'Ternyata dia menungguiku di sini,' Topia tersenyum melihat Aran sembari memperhatikan jam dinding di ruangan itu.
Sudah berjam-jam dan pria itu masih ada bersamanya, padahal Topia sendiri tahu bahwa Aran memiliki banyak sekali pekerjaan.
Akhirnya kedua orang itu bergantian menunggu sampai ketika Aran terbangun lalu Topia tersenyum pada Aran.
"Terima kasih sudah mau menungguiku." Katanya.
Aran menghela nafas, "Ayo pergi," katanya.
"Baik," jawab Topia turun dari brankar.
Karena tubuhnya masih lemah, perempuan itu hampir saja terjatuh tetapi untung saja Aran dengan sigap merangkulnya.
"Naiklah ke punggungku," kata Aran segera berjongkok agar mempermudah Topia naik ke punggungnya.
__ADS_1
"Terima kasih," kata Topia dengan senang hati naik ke punggung pria itu, kapan lagi dia bisa sedekat Itu dengan Aran kalau bukan sekarang?
Setelah Topia berada di punggungnya, Aran kemudian menggendong perempuan itu keluar dari rumah sakit.
Malam sudah tiba, ditambah hujan kecil pada malam itu membuat udara malam terasa sangat dingin hingga menusuk tulang.
"Duduklah dulu," kata Aran menurunkan Topia di salah satu koridor sebelum keluar dari rumah sakit.
"Ada apa?" Tanya Topia ketika dia sudah duduk di kursi lalu melihat pria itu meletakkan kantong obat yang sedari tadi dipegang Aran.
Aran tidak menjawab pertanyaan Topia, pria itu hanya melepaskan jasnya lalu menggunakan jasnya membungkus Topia agar perempuan itu merasa lebih hangat.
"Naiklah," kembali ucap Aran pada Topia saat pria itu berjongkok dihadapan Topia.
Dia langsung menaiki punggung Aran dan memeluk leher pria itu dengan erat.
"Wahh,, Lihat pasangan kekasih itu, mereka sangat romantis!"
"Perempuannya tersenyum merona, dia pasti sangat mencintai kekasihnya."
Beberapa orang yang tak jauh dari mereka terdengar mengomentari mereka hingga membuat Topia menjadi semakin malu menyembunyikan wajahnya di tubuh Aran.
__ADS_1
"Jangan dengarkan mereka, mereka hanya berbicara sembarang saja." Kata Topia ketika mereka sudah agak menjauh dan dia merasa malu akan apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.
"Bukan masalah besar, lagipula kita memang akan menikah." Jawab Aran mengejutkan Topia.
"Tapi, kita hanya akan berpura-pura menikah, jadi--"
"Pura-pura atau tidak pura-pura, Bukankah sama saja kita akan menikah?" Ucap Aran sembari melangkahkan kakinya ke lahan parkir menuju mobilnya.
"Oh, ya,, tapi menikah karena pura-pura itu berbeda dengan menikah karena saling mencintai. Jadi--"
"Lalu menikah bagaimana yang kau inginkan di antara kita?" Sela Aran membuat Topia tertegun di punggung Aran.
Menikah bagaimana yang ia inginkan?
Tentu saja menikah atas dasar cinta!
Tapi, jika dia mengatakan hal itu, bagaimana tanggapan Arab terhadapnya?
Untunglah Topia tidak menjawabnya sebab ketika Aran selesai bertanya mereka telah tiba di mobil lalu pria itu membuka pintu mobil membantu Topia masuk ke mobil.
"Pasang sabuk pengaman," kata Aran mengingatkan Topia lalu menutup pintu mobil dan berlari ke sisi kemudi.
__ADS_1
Melihat Aran sudah tidak menanyakan pertanyaan yang tadi lagi, Topia merasa lega dalam hatinya lalu perempuan itu menarik jas Aran yang menutupi tubuhnya lalu menatap keluar jendela.
'Wajahku panas sekali, ini pasti karena aku terlalu malu.' pikirnya menjilat bibirnya yang kering.