
Dari perusahaan, Topia langsung membawa Dita ke rumah sakit.
Ia sudah menghubungi Saga. Dan ketika mereka tiba di rumah sakit, Saga sudah menunggu mereka di sana. Pria itu tak tinggal diam dan langsung menggendong Dita dari atas mobil dan berlari ke ruangan dokter langganannya.
Setelah diperiksa, Dita merasa lebih baik.
Ia duduk di atas ranjang sambil bersandar pada Saga yang yang berdiri di dekatnya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" Tanya Saga.
"Ini efek racunnya. Dia terlalu lelah hari ini," ucap dokter.
"Maaf," kata Dita pada Saga.
"Tidak papa sayang." Ucap Saga lalu ia menoleh ke arah dokter.
"Bagaimana racun dalam tubuhnya?"
"Semakin membaik, ia akan sembuh dalam beberapa minggu." Ucap Dokter.
"Terima kasih Dok." Kata Dita.
Setelah melakukan pemeriksaan, Saga langsung membawa Dita pulang ke rumah.
"Buatkan makan malam." Kata Saga pada Topia sebelum berjalan masuk kedalam kamar mereka dan langsung membawa Dita ke dalam kamar mandi.
Ia memandikan Dita lalu membawanya kembali ke kamar.
__ADS_1
"Duduklah, aku akan mengambil baju." Ucap Saga mencari pakaian Dita.
Saat kembali menghampiri Dita, ia ditatap dengan tatapan aneh "Kenapa?" Tanyanya.
"Itu tidak muat lagi di tubuhku. Ambil ukuran lebih besar." Kata Dita diikuti Saga yang kembali masuk kedalam ruang ganti mencari baju.
Setelah kembali ia membantu Dita memakai bajunya tapi sayang sekali baju itu tak muat Di kancing.
"Ini sudah ukuran yang paling besar di dalam lemari." Ucap Saga.
"Hmmmm, sepertinya kau semakin makmur." Ucap Dita tak merasa tertekan dengan tubuhnya yang semakin melar.
"Pakai bajuku saja." Kata Saga lalu memakaikan bajunya pada Dita.
Untungnya baju itu masih sedikit kebesaran.
Tok,, tok,, tok,,..
Ia melihat Topia membawa makanan yang begitu banyak.
"Biarkan saja mereka masuk." Ucap Dita membuat Saga melihat ke arah Dita.
Ia cemas kalau penyamaran Dita terbongkar. Apakah akan baik-baik saja kalau para pelayan meliaht wajah Dita tanpa luka?
"Tidak apa," ucap Dita lalu Saga membiarkan semua orang memasuki kamar.
Topia adalah yang pertama melihat wajah Dita tanpa luka, ia terkejut dan berhenti beberapa detik sebelum bersikap seperti tak ada apa pun.
__ADS_1
"Tata makanannya dan keluar." Ucap Saga.
"Baik Tuan." Jawab semua pelayan.
"Satu lagi, jangan mengatakan apa pun yang kalian Lihat hari ini." Saga memperingatkan.
"Baik Tuan." Lagi jawab mereka.
Setelah semua makanan ditata di atas meja, semua pelayan telah keluar kecuali Topia yang masih tinggal mencicipi satu persatu makanan yang disiapkan diatas meja.
Saga menggendong Dita lalu mendudukkannya di salah satu kursi.
"Makanannya baik-baik saja." Ucap Topia lalu ia berjalan keluar dari kamar.
"Aku tidak akan menutupi wajahku lagi." Kata Dita sembari memperhatikan Saga yang kini menyiapkan makanan untuknya.
"Aku setuju apa pun keputusanmu. Tapi sebelum kau sembuh total, kau tidak boleh pergi kemana pun. Mengerti?"
"Iya suamiku!" Jawab Dita sembari tersenyum.
Saga terus menemani Dita sampai akhirnya Gadis itu tertidur. Ia kemudian pergi ke ruang kerjanya dan menemui Aran dan Topia yang sudah menunggunya di sana.
"Bagaimana misinya?" Tanya Saga pada Aran yang terlihat mempunyai luka di bawah dagunya. Sepertinya pria itu terluka dari perkelahian.
"Sudah selesai. Saya mengirim mayat Afgan ke negaranya." Ucap Aran.
"Bagus, Pak Tua itu akan senang dengan hadiahnya. Kau selidiki gerak-gerik semua bersaudara itu, terutama tetua. Aku tidak mau kecolongan lagi." Kata Saga mendapat anggukan dari Aran.
__ADS_1
"Ceritakan apa yang terjadi di kantor Dita." Ucap Saga melihat ke arah Topia.
Topia mulai menceritakan kejadiannya membuat Saga merasa sangat senang. "Mereka pantas mendapatkannya, tapi perusahaan Rana, aku mau perusahaan itu bangkrut besok pagi. Juga, buat mereka kehilangan seluruh miliknya." Ucap Saga.