
Di semua kompleks mewah, tiba-tiba saja terjadi pemadaman lampu pada salah satu rumah mewah yang berdiri dengan kokoh.
"Periksa," perintah Arga pada salah satu bawahannya.
"Baik Tuan." Jawab pria itu sebelum pergi keluar dan kembali dengan cepat.
"Hanya rumah ini saja yang bermasalah dengan listriknya. Saya sudah memerintahkan salah satu orang untuk pergi memeriksanya." Lapor pria itu membuat Arga begitu marah dan berdiri menggebrak meja.
"Bodoh! Beritahu semua orang untuk berjaga-jaga." Lagi kata Arga.
"Baik Tuan," jawab pria itu lalu ia keluar dan menyuruh beberapa orang untuk menyebar, memberi informasi pada setiap keamanan.
Namun pergerakan Arga terlalu lambat, 1 detik berharga yang ia buang sudah digunakan oleh orang-orang milik Senya untuk melumpuhkan para keamanan di rumah itu.
Pergerakan orang orangnya begitu cepat hingga belum 1 menit saat ruangan di mana Arga bersembunyi sudah mereka kuasai.
"Jangan bergerak! Semua orang jatuhkan senjata ke lantai!"
Arga menghela nafas, 'Bagaimana bisa mereka menyadarinya begitu cepat?!' pikir Arga mengangkat tangannya.
"Siapa yang memberi kalian perintah?" Tanya Arga dengan santai.
Saat itu juga lah Senya berjalan ke dalam ruangan lalu lampu di rumah itu langsung dinyalakan.
"Senya!" Ucap Arga dengan kaget. Karena dia sudah memanipulasi Gadis itu dengan cara yang sangat halus, entah bagaimana Senya menyadarinya.
"Katakan dimana obat penawarnya?!" Ucap Senya tidak mau membuang-buang waktu karena keadaan lorano sedang dalam masalah yang serius.
__ADS_1
"Oh,, apa dia sudah mau mati?" Ucap Arga mengejek Senya.
"Kau!" Senya sangat marah dan berlari menyerang Arga.
Keduanya berkelahi selama 10 menit sampai Arga di lumpuhkan oleh Senya.
Senya mengambil pistonnya lalu mengarahkannya ke kepala Arga.
"Katakan dimana obat penawarnya atau kepalamu meledak!" Ancam Senya.
"Haha,,, kau pikir aku takut mati? Tidak! Lebih baik aku mati bersama Lorano dari pada harus mengatakan dimana obatnya!" Ucap Arga mengejek Senya.
"Bagus kalau kau tidak takut mati." Ucap Senya lalu ia menembak kedua tangan Arga serta kedua kaki pria itu.
"Ah!! Ah!!! Nggh!! Akkh!!!" Jerit Arga menyambut setiap peluru.
"Oh, tunggu, aku mau semua anak buahnya di kurung bersamanya. Beri mereka masing-masing sebilah pisau. Akan bagus kalau mereka saling makan satu sama lain untuk bertahan hidup." Ucap Senya sebelum keluar dan memerintahkan orang-orangnya menggeledah rumah itu.
Namun 1 jam mereka membongkar, mereka tak menemukan apa pun.
"Bagaimana penyelidikan ponsel Arga?" Tanya Senya.
"Nihil, terlalu banyak panggilan dengan nomor baru. Semuanya merupakan nomor yang tidak terdaftar." Jawab bawahan Senya.
"Selidiki terus." Ucap Senya meninggalkan bawahannya.
Ia kemudian pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Lorano. Namun begitu ia tiba, para bawahannya sudah mendorong peti jenazah.
__ADS_1
"Nona," suara seorang bawahan yang menghampirinya membuat jantung Senya berdegup kencang.
"Ada apa ini?" Tanyanya gemetaran.
"Semuanya sudah selesai. Tuan Saga sudah menyiapkan penguburannya." Jawab bawahan itu.
"A,, apa? Kenapa tidak memberitahuku lebih awal?!" Ucap Senya menahan sesaknya.
"Nona Dita melarang kami." Jawab bawahan itu membuat tubuh Senya kehilangan separuh tenaganya.
"Aku akan ikut di pemakamannya." Ucap Senya lalu berjalan dengan linglung ke mobilnya.
Mereka dengan cepat tiba di pemakaman yang telah disiapkan lalu Senya ikut menyaksikan pemakaman itu.
"Tuan!! Tuan!!!" Dewa terus terisak melihat Tuannya benar-benar dikuburkan.
"Apakah itu benar-benar Lorano?" Tanya Senya pada Dewa.
"Nona, maafkan saya, saya pikir Nonalah yang sudah meracuninya. Ternyata bukan." Ucap Dewa sambil menangis.
"Aran bilang kau mati di tangan Arga?" Tanya balik Senya.
"Ya, aku pura-pura mati. Karena rompi anti peluru melindungiku." Ucap Dewa.
"Kau orang yang berharga bagi Lorano. Dia pasti pergi dengan damai." Ucap Senya.
"Tidak, aku tidak lebih berharga dari pada Nona. Tuan,, dia sebenarnya menyukai Nona." Jawab Dewa mengagetkan Senya.
__ADS_1