
"Selamat malam senior," jawab Senya dari seberang telpon saat Dita menelponnya.
"Selamat malam, aku mau bertanya tentang hubungan keluarga. Hari ini kakak iparku akan datang di rumah, kira-kira apa saja yang perlu aku persiapkan selain mendekorasi kamar dan memasak makanan yang enak?" Tanya Dita.
"Setahuku yang paling penting itu kesopanan saat menyambut, misalnya pakaian yang rapi dan sikap yang sopan." Ucap Senya.
"Ah begitu, kalau begitu aku akan menyiapkan pakaian sekarang." Kata Dita lalu menutup telponnya.
Ia kemudian ia berlari ke ruang ganti dan membongkar lemarinya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Saga saat melihat Dita begitu heboh.
Dita menghentikan pergerakannya dan memandang Saga. "Ganti pakaianmu!" Katanya saat melihat baju tidur Saga.
"Kenapa?" Tanya Saga kembali.
"Kakakmu akan datang dan kau pakai pakaian seperti ini?" Tanya Dita sambil membongkar lemari Saga membuat pria itu tersenyum.
"Dasar," kata Saga lalu menggendong Dita keluar dari kamar.
"Apa yang kau lakukan?! Turunkan Aku!" Rontahnya di gendongan Saga.
"Dia sudah datang." Ucap Saga membuat Dita kalang kabut.
"Oh, tidak! Dia akan mendapat kesan buruk karena penampilan kita!" Ucap Dita begitu kuwatir.
__ADS_1
"Diamlah," Saga menurunkan Dita lalu para pelayan membuka pintu utama.
Seorang pria dengan setelan kaos hitam bersama celana pendek langsung muncul.
"Masuklah." Kata Saga lalu ia merangkul Dita langsung duduk di sofa.
'Apa yang harus kukatakan?' Gumam Dita merasa sangat gugup. Itu pertama kalinya ia menyambut orang yang sangat penting selain rekan kerja. Ia tak tahu berinteraksi dengan keluarga, jadi ia begitu kaku.
"Ini istrimu?" Tanya Lorano.
"Ya, namanya Dita," jawab Saga sembari memberi ciuman di puncak kepala Dita.
"Dia lumayan cantik, pemalu dan apa kau gugup?" Tanyanya pada Dita.
"Eh, sedikit." Jawab Dita Dita membuat Lorano tertawa keras.
"Terima kasih," jawab Dita dengan sopan yang membuat Lorano kembali tertawa keras.
Dita langsung memandang pada Saga, ia mencari jawaban atas sifat orang di depannya.
"Dia ini orang gila. Kau tak perlu bersikap sopan padanya. Oya apa makan malam sudah siap?" Tanya Saga.
"Oh ya, Kakak Ipar, ayo pergi makan malam." Ucap Dita.
"Oh, ya, aku memang lapar" jawab Lorano lalu mereka beranjak ke ruang makan.
__ADS_1
Beberapa pengawal Lorano langsing mengikuti. Barulah saat itu Dita tersadar bahwa Lorano membawa terlalu banyak orang bersamanya.
Meja makan sangat panjang, jadi hanya diisi setengah saja. Tapi Dita terkejut saat Lorano duduk di kursi paling ujung dimana tak ada makanan dan piring di sana.
Ia baru saja akan berbicara saat pelayannya sudah datang dan menyiapkan makanan di depan Lorano.
'Apakah ia jijik dengan makanan yang kusiapkan hingga ia membawa makanannya sendiri?' gumamnya dengan bingung.
Sementara Saga hanya tersenyum melihat ekspresi Dita.
"Makanlah." Ucap Saga meletakkan makanan di depan Dita.
Mereka makan tanpa berbincang-bincang membuat Dita semakin merasa kikuk.
"Aku mau istirahat." Kata Lorano saat ia selesai makan.
Dita langsung melihat ke arah Saga, tapi ia dibalas dengan gelengan kepala yang pelan.
Jadi ia hanya diam saja tanpa berbicara apa pun.
Setelah beberapa saat, sala satu pelayan kembali menghampiri mereka "Tuan, saya sudah menata kamar yang Tuan inginkan." Kata pelayan itu pada Lorano.
"Antar aku ke sana," ucap Lorano lalu pria itu berjalan pergi tanpa berpamitan pada Dita dan Saga.
"Sekarang kau mengerti kan?" Langsung tanya Saga sambil mengelus rambut Dita.
__ADS_1
Dita hanya mengangguk pasrah. "Lain kali aku tidak akan melakukannya." Ucap Dita.