
Senya segera meninggalkan hotel tempat pertemuannya dengan Lorano. Ia mengendarai mobil pribadinya sembari memikirkan apa yang baru saja ia lakukan bersama Lorano.
"Sial! Itu ciuman pertamaku, dan aku berlakukannya bersama seorang pria brengsek!" Geram Senya sembari memukul-mukul setir mobil.
"Hah! Jantungku tidak berhenti berdegup kencang. Ini pasti karena aku sangat marah!" Lagi kata Senya.
Senya baru akan tiba di perusahaannya saat ponselnya berdering.
"Untuk apa lagi dia menelpon?!" Gerutunya melihat nama pemanggil adalah Lorano.
Sambil menghela nafas, hanya kemudian mengangkat telepon itu "Apa lagi?!" Tanyanya dengan ketus.
"Maaf Nona, ini saya, Asisten Tuan Lorano." Jawab seorang pria.
"Aah, ada apa ya?" Tanya Senya dengan suara yang sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Begini, apakah terjadi sesuatu pada Tuan saya saat kalian berbicara tadi? Karena sekarang tuan saya jadi terlihat seperti orang yang sangat linglung. Juga, dia sudah berdiri di depan jendela selama 1 jam lebih."
"Kenapa kau bertanya padaku? Itu urusannya, bukan urusanku!" Ucap Senya dengan ketus lalu menutup panggilan itu.
__ADS_1
"Hah! Nona Senya sangat kejam. Tapi ini bagus, kalau Nona Senya tidak memberi kesempatan pada Tuan Lorano, maka aku tidak perlu menderita seperti Aran. Menghadapi seorang pimpinan yang merupakan budak seorang perempuan." Ucap Asisten Lorano dengan lega.
"Tapi sekarang, bagaimana caranya membujuk Tuan supaya mau pergi dari tempat ini?" Lagi kata asisten Lorano yang kehilangan ide sebab Ia sudah berusaha membujuk tuannya, namun tak ada satupun cara yang berhasil.
Sementara Lorano, 'Melakukannya dengan orang yang dicintai. Siapa yang kucintai?' Pikir Lorano yang sedari tadi berkutat dengan rasa penasarannya terhadap orang yang ia cintai.
'Aku harus menanyakannya pada Saga. Seperti apa rasanya mencintai seorang perempuan.' Lagi Gumam Lorano sebelum berbalik membuat asistennya begitu terkejut.
"Tuan."
"Ayo kembali." Ucap Lorano lalu mereka berjalan pergi tapi belum tiba di dalam mobil ketika lorano merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya.
Ia langsung menghentikan langkahnya dan berdiri menahan sebuah dorongan aneh dari dalam tubuhnya.
"Siapkan peralatan medis ."perintah Lorano sambil mengatur nafasnya dan berusaha menenangkan pikiran dan jantungnya.
Setelah merasa lebih baikan, ia kemudian berjalan ke dalam mobil lalu memeriksa dirinya sendiri.
"Pergi ke laboratorium." Perintah Lorano dengan nafas tersengal sembari ia menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya.
__ADS_1
'Kalau aku tidak salah, ini mungkin perbuatan Senya.' pikir Lorano yang menduga bahwa Senya telah memberinya obat secara diam-diam.
Perjalanan menuju laboratorium sangat menyiksa Lorano karena suhu tubuhnya meningkat drastis dan jantungnya berpacu dengan sangat kencang.
Setibanya di laboratorium, ia sudah tidak bisa berjalan dengan seimbang sehingga ia dibantu oleh asistennya memasuki laboratoriumnya.
Mereka langsung disambut oleh para ahli dan dokter yang sudah lama dipekerjakan oleh Lorano.
"Cepat periksa!" Perintah asisten Lorano pada paradokter itu lalu semua Dokter mulai mengerumuni Lorano.
Setelah melakukan serangkaian pemeriksaan yang akurat, kepala laboratorium langsung berbicara dengan Lorano yang masih setengah sadar.
"Anda diracuni." Ucap Kepala Laboratorium
"Jelaskan." Perintah Lorano.
"A733. Racun jenis lama yang sudah dikembangkan oleh farmasi saingan kita. Kami akan menyuntikkan penawarnya sekarang, tapi sebelum itu kami akan-"
"Tidak perlu. Aku akan pulang sekarang." Kata Lorano mengejutkan semua orang.
__ADS_1
"Tapi Tuan. Tuan harus diobati terlebih dahulu." Ucap asisten Lorano yang menjadi orang paling kaget.
"Bawa aku pulang." Ucap Lorano.