
"Ayah," ucap Roni menghampiri ayahnya di kamar.
"Hmm, masuklah."
"Ayah,," Roni berkata dengan suara berat.
"Ayah sudah tahu. Besok kita akan menghampiri mereka."
"Baik." Jawab Roni lalu ia keluar dari kamar besar itu.
...
Keesokan harinya.
Saga dan Dita baru saja akan sarapan ketika mereka turun dan mendapati dua orang pria sedang duduk di ruang keluarga.
Saga langsung menyipitkan matanya melihat ayah dan kakak pertamanya duduk dengan santai di dalam rumahnya.
"Halo adikku dan adik ipar!" Sapa Roni.
Saga dan kita tidak mengatakan apapun keduanya hanya berjalan ke arah sofa dan duduk bersama.
__ADS_1
Mereka baru saja duduk ketika lorano juga muncul, pria itu itu berjalan dengan wajah datar dan duduk di sofa tunggal.
"Tamu spesial di pagi buta, ada apa ini?" Kata Pria itu setengah mencibir.
Melihat Sikap kedua putranya ketua langsung menghela nafasnya dan memegang tongkatnya dengan erat "Begini cara kalian berdua menyambut Ayah dan Kakak kalian?!"
"Ayah, aku rasa panggilan itu sudah tidak cocok untuk tetua." Ucap Lorano.
"Kau!" Tetua sangat marah dan menatap dengan tajam ke arah Lorano.
"Sudah seperti ini, Apa yang membuat kalian berdua datang ke rumah kami?" Tanya Saga yang sudah tidak mau berbasa-basi lagi.
"Kalian sangat tidak sopan. Tapi aku tidak akan mengomentari sikap tidak sopan kalian. Aku dan ayah kemari di pagi buta seperti ini karena kalian berdua berhutang penjelasan pada kami." Kata Roni dengan wajah serius.
'Mereka berdua tidak mungkin begitu bodoh mengatakan kalau mereka juga telah diserang kemarin. Mereka pasti tahu kalau ayah tidak akan mempercayai apapun alasan mereka untuk mengelak.' Gumam Roni yang merasa percaya diri semua kebusukannya tidak akan pernah terbongkar.
"Hutang penjelasan?" Saga bertanya dengan wajah pura-pura tidak tahu.
"Kalian masih mengelak setelah apa yang terjadi?!" Tetua sangat marah hingga menghentakkan tongkatnya.
Saat itu juga banyak pria memasuki rumah Saga. Mereka semua bersenjata lengkap, beberapa di antaranya adalah pembunuh bayaran.
__ADS_1
"Ah, aku sangat tersanjung karena tetua sangat menghargai kami hingga mau menghabiskan banyak uang hanya untuk mengirimkan kami ke surga." Ucap Lorano dengan wajah bosannya memandangi para pria bersenjata lengkap itu.
"Tidak perlu basa basi! Kalian berdua! Dan gadis ini!" Tetua menyipitkan matanya saat melihat Dita, gadis itu sama sekali tidak mirip dengan adiknya.
Adiknya memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bagus, bagaimana bisa melahirkan gadis seperti didepannya?
"Sayang, kita belum sarapan." Kata Saga pada Dita lalu berdiri menggandeng tangan Dita ke dapur.
"Kematian kalian sudah di depan mata dan masih saja memikirkan saparan? Haha,, kalian berdua pasangan yang aneh!" Ejek Roni sambil tersenyum memikirkan dirinya sebentar lagi menjadi penguasa atas segala kekayaan Ayahnya.
Saga dan Dita sama sekali tidak perduli dan terus berjalan ke meja makan. Mereka berdua sarapan seolah kondisi rumah masih normal saja.
"Bunuh mereka!" Perintah Tetua saat ia sudah tidak tahan dengan kelakuan dua bajingan itu.
"Tunggu!" Ucap Lorano lalu memberi kode pada asistennya untuk mendekat ke arahnya.
Asisten itu memberikan sebuah I-pad pada Lorano. "Aku tidak percaya permainan ini berakhir sangat cepat, tapi ya sudahlah, beberapa orang memang tidak sabar melihat orang lain mati." Katanya lalu menyerahkan sebuah I-Pad itu pada Tetua.
Tetua memegang I-Pad itu dengan tangan gemetaran saat videonya mulai terputar.
__ADS_1