MaFiA CoUpLe

MaFiA CoUpLe
84. Obat penawar dilarikan Arga


__ADS_3

"Ini adalah laporan yang Nona minta." Ucap salah seorang bawahan Senya.


"Letakkan di situ." Ucap Senya.


Bawah ini itu langsung menaruh laporannya sesuai perintah Senya. Tapi ia tak beranjak pergi lalu berkata "Wakil CEO diam-diam menyetujui beberapa kerjasama dengan klien pada anak perusahaan."


Senya yang tadi bersikap Tak acuh langsung mengangkat wajahnya dan menatap bawahannya dengan lekat.


"Mengapa kerjasama pada anak perusahaan membutuhkan persetujuan dari wakil CEO?" Tanyanya.


"Ini karena, pimpinan pada perusahaan cabang tidak menyetujui kerjasama itu. Tapi wakil CEO merubah keputusan itu dan menerima kerjasamanya."


"Apa ini dari anak perusahaan yang bergerak di bidang farmasi?" Tanya Senya.


"Ya, selama ini anak perusahaan itu sudah diabaikan. Tapi beberapa minggu ini wakil CEO tiba-tiba memberi perhatian lebih. Keuntungan dari anak perusahaan itu juga mengalir deras lewat kerja sama dengan berbagai partner bisnis. Hanya saja, kerjasama itu telah menyinggung perusahaan Tuan Lorano. Kakak Ipar pemilik perusahaan ini." Jelas bawahan itu.


"Kau boleh pergi." Kata Senya.


"Baik Nona." Jawab bawahan itu lalu meninggalkan ruangan Senya.


Senya menghela nafas lalu mengalihkan semua perhatiannya pada komputernya.

__ADS_1


"Jadi apa yang dikatakan Lorano itu semuanya benar. Tapi ini adalah perbuatan Arga? Apa tujuan pria itu?" Ucapnya sembari mencari data-data yang ia perlukan.


Setelah mempelajarinya, Senya melakukan panggilan pada sekretarisnya "Atur ulang jadwalku hari ini. Tambahkan jadwal untuk berkunjung ke anak perusahaan A Farmasi. Juga, rahasiakan kunjunganku." Katanya.


"Baik Nona." Jawab sekertaris itu.


'Sial! Jadi ini yang terjadi? Tidak sia-sia aku kembali ke perusahaan mencari informasi.' Gumam Senya lalu ia segera pergi.


Senya akhirnya tiba di anak perusahaan A Farmasi.


Semua karyawan terkejut saat melihat mereka tiba-tiba datang ke perusahaan itu.


"Astaga,, itu CEO Senya."


Semua karyawan berbisik-bisik di tempat mereka sembari memandangi kepergian Senya ke lantai penelitian.


Setelah tiba di lantai penelitian dan bertemu dengan kepala peneliti, mereka langsung duduk bersama.


"Panggil direktur." Ucap Senya.


Kedatangan sayanya yang tiba-tiba membuat direktur di anak perusahaan itu begitu terkejut hingga tergesa-gesa menemui Senya.

__ADS_1


"Jelaskan penelitian kalian yang terbaru." Perintah Senya.


"Maaf Nona, kami memiliki banyak penelitian baru-baru ini. Penelitian mana yang membuat Nona tertarik?" Tanya direktur.


"Penelitian yang berhubungan dengan Lorano. Terutama racun yang diberikan padanya. Aku menginginkan obat penawarnya sekarang." Ucap Senya.


"Obat penawar? Nona, Bukankah Nona sendiri yang memerintahkan supaya obat penawarnya langsung diberikan pada wakil CEO? Kami pikir Tuan Arga sudah memberikannya pada Nona." Jawab Direktur.


"Dia sama sekali tidak menerima perintah dariku. Sekarang juga, hentikan semua penelitian di tempat ini. Dan lagi, berikan obat penawarnya sekarang!" Lagi kata Senya dengan kesal.


"Tapi Nona, semua obat penawar yang kami miliki telah diambil oleh Tuan Arga. Tuan bahkan melarang kami untuk memproduksinya lagi." Ucap Direktur dalam kegugupannya.


Senya begitu marah lalu menoleh pada pengawalnya "Jaga kita tempat ini dan jangan biarkan ada satu orang yang keluar ataupun masuk!" Ucap Senya lalu ia berdiri meninggalkan tempat itu.


Di perjalanan, ia menelpon Dita.


"Halo Senior." Katanya.


"Hm, kau menelpon? Apa kau kurang sibuk?" Tanya Dita.


"Maafkan saya, karena saya lalai, Tuan Lorano terluka dari obat yang di produksi anak perusaahan kita. Obat penawarnya ada di tangan Arga, wakil CEO." Lapor Senya.

__ADS_1


"Benarkah? Kalau begitu, segera selesaikan masalahnya. Kau punya waktu 3 hari lagi, lalu kembali kemari untuk pernikahanku." Ucap Dita lalu menutup telpon itu.


"Ada apa dengan Senior?" Ucap Senya kebingungan sendiri.


__ADS_2