
"Nyonya," ucap Aran menyapa Dita yang sedang duduk di depan TV.
"Ada apa?" Tanya Dita dengan cuek.
"Itu, Kakak Ipar Nyonya, Tuan Lorano baru saja keracunan dan tidak ada obat untuk menyembuhkannya." Ucap Aran.
"Apa?! Bagaimana bisa?" Tanya Dita sangat terkejut.
Tentu saja ia terkejut karena Lorano adalah seorang ahli racun, jadi bagaimana bisa pria itu diracuni oleh seseorang?
"Saya juga tidak tahu bagaimana pastinya. Tapi asistennya baru saja menghubungi saya dan mengatakan kalau saat ini Tuan Lorano sedang dalam keadaan kritis." Lagi jelas Aran.
Dita memejamkan matanya untuk berpikir. Setelahnya, ia meraih ponselnya dan menelpon Senya.
"Senior," kata Senya dari seberang telepon.
"Aku mendapat kabar Kalau Lorano baru saja diracuni. Apa kau tahu sesuatu?" Tanya Dita.
"Dia diracuni? Bagaimana bisa?" Tanya Senya dengan suara terkejut.
"Ya, dan dia tidak punya obat penawarnya. Sudahlah, fokuslah pada urusan perusahaan. Biar aku yang menanganinya." Kata Dita lalu menutup panggilannya.
__ADS_1
"Nyonya?" Aran langsung berbicara ketika mendengar Dita malah menyuruh Senya tidak berbuat apapun. Padahal orang yang paling dekat dan bisa menolong Lorano adalah Senya.
"Tidak usah mengurusnya. Biarkan mereka berdua menyelesaikannya." Ucap Dita dengan cuek.
Aran tidak mengatakan apapun tapi ia begitu terkejut mendengar Dita membiarkan Lorano menderita.
"Kalau begitu saya permisi." Kata Aran lalu ia keluar dari ruangan itu dan bersembunyi menelpon asisten Lorano.
"Halo, bagaimana?" Langsung tanya pria dari seberang telpon.
"Hah, Nyonya mengatakan kalau dia tidak mau ikut campur. Apa kau yakin kalau Senya lah yang telah meracuni Tuan Lorano?" Tanya Aran.
"Ya, Tuan sendiri yang mengatakannya. Sepertinya Tuan menyadarinya saat pertemuannya dengan Nona Senya. Sementara perusahaan yang menjual obat penawarnya hanyalah perusahaan yang ada di bawah kendali Senya."
"Apa maksudmu? Mengapa aku harus pergi mencari seorang perempuan?" Tanyanya.
"Kau bodoh?! Seorang pria seperti Tuanmu tidak mungkin terhina dengan mati dalam keadaan perjaka! Kau harus menggunakan seorang perempuan untuk melepaskan keperjakaannya, atau mungkin hantunya akan datang mengganggumu!" Kata Aran lalu segera mematikan sambungan telpon itu.
"Apa aku mengatakan hal yang benar? Benarkah seorang lelaki akan gentayangan kalau ia mati dalam keadaan perjaka?" Ucap Aran yang juga tidak yakin dengan kata-katanya.
"Hah! Apalah! Terserah! Lorano tidak ada hubungannya denganku!" Lagi kata Aran sebelum ia pergi melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Sementara Asisten Lorano yang baru saja mendengar sambungan telepon yang diputuskan hanya bisa terpaku di tempatnya.
"Bagaimana ini?!" Katanya menggertakkan giginya sebelum berjalan dengan wajah pucatnya ke kamar Lorano.
Didapatinya pria itu sedang gemetaran di balik selimutnya.
"Tuan?" Panggilnya.
"Kau kembali? Bagaimana keadaan perusahaan?" Tanya Lorano dengan suara bergetar.
'Aku baru pergi beberapa menit. Mana mungkin ada sesuatu yang bisa ku laporkan?'
"Perusahaan tidak membaik, semua investor menginginkan kehadiran Tuan untuk rapat besar. Jadwalnya sangat padat." Kata Asistennya itu berbohong dengan harapan Tuannya mau memberinya perintah untuk menghancurkan Senya, orang yang telah meracuni Tuannya.
"Atur jadwalnya mulai besok." Kata Lorano mengejutkan asistennya.
"Tapi Tuan, kita harus menemukan obat penawar. Tolong izinkan saya mencarinya!"
"Pergilah." Kata Lorano mematahkan semangat asisten itu.
'Gawat! Tuan benar-benar berubah!'
__ADS_1