
Di sebuah kamar yang cukup luas Dita mengerjapkan matanya sebelum melihat seorang pria sedang memandangnya.
Tubuhnya tidak diikat sama sekali, tapi ia bisa merasakan kalau seluruh otot-ototnya tak bisa ia gerakan. 'Orang ini pasti memberiku obat.' gumamnya.
"Kau sudah bangun rupanya." Ucap pria asing itu.
"Siapa kau?" Tanya Dita membuat pria itu tersenyum lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Dita.
Pria itu menatap lekat mata dan wajah Dita "Pantas saja Saga menyukaimu, kau benar-benar spesial dan berbeda dari gadis-gadis lain." Ucap pria itu sambil tersenyum.
Ia begitu kagum dengan ketenangan Dita meskipun gadis itu tahu kalau saat ini ia sedang berada dalam bahaya.
"Kau tenang saja, aku tidak akan berbuat macam-macam padamu selama kau menurut apa yang ku katakan." Ucap pria itu lalu tiba-tiba ibu tiri dan dan saudara tiri Dita memasuki kamar.
Pria itu langsung menatap tajam kearah ketiga orang itu "Siapa yang mengijinkan kalian masuk?!" Tanya pria itu dengan tegas.
"Tuan, kami hanya ingin melihatnya saja." Jawab Sita yang matanya kini menjelajahi seluruh tubuh Dita.
Pria asing itu berdecak dengan kesal lalu ia memanggil asistennya.
__ADS_1
"Mana suratnya?" Tanya pria asing itu pada asistennya.
"Ini Tuan." Ucap asisten pria itu lalu pria asing itu mendapatkan suratnya.
"Ini adalah surat perjanjian yang kalian ingin ditandatangani oleh Dita. Periksa dahulu sebelum gadis ini menandatanganinya." Ucap pria itu sembari memberikan surat dalam map kepada ibu tiri Dita.
"Apa yang kalian inginkan?" Tanya Dita dengan lemas.
"Oh, hy kakak, aku sudah cukup lelah bekerja di perusahaan Kakak sebagai bawahan Kakak yang tidak dianggap. Hari ini berkat Tuhan akhirnya datang pada kami lalu kami bertemu dengan tuan yang dermawan ini. Orang-orangnyalah yang menculikmu dengan berdalih tentang ibu yang diculik, lalu kami akan mendapatkan perusahaanmu sebagai imbalan dari kerja keras kami." Kata gadis itu penuh dengan semangat.
Dita tidak marah sama sekali ia malah tersenyum dan memandangi ketiga orang hina itu "Kalian cukup hebat mau bekerja sama dengan pria asing." Katanya.
"Tuan, ini sesuai dengan keinginan kami." Ucap Radi memberikan surat itu pada pria asing berjas hitam di depan mereka.
Pria itu menerimanya dengan acuh lalu mendekat kearah Dita "Sekarang berikan tanda tangan mu disini." Kata pria itu dengan datar.
Dita tersenyum kecut dan menerima pulpen dari pria itu. Meski ia tidak bisa bergerak dengan leluasa, tapi entah kenapa otot tangannya masih bisa ia gerakan meski dengan gerakan yang lemah.
"Ini adalah harta peninggalan ibuku, Aku harap kalian menikmatinya sebentar selama aku menitipkannya pada kalian." Kata Dita sembari menorehkan tandatangannya.
__ADS_1
"Kau tenang saja, Aku adalah ibumu, jadi aku akan memastikan kalau harta dari Ibu kandungmu akan kami gunakan dengan baik." Ucap ibu tiri Dita sambil tersenyum.
"Ya! Kami akan menggunakannya dengan baik." Sambung sita membuat Dita tersenyum kecut namun ia telah selesai membuat tanda tangannya.
Pria asing yang bersama Dita segera meraih surat itu dan memberikannya pada Radi "Sekarang urusan kita sudah selesai," ucap pria itu.
"Baik Tuan, kami akan pergi sekarang." Kata Radi lalu ketiga orang itu berbalik ke luar.
"Terima kasih Kak! Selamat bersenang-senang!" Teriak Sita sebelum gadis itu menghilang dari pandangan Dita.
Sementara pria asing yang bersama dengan Dita hanya bisa tersenyum memandangi Dita "Kau punya keluarga yang begitu menakjubkan. Apa kau tahu apa yang mereka tukarkan dengan harta itu selain kau?" Tanya pria asing itu.
"Aku tidak perduli." Kata Dita.
"Haha,, kau benar-benar menakjubkan. Mereka menukarkannya dengan nyawa ayahmu, ayahmu sudah meninggal dan menjadi makanan hewan buas ku. Tapi kau tenang saja, sebentar lagi giliranmu akan tiba." Ucap pria itu sebelum keluar dari kamar meninggalkan Dita yang masih lemas.
"Ck! Mereka pikir semudah itu memeras ku! Sampai aku matipun harta itu tidak akan menjadi milik kalian!" Ucap Dita sambil tersenyum.
__ADS_1