
Para penjaga itu langsung mengacungkan senjata mereka pada Dita dan Saga seolah-olah sedikit saja pergerakan kedua orang itu lalu senjata-senjata yang mereka pegang akan meledak di kepala Dita dan Saga.
"Kembali ke kursi kalian." Ucap tetua pada kedua orang yang sudah tidak memiliki jalan keluar dari ruang makan.
Dita dan Saga langsung kembali ke kursi mereka dan duduk dengan tenang sembari meniti tetua yang sedang menilai mereka juga.
"Langsung saja pada intinya," ucap Saga tak mau lagi berbasa-basi dengan pria tua yang sedang ia hadapi.
Tetua tersenyum kecil lalu ia mengeluarkan sebuah kotak dari sakunya dan membukanya. Didalamnya berisi 3 buah chips berwarna hitam yang memiliki ukuran sebesar kapsul obat.
"Kalian bertiga akan menelan ketiga chips ini. Dan kalian harus tahu kalau pengendali ketiga chips ini hanya ada pada satu tombol. Jadi jika salah satu dari kalian bermacam-macam dengan tidak mengikuti permainan ku maka kalian bertiga dalam masalah besar." Ucap tetua dengan percaya diri karena bisa mengendalikan ketiga orang di depannya, sama seperti yang ia lakukan pada putranya Roni.
"Menelan bom? Kelihatan menarik," komentar Lorano.
"Tidak usah berkomentar apapun dan cepat telan ke 3 pil ini atau saat ini juga semua orang-orang ku akan langsung meledakan kepala Kalian bertiga." Kata Tetua dengan santai karena memang ruangan itu dipenuhi oleh orang-orang bersenjata miliknya.
__ADS_1
"Hmm, kami harus tahu dulu apa yang harus kami lakukan setelah kami menelan pil ini. Mungkin saja langsung mati disini adalah pilihan terbaik daripada menjadi budak seseorang." Ucap Lorano sembari memandangi 3 chips di dalam kotak.
"Jadi kalian memilih mati sekarang?" Tanya Tetua.
"Haha, tetua yang terhormat, mati di sini mungkin jauh lebih baik daripada harus menuruti perintah konyol dari tetua." Lagi kata Lorano.
"Baiklah, kita akan membuat perjanjian. Kalian akan mencari penawar untuk racun di dalam tubuhku dalam waktu 1 minggu, jika kalian berhasil maka chips di tubuh kalian tidak akan meledak. Tapi ada syarat tambahan yaitu gadis itu." Ucap Tetua melihat pada Dita.
"Aku mau dia menandatangani surat tentang penyerahan seluruh warisannya kepadaku. Bagaimana?" Tanya Tetua.
"Menarik, tapi apa jaminannya kalau tetua akan menepati janji tetua untuk membebaskan kami jika kami berhasil?" Tanya Lorano.
Lorano langsung tertawa saat mendengar tetua mengatakan surat perjanjian.
'Tetua ini benar-benar sudah pikun untuk menipu kami!' gumamnya.
__ADS_1
Dita ikut tersenyum juga, "Surat perjanjian tidak akan berarti ketika Kami bertiga telah dibunuh. Supaya lebih adil, aku akan menandatangani tentang surat wasiat itu sekarang, tetapi tetua pun harus menelan satu buah chips." Katanya.
"Istriku benar, kita sama-sama memiliki kendali masing-masing dan ketika kesepakatan telah selesai dilakukan maka pengembalian kendali pada chips bisa dilakukan kedua belah pihak." Tambah Saga sambil mengeluarkan sebuah chips yang sudah ia siapkan.
Tetua terlihat berpikir sesaat sebelum ia menyetujuinya, "Baiklah, berikan bendanya."
Mereka langsung bertukar chips lalu semua orang menelan masing-masing bagiannya.
"Berikan suratnya." Ucap Tetua pada orangnya.
Dita langsung menandatangani surat persetujuan itu sebelum mengembalikannya pada Tetua.
"Hm, ini lebih baik." Ucap Tetua memandangi surat yang telah ditandatangani oleh Dita.
"Sekarang kalian punya waktu selama satu minggu untuk mencari penawarnya." Kata Tetua sebelum berdiri dengan perasaan puas lalu meninggalkan ketiga orang itu.
__ADS_1