MaFiA CoUpLe

MaFiA CoUpLe
89. Jadi makanan Buaya


__ADS_3

Satu minggu kini berlalu, dan Senya yang tidak bisa tidur karena memikirkan Lorano kini duduk di kantornya sembari memijat keningnya.


"Pria itu, kemana perginya dia?" Gerutunya dengan kepala berdenyut karena sudah seminggu ini dia mengatur banyak strategi untuk menemukan Lorano, tetapi apapun yang ia lakukan, dia tidak mendapat satupun petunjuk jejak pria itu menghilang.


Hal yang membuatnya semakin stres adalah mengingat pria itu sedang terkena racun yang tak ada penawarnya, Bagaimana kalau pria itu benar-benar mati?!


"Nona," tiba-tiba suara seorang bawahannya memasuki kantornya.


Senya langsung mengangkat wajahnya dan melihat bawahan itu datang membawa sebuah berkas.


"Maaf, apakah saya mengganggu Nona?" Tanya sang bawahan yang merasa bersalah karena dia masuk tanpa izin, sebab sudah beberapa kali dia mengetuk pintu, tetapi Senya tidak merespon.


"Tidak, apa yang kau bawa?" Tanya Senya.


"Ini adalah kontrak kerjasama dengan perusahaan xx yang membutuhkan persetujuan Nona. Silakan diperiksa sebelum ditandatangani," kata pria itu menyerahkan berkas di tangannya pada Senya.


"Baik, aku akan memeriksanya." Kata Senya mengambil berkas itu lalu membukanya di meja.


"Tapi msaf Nona, berkas yang tadi pagi saya bawa, apakah sudah selesai?" Sang asisten kembali bertanya membuat Senya langsung melihat ke samping kanannya di mana dia meletakkan berkas tadi pagi yang diberikan oleh asistennya.

__ADS_1


Karena dia sangat memikirkan Lorano maka dia belum menyentuh sedikitpun dari berkas-berkas itu.


"Astaga,, Aku akan segera menyelesaikannya." Ucap Senya.


"Baik," jawab sang bawahan.


Setelah bawahannya pergi, Senya memijat keningnya yang terasa berdenyut "Apa yang kulakukan? Bagaimana bisa aku membawa masalah pribadi ke masalah pekerjaan?" Ucapnya menghela nafas.


Perempuan itu kembali memeriksa berkas-berkasnya, sementara sang asisten yang keluar dari ruangan, pria itu kembali ke ruangannya dan mengambil ponselnya.


"Sudah satu minggu Nona Senya tidak fokus bekerja, beberapa pekerjaan yang biasanya diselesaikan dengan mudah juga kini tertunda sampai berhari-hari." Ucap pria itu menghela nafas lalu mencari kontak Aran untuk dihubungi.


"Tuan,, dapatkah saya meminta tolong agar Tuan memberi tahu Nona Dita bahwa saat ini keadaan Nona Senya sedang sangat buruk. Selama satu minggu ini Nona Senya tidak pernah fokus bekerja, bahkan beberapa pekerjaan menjadi tertunda hingga membuat beberapa klien menarik kerja sama.


"Selama satu minggu ini juga Nona Senya selalu datang terlambat ke kantor dan pulang larut malam dalam keadaan yang kacau. Nona Senya bahkan menghabiskan alkohol dan rokok, saya kahawatir ini akan berpengaruh pada perusahaan." Ucap asisten Senya.


"Baiklah, akan kusampaikan nanti." Kata Aran lalu menutup telepon itu dan kembali fokus pada dua orang di depannya.


Tetua dan Topia saling menyalahkan satu sama lain, mereka tidak pernah mau mengaku hingga membuat kedua orang itu sangat sulit untuk ditangani.

__ADS_1


Apalagi Aran, dia berharap Topia sebenarnya tidak terlibat dalam masalah ini.


"Kalian punya kesempatan terakhir untuk berbicara tentang fakta yang sebenarnya. Kalau masih tidak bisa maka kalian berdua akan sama-sama menjadi makanan buaya peliharaan Tuan Saga." Ucap Aran.


Ini pertama kalinya pria itu mengancam mereka setelah apa yang terjadi. Sebelum sebelumnya dia hanya menggunakan kekerasan, tapi dua orang itu cukup baik menyembunyikan faktanya.


"Apa katamu?? Bagaimana bisa kau menghukum kami berdua sementara yang salah adalah Tetua ini!! Sudahkah kau menyelidikinya???" Tanya Topia dengan tubuh gemetaran karena sudah berhari-hari ia tidak diberi makan dan minum jadi tenaganya sudah terkuras habis.


"Lalu katakan apa yang kau ketahui?!" Tanya Aran.


Mereka menemukan bahwa Senya memang pergi ke tempat Tetua tapi perempuan itu tidak mau mengaku Apa tujuannya pergi ke sana.


"Tidak ada yang kuketahui!! Aku benar-benar di jebak oleh pria Tua ini!!!" Tegas Topia.


"Heh,, perempuan licik,, untuk apa aku menjebakmu? Apa kau pikir kau cukup berharga di mataku??" Tetua menghina Topia.


Melihat dua orang itu tidak memberinya informasi yang diharapkan, Aran kemudian berbalik meninggalkan Topia yang terus berteriak dari belakangnya.


"Satu jam lagi, bahwa mereka ke kandang buaya." Ucap Aran membuat Topia melototkan matanya..

__ADS_1


Dia masih sangat muda!! Mengapa sudah harus meninggal?!


__ADS_2