
"Kakak!" Teriak Sita dengan rasa tak percaya.
Siapa lelaki yang mau bersama kakaknya melakukan hal sepeti itu?
Saga merasa sangat marah pada gadis yang ada di sana.
Tapi untungnya kemarahannya tidak jadi tersalurkan karena Dita langsung menciumnya lagi.
Sepertinya Dita terlalu fokus pada aktifitas mereka, jadi gadis itu sama sekali tak menghiraukan Sita.
Sementara itu, Sita sudah di tarik oleh pengawal agar gadis itu keluar dari ruangan.
"Apaan sih kalian! Sakit tahu gak!" Kata Sita dengan kesal sembari mengelus lengannya yang tampak kemerahan.
"Maaf Nona, Anda di larang masuk ke dalam ruangan ini." Kata sala satu pengawal.
"Cih! Siapa juga yang tertarik! Lagi pula siapa yang bersama kakakku di dalam? Aku hanya penasaran dengan itu!" Kata Sita.
"Sebaiknya Nona kami antar berjalan-jalan."
"Tidak! Aku akan menunggu di sini sampai aku melihat siapa yang keluar dari ruangan ini!" Kata Sita sembari berjalan ke arah kursi dan duduk di sana.
'Bagaimana mungkin Kak Dita bisa mendapatkan seorang lelaki yang mau menerimanya?
Atau ada lelaki yang memiliki wajah buruk rupa sepeti Kak Dita hingga mau bersamanya?
Hmm,, tapi itu bagus, seorang gadis buruk rupa memang pantas bersama pria buruk rupa juga!'
__ADS_1
Beberapa lama Sita menunggu, Dita akhirnya keluar dari ruangan. Terlihat gadis itu menggunakan pakaian yang berbeda dengan pakaian sebelumnya.
'Tuh kan, aku tidak salah tebak, mereka melakukan hubungan terlarang!' kata Sita dalam hati seraya berdiri menghadap kakaknya.
"Kak, dimana pria itu?" Tanya Sita dengan antusias.
"Bawa dia pergi dari sini." Kata Dita lalu kembali masuk ke ruang tunggu.
"Kak! Tunggu!!" Teriak Sita pada Dita, tapi ia tak bisa lepas dari dua pengawal yang sudah memeganginya dan menyeretnya ke dalam lift.
"Adikmu?" Tanya Saga saat Dita kembali ke dalam ruangan.
"Ya,, dia sudah pergi." Ucap Dita lalu ia keluar lagi dari ruangan tunggu.
Dita langsung pergi ke ruang kerjanya dan memeriksa berkas yang telah di siapkan Senya.
Beberapa saat, Senya memasuki ruangan Dita. "Senior," katanya.
"Alex telah mengakui perkara virus itu."
"Sudah? Beri dia pengobatan, aku mau dia pulih sebelum aku sendiri yang menyiksanya." Kata Dita dengan tenang.
"Baik Senior. Dan besok direncanakan melakukan penyergapan ke negara Q agar kita bisa mendapat penawarnya."
"Lakukan," kata Dita dengan santai.
Senya tak mengatakan apa pun lagi, karena ia melihat Saga memasuki ruangan Dita. Gadis bertubuh tinggi itu segera keluar dari ruangan meninggalkan mereka.
__ADS_1
Saga duduk di sofa sembari melihat ke arah Dita yang sangat fokus memeriksa berkasnya.
Dita bisa merasakan tatapan itu, dan entah kenapa ia merasa gugup seolah sedang di tatap oleh orang yang sangat penting baginya.
Padahal ia sudah berencana akan menghancurkan Saga setelah penyakitnya sembuh.
Sayangnya, masih ada 12 hari lagi sebelum rencana itu bisa di lakukan.
"Aku sudah selesai, ayo ke kantormu." Kata Dita menutup dokumen terakhirnya lalu berjalan ke arah Saga.
"Tidakkah kau menginginkan itu?" Tanya Saga.
"Tidak sekarang." Ucap gadis itu sembari berjalan ke luar ruangan diikuti oleh Saga.
Keduanya tiba di lobi dan melihat Sita masih ada di sana sembari berdiri sambil menelpon.
"Kakak! Aku sudah bilang kalau aku sedang berusaha! Mengapa kau terus mengomeliku!?" Teriak gadis itu membuat Dita mengeryit.
'Siapa yang dia maksud sebagai kakak?' pikirnya.
"Ayo," kata Saga merangkul Dita lalu keduanya memasuki mobil pribadi Saga.
Saga menyetir dan Dita duduk di samping Saga sambil terus memperhatikan Sita yang sedang mengomel pada seseorang di seberang telponnya.
'Aku harus menyuruh Senya untuk menyelidiki gadis itu.' pikirnya dalam hati sebelum mobil sudah melaju di jalan yang ramai.
Cukup lama mereka berada di dalam mobil sampai Dita kembali menggerutu akan sesuatu yang memaksanya mendekatkan diri ke arah Saga.
__ADS_1
'Sial, di depan ada macet dan ini siang bolong!
Bagaimana aku menuntaskan ini?!' Gerutunya sembari mengepalkan tangan memandang jalannya yang sangat ramai.