
Cup cup cup....
Dita terbangun saat ia merasa geli pada lehernya yang terasa dikecup dengan pelan.
"Ngghh,," Leguh Dita membuka matanya dan mengulurkan tangannya menyentuh sebuah tubuh yang berada di atasnya.
Dita perlu waktu beberapa detik untuk menyesuaikan keadaan kala ia mengerjapkan matanya dan merasakan sentuhan-sentuhan basah di lehernya kini mulai turun ke bagian dadanya.
Drrrtt..... Drrttt..... Drrrtt.....
Tiba-tiba suara ponsel Dita yang berdering menghentikan Saga yang sedang bekerja keras di dada Dita.
Pria itu mengangkat wajahnya dan menatap Dita seolah bertanya apakah mereka akan melanjutkan permainan mereka atau perempuan itu akan mengangkat panggilannya.
"Mungkin telponnya penting," kata Dita yang sebenarnya tidak mau lagi melanjutkan ronde panas mereka.
Dia sudah lelah, tapi pria itu masih terus bertenaga, meminta dan meminta...!!!
Mereka bahkan baru bangun!!!
"Baiklah," Saga tidak ingin memaksa istrinya, tetapi pria itu membiarkan Dita berbaring menyamping mengambil ponsel di nakas, sementara dia memeluk dia dari belakang sembari menciumi leher belakang perempuan itu.
__ADS_1
Dita tersenyum dengan kelakuan suaminya, namun ia tetap fokus pada layar ponsel dan melihat nama Senya tertera sebagai nama pemanggil.
"Halo?" Dita mengangkat telepon itu.
Senya yang berada di seberang telepon sedikit mengerutkan keningnya saat ia mendengar suara-suara aneh dari seberang telponnya.
"Senior Dita, apakah aku mengganggu?" Tanya Senya berhati-hati.
Kalau dia tidak salah ingat maka saat ini kedua orang itu masih menikmati waktu mereka berduaan setelah pernikahan yang baru saja digelar.
"Tidak apa, katakanlah." Dita bersabar, bagaimanapun dia sudah membuat Senya kalang kabut meninggalkan pesta pernikahan.
Semua itu juga salahnya.
Saga yang sedang menciumi punggung Dita langsung menghentikan gerakannya saat mendengar suara Senya.
Kosong?
"Bagaimana bisa peti itu kosong?" Ucap Saga yang juga terkejut.
"Jadi Tuan dan Nyonya juga tidak tahu?" Suara Senya terdengar panik dari seberang telepon.
__ADS_1
Kalau Dita dan Saga juga tidak tahu mengenai peristiwa ini, maka siapa yang bertanggung jawab atas hilangnya Lorano?
Wajah Senya yang sedang menempelkan benda pipi di telinganya langsung berubah menjadi pucat pasi memikirkan kemungkinan besar masih ada musuh tersembunyi yang sedang menyandera pria itu.
"Kalau kau mengkhawatirkan pria itu, sebaiknya kau mencarinya. Satu lagi, jangan mengganggu bulan madu kami!!" Tiba-tiba kata Saga saat pria itu baru saja sadar bahwa dirinya sudah terbawa suasana.
"Tapi Tu--"
Suara Senya dari seberang telepon langsung terputus ketika Saga dengan kesal mematikan panggilan telepon itu dan melemparkan ponselnya semarang arah.
"Kemarilah," ucap Saga memutar tubuh istrinya dan membawa perempuan itu ke pelukannya.
"Katakan, ini semua ulahmu?!" Tanya Saga pada istrinya.
"Hmm,, ya,," Dita memeluk erat tubuh Saga dan menenggelamkan wajahnya di leher suaminya.
"Kondisi kakak ipar sangat parah, aku menyuruh beberapa orang untuk membawanya ke pulau terpencil demi mendapatkan kesembuhan. Awalnya ketika pernikahan kita berlangsung, Aku ingin memberi tahu pada Senya supaya perempuan itu pergi ke sana menemani Lorano, tapi ternyata dia malah kabur ke luar negeri." Ucap Dita.
"Jadi kau mau membiarkan Senya kerepotan?" Tanya Saga.
"Itu hukumannya karena sudah meninggalkan pernikahan kita." Ucap Dita sambil tersenyum.
__ADS_1
Dia akan melihat bagaimana perasaan Senya pada pria itu, saat nanti Senya sudah semakin frustrasi barulah dia akan memberitahu perempuan itu tentang keberadaan Lorano.