
1 Minggu kembali berlalu. Kini Dita sedang bersama Topia baru saja selesai melakukan pengecekan pada cabang perusahaan Dita.
Mereka akan kembali saat ponsel Dita tiba-tiba berdering.
"Halo sayang." Kata Dita sembari tersenyum.
"Apa kau sudah selesai?" Tanya Saga dari seberang telpon.
"Sudah, sekarang kami akan ke hotel. Besok pagi baru pulang." Jawab Dita.
"Ok, aku akan ke situ dan menemanimu malam ini." Ucap Saga lalu mematikan teleponnya.
Dita bersandar sambil tersenyum senang. Jika biasanya ia pergi ke luar kota, ia hanya fokus pada pekerjaan dan semuanya bejalan datar. Tapi kini, ia memiliki pria yang selalu menfukung dan menghiburnya, bisa dibilang hari-harinya kini tak sedatar yang lalu.
Sekarang hari-harinya di penuhi cinta.
"Apakah saya perlu membuat persiapan untuk menyambut Tuan Saga?" Tanya Topia yang mendengar pembicaraan Dita di telpon.
"Hmm, apa kira-kira yang perlu ku siapkan?" Tanya Dita pada Topia.
Dita memang tak berpengalaman dalam hal percintaan, jadi wajar saja kalau dia bertanya pada Topia yang dianggapnya sudah berpengalaman bersama Aran.
"Bagaimana kalau pemandangan romantis dengan cake beserta anggur?" Kata Topia memberi usul.
"Ha, boleh juga. Kau atur saja semuanya." Ucap Dita mempercayai Topia.
"Baik Nona." Jawab Topia.
__ADS_1
Dita masuk ke hotel dan berdandan, setelah riasannya selesai, Topia kembali menemuinya "Nona, semuanya sudah siap." Ucap Topia.
"Ayo ke sana." Ucap Dita lalu keduanya berjalan ke arah lantai paling atas hotel.
Sebuah meja dihias indah dan diatasnya ada anggur dan cake yang sudah di siapkan. Lampu warna-warni menghiasi tempat itu menambah keromantisannya.
"Silahkan menunggu di sini, saya akan menangani kedatangan Tuan Saga." Ucap Topia dibalas anggukan Dita.
"Sayang, aku merindukanmu!" Ucap Dita tersenyum sambil memandang ke arah lampu-lampu kota.
Tak berapa lama ia menunggu, sebuah helikopter tiba-tiba mendekat ke arahnya.
"Sudah datang!" Seru Dita dengan senang sambil memperlihatkan wajah bahagianya menatap helikopter yang akan mendarat.
Seorang pria dengan tubuh kekar dalam balutan jas hitam menuruni helikopter.
Dita memandangi pria itu dan ia sadar kalau orang itu bukan Saga. Ia langsung dalam posisi siaga sembari menunggu pria itu mendekat ke arahnya.
"Siapa kau?" Tanyanya dengan suara datar saat ia melihat pria itu, ia tak mengenalinya.
"Nona, perkenalkan nama saya Randi, saya ditugaskan Nyonya untuk menjemput Anda." Ucap pria itu dengan sopan.
"Nyonya? Nyonya siapa yang kau maksud?" Tanya Dita tanpa terpengaruh.
"Ibu Nona," ucap pria itu membuat Dita tersenyum kecil.
"Terus terang saja padaku. Sebab Ibuku telah meninggal, jadi jangan coba-coba membawa namanya didalam maksud burukmu itu!" Ucap Dita dengan suara tegasnya.
__ADS_1
"Saya berkata jujur nona, ibu tiri Nona yang menyuruh saya untuk menjemput Nona." Lagi kata pria itu membuat kita tertawa keras.
"Kau pikir aku orang bodoh yang bisa mempercayaimu?" Lagi kata Dita.
Pria itu tahu dia tidak bisa membujuk Dita Jadi ia segera mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.
"Apa,, apa yang kalian mau! Cepat lepaskan aku sekarang!" Teriak seorang wanita yang amat dikenali suaranya oleh Dita.
"Cih! Jadi kalian mencuri Ibu tiriku untuk mengancamku?" Tanya Dita membuat perempuan yang ada di seberang telepon semakin keras berteriak.
"Dita! Ini ibu! Tolong,, tolong ibu!"
Suara itu langsung menghilang ketika pria di hadapan Dita segera mematikan panggilan itu.
"Kau sama sekali tidak peduli dengan ibu tiri mu?" Tanya Randi.
"Kalau kalian mengancamku menggunakan mereka, maka usaha kalian sudah sia-sia.
Aku dan keluarga itu sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi!" Ucap Dita dengan acuh.
"Sayang sekali." Ucap Pria itu berbalik lalu tanpa aba-aba langsung berbalik lagi dan menyerang Dita.
Keduanya nya berkelahi selama beberapa menit sampai akhirnya Dita pingsan karena seseorang menembaknya dengan obat bius.
"Perempuan yang merepotkan!" Ucap Pria itu lalu mengangkat tubuh Dita dan membawanya memasuki helikopter.
__ADS_1