
Dita memasuki kamar Topia dan melihat Topia sedang tidur menyamping, menghadap ke arah jendela.
'Untunglah ia tidak melihatku sehingga wajahku yang semerah tomat ini tidak mempermalukan Aku di depannya.' pikir Dita lalu ia berjalan mendekati Topia.
"Ada apa dengan jendelanya?" Tanya Dita.
"Oh, Nona, aku hanya butuh menyejukkan pikiranku. Dimana Bos?"
Saat itu juga Saga memasuki ruangan, tapi pria itu tidak berniat mendekat ke Topia.
Ia memilih duduk di sofa di dalam ruangan itu.
"Kami akan pulang sebentar lagi, apakah tidak masalah kalau kau sendiri disini?" Tanya Dita sembari memperhatikan ekspresi Topia yang terlalu datar.
'Sepertinya mereka sedang marahan. Topia sudah menyelamatkan nyawaku, kali ini aku akan membalasnya.' gumam Dita.
"Aku baik-baik saja." Ucap Topia beserta dengan suara datar yang mengandung kepedihan.
'Dia berkata baik-baik saja tapi suaranya tidak bisa menyembunyikannya. Dia pasti sedih karena sedang terbaring di rumah sakit ini, tapi ia pasti sangat sedih karena disaat seperti ini ia dan Aran malah bertengkar.' Gumam Dita lalu ia berpamitan pada Topia.
Keduanya meninggalkan kamar Topia dan memasuki lift. Saat mereka di dalam mobil, Dita meminta ponsel Saga lalu menghubungi Aran.
"Kenapa kau malah menelpon pria lain?" Tanya Saga.
"Aku membutuhkan bantuannya." Ucap Dita dengan cuek.
__ADS_1
"Priamu ada di sini!" Ucap Saga merebut ponsel itu sembari terus mengendari mobilnya.
"Aku tahu, tapi kau tidak bisa membantu untuk menyelesaikan masalahku yang ini!" Ucap Dita menatap tajam pada Saga yang menye.bunyikan ponselnya.
"Kau tidak percaya padaku? Aku ini,,"
"Oh,, jadi kau mau pergi ke rumah sakit dan membawa bunga untuk Topia dan menjaganya di sana?! Itu yang kau mau!?" Ucap Dita dengan suara dinginnya memandang Saga.
Saga langsung menoleh ke arah Dita, "Nih, ambil!" Ucap Saga mengerjakan ponselnya pada Dita.
'Kalau tau itu, dari tadi ajah aku kasih ponselnya!' gerutu Saga dalam hati.
Sementara Dita hanya bisa tersenyum mencibir pria itu. Ia kemudian menghubungi Aran dan menyuruh pria itu ke rumah sakit.
"Lalu bagaimana dengan hubungan kita?" Tanya Saga membuat Dita menatap sinis ke arah Saga.
"Memangnya kau pikir sekarnag hubungan kita tidak baik-baik saja?" Tanyanya.
"Baik, baik,, tapi tidak sebaik yang dulu." Ucap Saga.
"Jangan berputar-putar! Cepat katakan!" Bentak Dita dengan kekesalan nya.
Bagaimana mungkin hubungan mereka tidak sebaik dulunya?
"Aku tidak akan mengatakannya sekarang. Nanti saja di hotel." Ucap Saga mempercepat laju kendaraannya.
__ADS_1
Merrka dengan cepat tiba di hotel dan memasuki kamar mereka.
"Ahh!!!" Ucap Dita merasa lega sambil menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Ia merasa sangat lelah dengan hari ini.
Sementara Saga meletakkan tas Dita di meja kau pria itu kembali keluar dari kamar hotel.
"Mau kemana dia? Ah,, tapi aku tak perduli." Ucap Dita berguling di atas tempat tidur sembari merenggangkan punggungnya. "Nyamannya!"
Sementara Saga pergi menemui resepsionis dan mengambil bunga yang telah Ia pesan.
"Ini pesannya Tuan." Ucap Resepsionist itu.
Saga mengambilnya lalu hendak berjalan ke dalam lift, tapi ia teringat sesuatu dan kembali menghampiri resepsionis itu.
"Ada lagi yang bisa saya bantu Tuan?" Tanya sama resepsionis dengan ramah.
"Kemarilah," ucap Saga melambaikan tangannya pada resepsionis itu agar mendekatkan diri ke arah Saga.
Resepsionis itu tentu saja mengetahui siapa itu Saga, jantungnya berdegup kencang, pipinya menjadi merona karena perintah Saga.
'Apakah Tuan Saga tertarik denganku?' pikirnya.
"Cepat!" Bentak Saga saat resepsionis itu tetap terdiam membuat Saga kehilangan beberapa detik waktu berharganya.
"Ba,, baik Pak." Ucap Resepsionist itu mendekatkan diri ke arah Saga.
__ADS_1