
Lorano dan Saga sudah duduk di meja makan dengan Lorano terus tersenyum memperhatikan Saga yang berwajah ketus memandang ke arah dinding.
"Cepatlah!" Ucap Saga penuh kemarahan.
"Baru saja aku mendapat kabar kalau saham perusahaan ku tiba-tiba anjlok. Besok pagi aku akan berangkat ke luar negeri." Ucap Lorano membuat Saga langsung menoleh dengan sangat kesal pada pria itu.
"Kau pikir aku istrimu hingga kau minta izin padaku?" Tanyanya sambil menggertakkan gigi sebelum meninggalkan pria itu dengan kesal.
"Haahha...." Lorano tertawa sangat puas melihat pria itu pergi tergesa-gesa.
"Itu balasan untuk setiap malam yang kulalui dengan tidak tenang." Katanya dengan suara keras.
Sementara Saga yang berjalan ke kamarnya mendapati Dita sudah tidur. Ia mendekati perempuan itu dan mengusap rambutnya.
"Selamat tidur sayang." Katanya.
Tak berapa lama ia berada di dalam kamar, ponselnya kemudian berdering.
"Ada apa?" Tanyanya pada orang di seberang telepon.
"Kami menemukan Tetua kembali memulai sebuah rencana. Ini berkaitan dengan pernikahan Tuan yang akan digelar. Kami menunggu perintah dari Tuan."
__ADS_1
"Selesaikan dengan cepat dan pastikan Tetua tidak menerima tamu sampai pernikahanku selesai." Jawab Saga sebelum menutup telepon itu lalu ia ikut berbaring sambil memeluk istrinya.
Sementara Lorano yang selesai berbicara dengan Saga langsung pergi menemui asistennya.
"Rincikan semuanya padaku." Ucap Lorano.
"Beberapa perusahaan besar membatalkan kerjasamanya dengan kita karena suplai obat yang mereka klaim tidak sesuai dengan yang kita tawarkan. Mereka semua juga berpindah sebuah perusahaan farmasi yang baru saja didirikan.
"Saya sudah menyelidiki perusahaan itu dan perusahaan itu berada dibawah naungan perusahaan besar yang dikelola oleh Nona Senya." Jelaskan asisten membuat Lorano langsung melotot pada asistennya.
"Jadi maksudmu, Senya adalah otak dibalik semua yang terjadi?" Tanya Lorano yang merasa sangat tidak percaya dengan keberanian Senya.
"Ini belum pasti, tapi saya akan menyelidikinya lagi." Jawab sang asisten yang juga tidak percaya kalau Dita akan membiarkan bawahannya menghancurkan perusahaan adik iparnya.
Begitu tiba di sana, ia langsung sibuk mengurusi perusahaannya sebelum kembali menghubungi Dita.
"Halo Kakak Ipar," jawab Dita dari seberang telepon. Nafas perempuan itu sedikit tersengal karena aktivitas yang sedang ia lakukan bersama dengan suaminya.
"Perusahaanku hampir bangkrut karena ulah bawahanmu. Apa ini perintahmu?" Tanya Lorano dengan tegas karena ia sudah menyelidikinya dan menemukan bahwa perusahaan milik Dita yang dikelola oleh Senya memang merupakan dalang dari segala masalah di dalam perusahaannya.
Lorano masih menunggu jawaban ketika yang menjawabnya dari dalam ialah Saga. Sepertinya kedua orang itu sedang bermesraan bersama di saat Lorano menelpon Dita.
__ADS_1
"Kenapa kau selalu mengganggu kami? Urus saja urusanmu sendiri!" Bentak Saga yang sedang berada di atas Dita lalu ia mematikan panggilan itu.
"Hais!" Gerutu Lorano saat ia mendengar nada sambungan terputus.
"Pria itu akan segera mati karena terus menyiksa istri dan calon anaknya!" Gerutu Lorano sambil menggertakkan giginya.
Lorano kemudian menoleh kearah asistennya "Atur janji untuk bertemu dengan Senya, aku akan melihat bagaimana keberanian perempuan itu!" Ucapnya.
"Baik Tuan."
Lorano membiarkan asistennya pergi lalu ia duduk sendirian selama beberapa saat sampai akhirnya teleponnya kembali berdering.
Ia mengangkat panggilan dari Dita.
"Kakak Ipar, aku minta maaf soal yang tadi-"
"Tidak perlu minta maaf, dia memang pengganggu yang tidak tahu malu." Ketus Saga yang masih setia memeluk istrinya.
Dita menghela nafasnya lalu ia kembali berbicara "Kaka Ipar, tolong jangan dengarkan suamiku." Ucapnya.
"Tidak apa, Aku hanya ingin bertanya tentang perusahaanmu yang membuat perusahaan ku hampir bangkrut." Ucap Lorano mengejutkan Dita dan Saga.
__ADS_1
"Apa maksudmu kakak ipar?" Tanya Dita yang belum mendapat informasi apapun.
"Aku akan mengirimkan data-datanya sekarang," kata Lorano sebelum ia menutup teleponnya dan mengirim beberapa file berkas pada Dita.